Bayang-Bayang Petaka di SMAN 8 Mandau

Sahdan
Bayang-Bayang Petaka di SMAN 8 Mandau

lobang yang muncul setelah plafon gypsum SMAN 8 Mandau runtuh. foto. sahdan

Mandau (katakabar) - Tadi Pagi 220 siswa kelas X IPS SMA Negeri 8 Mandau di kawasan jalan Sejahtera Kelurahan Air Jamban tetap belajar di ruangan di lantai dua. 

Tapi aura yang kelihatan beda dari biasanya. Bolak balik siswa menengok ke atas, ke plafon ruangan yang menjulur lantaran sudah koyak dari posisi semestinya. 
Wajar jika rasa was-was itu tak bisa lagi disembunyikan para siswa. Runtuhnya plafon gypsum di salah satu ruangan kelas X IPS itu kemarin pagi, membikin semua penghuni ruangan cemas. Tak terkecuali mereka yang bakal belajar siang nanti.

Di lantai dua sekolah itu ada 6 ruangan belajar. Pagi dipakai oleh siswa kelas X IPS dan siangnya dipakai oleh 240 orang siswa kelas XI IPS.

Runtuhnya plafon gypsum tadi, selain lantaran  konstruksinya yang disebut-sebut asal jadi, juga ulah atap multiroof yang sudah bocor. Atap ini juga ditengarai asal jadi. Sebab, umur sekolah ini belum tua, baru 4 tahun.   
 
Ketua Komite SMAN 8 Mandau, Refri, mengaku cemas dengan keadaan sekolah itu. Dia khawatir dengan keselamatan siswa saat belajar. "Mudah-mudahan enggak ada kejadian yang tidak kita inginkan," katanya kepada katakabar.com usai menengok plafon gypsum yang rusak di ruang kelas di lantai 2 sekolah itu, pagi ini. 

Lantaran kondisi plafon yang sudah sangat  mengkhawatirkan, Refri meminta supaya manajemen sekolah segera mengecek satu per satu ruang belajar di lantai dua itu. "Biar sekolah tidak dipersalahkan jika ada kejadian yang tidak diinginkan. Ada baiknya sekalian dilibatkan ahli. Biar benar-benar ketahuan apakah ruangan itu masih layak dipakai atau tidak," pintanya. 

Yang membikin Refri dongkol, runtuhnya plafon gypsum itu justru bukan lantaran bencana alam. "Ini berarti ada yang tak beres di konstruksi bangunan. Apalagi bangunan ini belum tua, masih berumur 4 tahun. Masa di usia seperti itu kondisinya sudah kayak bangunan tua," katanya heran. 

Satu hal yang patut menjadi catatan Pemkab Bengkalis selaku pengguna uang rakyat kata Refri, apa pun jenis program dan kegiatan baik fisik dan non fisik, "Tolonglah benar-benar diawasi. Apalagi bangunan untuk tempat anak belajar. Pengawasannya harus super ketat. Buruknya kondisi sekolah ini, tidak lepas dari lemahnya pengawasan. Saya benar-benar mempertanyakan kinerja perencana dan pengawas proyek sekolah ini," katanya.

"Selagi orang baik mau bicara, maka masih baiklah semua. Tapi kalau orang baik sudah memilih diam, maka hancurlah Negeri ini," Refri mengingatkan. 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait