Masa Gemilang Di Kota Unik

R Hartono, Candra
Masa Gemilang Di Kota Unik

Pembuatan Kapal nelayan Rohil. foto. aziz

Kota ini pernah punya masa lalu yang indah. Ragam keunikan ada di sana.

Siapapun yang diajak bercerita tentang Kota Bagan Siapiapi, yang terbayang pertama kali di benak mereka adalah betapa terkenalnya kota ini di masa lampau. 

Ibukota Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) yang berjarak sekitar empat jam perjalanan arah utara Kota Pekanbaru Riau ini pernah menjadi penghasil ikan terbesar kedua di dunia setelah Norwegia. 

Kejayaan ini bermula dari tahun 1886, saat orang Tiongkok berduyun-duyun datang ke kota ini. Bahkan hingga di tahun 1950an, Bagansiapiapi masih menghasilkan ikan rata-rata 300.000 ton per tahun.   

Seabad silam, Bagan Siapiapi pernah pula menjadi penghasil kapal nelayan terbesar. Banyak daerah di Nusantara pernah merasakan kapal bikinan para tukang kapal Kota ini.

Tapi sayang, masa kejayaan itu sudah menjadi masa lalu. Masa yang sangat sulit untuk dicapai kembali. Sebab, saat ini Bagan Siapiapi hanya mampu menghasilkan ikan 70 ton per tahun. 

Itu dimulai sejak awal tahun 1970 an. Banyak yang berpendapat, itu terjadi lantaran nelayan terlambat mengikuti perkembangan teknologi alat tangkap ikan. 
Bisa jadi asumsi itu benar. Sebab saat itu kapal-kapal mesin dari berbagai negara seperti Thailand mulai merambah perairan Indonesia untuk menangkap ikan dengan pukat harimau (trawl). 

Tapi pendangkalan muara Sungai Rokan akibat pengendapan lumpur hingga pendangkalan laut mencapai 20 mil ke arah Tenggara dan 40 mil ke arah Barat Laut Bagansiapi-api, juga membikin nelayan kesulitan mencari ikan. 

Melorotnya hasil ikan itu diikuti pula oleh kandasnya produksi kapal ikan. Dari yang dulunya ada ratusan pembuat kapal, kini yang tersisa hanya sekitar 60 an. Mereka tersebar di Kecamatan Bangko dan Rimba Melintang. Bahan baku pembuatan kapal ini didatangkan dari Kabupaten Indragiri Hilir di bagian Timur Provinsi Riau. 

Meski kejayaan masa silam itu sudah terkubur. Namun sisi lain dari kisah lalu itu masih ada; ritual bakar tongkang. Ritual ini adalah tradisi nelayan keturunan Cina yang dipertahankan sejak mereka pertama kali menginjakkan kaki di bumi Bagansiapiapi.

Awalnya, para nelayan ini melarikan diri menggunakan kapal layar dari kejaran penguasa Siam. Dalam pelarian yang dipimpin Ang Mie Kui itu, mereka membawa patung Dewa Kie Ong Ya dan lima dewa lainnya. Patung-patung Dewa itu mereka bawa dari tanah leluhur mereka,  Tiongkok. 

Sebagai rasa syukur selamatnya para pelarian ini ke ’tanah harapan’, mereka kemudian membakar tongkang pada saat tanggal 15 dan 15 bulan ke lima, tahun Imlek. Atau persisnya setiap tanggal 1 Juli setiap tahunnya. Kini, ritual ini sudah menjadi agenda utama sejumlah wisatawan dari Singapura, Malaysia, Hongkong, Cina dan juga Indonesia

"Kami masih berharap kejayaan masa lalu itu bisa kembali. Paling tidak, Bagan bisa kembali menjadi penghasil utama ikan di negeri ini," Bupati Rohil, Suyatno berharap. 

Sebagai ibukota, Bagan juga punya keunikan. Di kota ini tidak ada lampu lalu lintas. Meski begitu kata Sofyan 58 tahun, seorang tukang becak yang sering mangkal di perempatan jalan Perwira-Jalan Merdeka, sangat jarang terjadi kecelakaan.

Mobil-mobil besar --- khususnya roda enam ke atas --- yang akan masuk ke Kota Bagan, tidak boleh seenaknya, seperti di kota-kota lain. 

"Kalau misalnya ada bus yang akan masuk,  harus ada izin dulu dari dinas perhubungan walau bus itu sedang mengantar tamu pemerintah. Mobil truk juga seperti itu. Ada jam-jam khusus mereka boleh masuk. Jadi tidak sembarangan," katanya.

Perlakukan terhadap mobil angkutan material juga seperti itu. Kalau mobilnya besar, material yang diangkut cukup hanya sampai batas kota saja. Nanti material itu akan diangkut oleh para tukang gerobak yang sudah ada di sana. Inilah mata pencarian bagi para kuli angkut di sana.

"Ini kami lakukan semata-mata untuk menjaga keindahan kota dan menjaga kondisi jalan. Dan juga untuk memeberikan mata pencarian bagi masyarakat kelas bawah. Alhamdulillah, sampai sekarang belum ada yang protes dengan aturan main itu," kata Suyatno. 

Masyarakat kota yang 40 persen adalah warga keturunan, masih senang dengan kendaraan sepeda. Maka, tak heran bila saban waktu, hilir mudik sepeda, akan mewarnai kota ini. 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait