Wow, Obat Mata Sembuhkan Buta Rp11,4 Miliar

Wow, Obat Mata Sembuhkan Buta Rp11,4 Miliar

NEW YORK (katakabar) - Kabar gembira bagi penderita kebutaan. Perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Spark Therapeutics, sukses menciptakan obat yang ampuh menyembuhkan kebutaan, Luxturna. 

Sayang, harga nya sangat mahal. Dengan banderol men capai USD850.000 (Rp11,4 miliar), Luxturna menjadi preskripsi paling mahal yang per nah dijual. Obat produksi Spark Therapeutics itu diyakini mampu menyembuhkan penyakit leber congenital aumaurosis, penyakit turunan yang dapat menyebabkan kebutaan. Penyakit itu sangat langka, yakni hanya menyerang 2-3 dari 100.000 orang. 

Harga awal Luxturna ialah USD1 juta, tapi pasien kesulitan mengaksesnya. Kini obat tersebut dibanderol USD425.000 per mata. “Kami ingin menyeimbangkan antara nilai dan keterjangkauan sehingga menerapkan harga yang pas,” ujar Jeffrey Marrazzo dari Spark Therapeutics pada 3 Januari lalu, dikutip Medical Daily. 

Obat Luxturna sudah memperoleh izin edar resmi dari Administrasi Obat-obatan dan Makanan AS pada Desember tahun lalu. Kendati harganya sudah turun, sebagian besar pasien diduga tetap tidak mampu mem belinya. Mereka hanya bisa mengandalkan jasa penyedia layanan asuransi. 

Menurut Profesor Kesehatan Ekonomi dari Universitas Harvard, Meredith Rosenthal, jika perusahaan asuransi menolak mengcover, reputasi Spark akan runtuh. Untuk meredam timbulnya keprihatinan dan kritikan masyarakat mengenai biaya peng obatan, korporasi asal Philadelphia itu akan menggunakan skema dan model harga nonkonvensional dengan perusahaan asuransi. 

Sejauh ini Spark telah berhasil menggandeng per usahaan asuransi Harvard Pilgrim dalam program rabat. “Melihat harga dan struktur pembayarannya, saya pikir itu sesuai dengan yang kita lihat dalam terapi inovatif lainnya,” ujar Dr Stuart Orkin, ahli onkologi anak dari Dana- Farber Cancer Institute and Boston Children Hospital. 

“Saya memuji mereka karena skemanya lebih baik jika dibanding menagih langsung,” tambahnya. Obat yang terdiri atas salinan gen RPE65 itu di suntikkan langsung ke dalam sel retina pasien. Sel retina itu akan memproduksi protein normal yang mengubah cahaya menjadi sinyal listrik. 

Spark memakai teknik rekombinan DNA untuk memodifikasi virus adeno, sebuah wahana untuk menyalurkan gen RPE65 yang sehat. Dalam situs resminya, FDA memperingatkan efek samping penggunaan Luxturna sehingga pasien harus diawasi secara ketat dan intensif. 

Beberapa kondisi yang mungkin timbul ialah endophthalmitis, tekanan intraokular meningkat, katarak, kongjungtiva hiperemia, retina robek, mata meradang dan iritasi, dan maculopathy. Luxturna juga tidak direkomendasikan disuntikkan terhadap pasien berusia di bawah 12 bulan karena berisiko menyebabkan penipisan atau kebutaan permanen mengingat sel retinanya masih aktif. 

Obat ini dikhususkan untuk mengobati leber congenital aumaurosis. Artinya, pasien berada dalam keadaan sehat dan belum buta. “Pemberian izin edar Luxturna semakin membuka pintu terapi gen,” kata Peter Marks, kepala Pusat Riset dan Evaluasi Biologis (CBER) FDA. 

“Pasien yang menderita distrofi mutasi retina akibat biallelic RPE65 kini memiliki kesempatan untuk meningkatkan penglihatan, di mana sebelumnya harapan itu tipis,” tambahnya. 

Bisnis pengembangan dan penjualan obat-obatan menjadi industri menjanjikan. Perusahaan farmasi meraup revenue miliaran dolar di se tiap tahun, lebih besar dari pada kombinasi produk domestik bruto (PDB) 15 negara terkecil. Secara global, penjualan obat-obatan ditaksir akan melampaui USD1,3 triliun pada 2018. Bagi orang yang menderita penyakit langka, biaya pengobatan bisa selangit. 

Sejumlah perusahaan asuransi bahkan tidak mau membayar obat-obatan itu, baik secara keseluruhan ataupun sebagian. Sejak 2015 obat Glybera menyalip Soliris sebagai obat paling mahal di dunia. Tarif nya mencapai USD1,2 juta se tahun. Obatitutidakmen dapatkanizin edar di AS dan hanya ada di Eropa.

Glybera dapat menyembuhkan familial lipoprotein lipase, penyakityangmen jang kit1.200 orang di Eropa dan 1 juta orang di dunia. S

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait