Tentang Bu Kom

aziz
Tentang Bu Kom

Bupati Siak, Syamsuar, menyerahkan piagam penghargaan kepada Komaryatin sebagai guru penulis buku. foto. hms setdakab siak.

Siak (katakabar) - Kalau kebetulan Anda hunting buku di Gramedia, carilah buku yang judulnya; Semangat Menembus Langit (2010), Remaja-Remaja Tangguh (2012), Kasih Ibu (2013), dan Masih Ada Pintu Lain (2016).

Anda mungkin tidak yakin kalau buku-buku tadi adalah karangan Komaryatin, perempuan 60 tahun yang kini masih menjabat sebagai kepala SMA Negeri 2 Dayun Kabupaten Siak. 

Tak hanya di Gramedia, buku-buku itu juga jadi bacaan orang-orang di Jawa Timur. Ada yang ditaruh di perpustakaan desa dan perpustakaan umum. "Mayoritas isi buku-buku tadi pengalaman pribadi saya. Sekarang saya sedang menyelesaikan buku kelima," cerita ibu tiga anak ini kepada Humas Pemkab Siak beberapa hari lalu. 

Gara-gara buku tadi pula, Komaryatin mendapat   penghargaan dari Bupati Siak pada kategori guru penulis buku pada HUT KORPRI ke-72 dan Hari Guru Nasional (HGN) ke-16 yang digelar di halaman Kantor Bupati Siak beberapa hari lalu. 

Tak pernah terbayangkan oleh Bu Kom --- begitu dia sering dipanggil --- bakal mendapat penghargaan dan bisa pula menjadi penulis buku. 

Dan kalau diingat-ingat perihnya kehidupan, Kom tak pernah menyangka kalau tiga anaknya bakal jadi "orang" semua. 

Anak pertamanya, Media Nova. Kini menjadi Kasubdin Kelembagaan Masyarakat di Dinas Pemberdayaan Masyarakat Kabupaten kepulauan Meranti. Sedang kuliah S2 pula di Fisip Universitas Riau.

Anak keduanya, Barkun Kharisma Suko, jadi staf analis minyak bumi di Kementerian ESDM dan yang ketiga Nila Kharismatika sebagai staf Tata Usaha di Universitas Muhammadiyah Purwokerto. 

Pada 37 tahun silam, Kom hanyalah seorang guru honor di SMAN 1 Selat Panjang. Delapan tahun kemudian dia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan harus hijrah ke Siak lantaran ikut suaminya yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan kayu Panca Eka. "Tahun 1990-2006, saya mengajar di SMAN 1 Siak," katanya. 

Berpuluh tahun Kom harus sering mengencangkan ikat pinggang. Harus pandai berhemat. Sebab dengan berhemat saja kadang untuk makan sehari-hari tidak cukup. Belum lagi harus bayar sewa rumah. 

"Biar ada penghasilan tambahan, sempat saya buka warung kecil-kecilan. Tapi warung itu malah terbakar," kenang Kom. 

Kisah perjalanan hidupnya tadi, sebahagian ada di dalam buku-buku yang dia tulis itu. "Saya ingin berbagi pengalaman kepada sesama guru, orang tua dan anak-anak untuk. Bahwa dalam menjalani hidup, kita harus tetap tegar, terus berusaha untuk menjadi yang terbaik demi keluarga dan generasi bangsa," katanya.

Perempuan yang doyan kerupuk ini kemudian mengatakan begini; guru, selamanya akan tetap menjadi guru. Tapi murid, dia akan menjadi apa saja yang dia mau.  Lantaran itu, didiklah mereka menjadi generasi yang berkarakter, berakhlak serta berwawasan luas.  

Adalah bekas murid Kom bernama Tri dan Ruzita. Keduanya mengatakan begini; Kami sangat rindu dengan Bu Kom. Walau dikenal tegas dan cerewet tapi kehadirannya sangat ditunggu. Guyonan, perhatian dan kasih sayangnya enggak bisa kami lupakan. 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait