Menyoal PKS PT PCR di Kelurahan Talang Mandi

Pabrik Kok Bisa Berdiri di Tengah Hunian, Siapa yang Salah?

Sahdan
Pabrik Kok Bisa Berdiri di Tengah Hunian, Siapa yang Salah?

DURI (KATAKABAR)- Pabrik Kelapa Sawit milik PT Permata Citra Rangau dinilai tak layak berdiri di Sebanga, Jalan Gajah Mada kilometer 3,5 RT 05/RW 06  Kelurahan Talang Mandi, Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis, Riau.


Pabrik yang berkapasitas 45 Ton per Jam lebih kurang setahun beropersi sudah terlalu banyak persoalan yang sangat meresahkan masyarakat lingkungan sekitar.

Limbah cair PKS tercemar ke lingkungan, polusi udara serta suara bising membuat warga sekitar sudah tak nyaman lagi menjalani hidup dan penghidupan, bukan rahasia.

Menurut Pengamat Sosial, R Amran D kepada katakabar.com tadi pagi mengatakan, menyoal banyaknya keluhan yang diderita masyarakat pasca beroperasi PKS PT PCR setahun belakangan terkesan ada pembiaran  dari pemangku kepentingan terutama "Mereka", pengambil kebijakan, investor dan manajemen Perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan sawit itu.

"Mereka" pemangku kepentingan tersebut mesti melek dan paham terhadap amanat Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang, tanggung jawab sosial.

Permasalahan yang diderita masyarakat akibat dampak polusi udara, limbah cair yang di buang ke media lingkungan sehingga mencemari lingkungan seperti, sumber air bersih warga yang tercemar jangan ada pembiaran sangat berbahaya bagi kelangsungan makhluk hidup beserta alam sekitar.

"Pihak perusahaan mesti mensosialisasikan dampak-dampak yang timbul dari beroperasinya pabrik kelapa sawit di kawasan hunian masyarakat. Limbah cair sifatnya meresap dan menyerap ke tempat rendah. Polusi udara  aroma dan bau busuk berdampak kepada kesehatan masyarakat. Perusahaan mesti memperhatikan warga yan kesehatannya terganggu akibat dampak yang ditimbulkan seperti membawa berobat ke rumah sakit serta lainnya," kata R Amran.

Sesungguhnya kata R Amran D, paling penting upaya pencegahan dampak lingkungan pasca berdiri dan beroperasinya PKS.

Andai dari awal, pemangku kepentingan melakukan sosialisasi kepada masyarakat sekitar so pasti permasalahan terkait dampak lingkungan yang timbul dari PKS milik PT PCR di kawasan hunian masyarakat Kelurahan Talang Mandi, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis tak serumit sekarang.

Sementara aktivis lingkungan dari Yayasan Riau Madani, Ahmad Jhoni, investor (Pemilik) PT PCR memperhatikan persyaratan wajib untuk dapat membangun pabrik perkebunan kelapa sawit meliputi, bahan baku yang tersedia mengingat pabrik merupakan investasi yang padat modal dan membutuhkan dana yang besar, maka sebelum pabrik direalisasikan harus diperhitungkan dengan matang terlebih dahulu. Hal ini meliputi analisa terhadap jenis kelapa sawit, kualitas tandan buah segar, usia produktif pohon, dan transportasi pengangkutan buah sawit. Semakin baik bahan baku yang dimiliki, maka semakin bagus pula kualitas dari hasil pengolahan bahan tersebut.

Pabrik juga perlu dilengkapi dengan aksesibilitas yang memadai. Khususnya keadaan geografis di daerah itu. Area perkebunan juga sebaiknya telah didukung dengan jalur pengangkutan mandiri untuk menghindari konflik dengan penduduk setempat.

Selanjutnya, tata letak layout perkebunan suatu kewajiban.Terdapat tiga hal yang wajib diperhatikan dalam pengaturan layout ini antara lain tata letak pabrik, tata letak kantor, dan tata letak perumahan. Adapun sarana prasarana untuk mendukung terpenuhinya persyaratan tersebut meliputi bangunan pabrik, pos jaga, tempat ibadah, perumahan, jembatan, loading ramp, tangki timbun CPO, laboratorium, bengkel, kolam penyediaan air, dan kolam limbah.

Pembuatan pabrik di lahan kelapa sawit harus memperhatikan faktor-faktor yang mendukung kesehatan. Hal ini mengacu pada kaidah-kaidah yang berkesinambungan terhadap lingkungan dan iklim.

Penentuan rona awal nantinya akan berpengaruh terhadap arah dan kecepatan angin, tingkat kebisingan, polusi bau kolom limbah, serta arah effluent pond.

Penelitian tentang lokasi dan topografi perkebunan kelapa sawit meliputi, jenis tanah apakah gambut atau mineral, serta tipe tanah berdasarkan satuan peta tanah. Suitable tanah baik gambut maupun mineral. Ketinggian level air tanah dari permukaan sungai.

Tingkat pemadatan dan penimbunan tanah.
 

Selain daripada syarat-syarat di atas, survei terhadap lokasi dan topografi perkebunan juga mencakup penelitian mengenai kecukupan air untuk proses produksi dan perumahan, kejernihan dan tingkat campuran air sungai, topografi, luasan area lokasi pabrik dan lingkungan pendukung, serta leveling tanah pabrik.

Hitung jarak minimal yang ideal antara lokasi pabrik dengan perumahan warga. Pemanfaatan aliran sungai juga tidak mengganggu bagi masyarakat sekitar. Selain itu, perlu dilakukan support terhadap material yang ada di sekitar perkebunan serta man power lokal.

"Terakhir, izin-izin yang harus dimiliki untuk melegalkan pembangunan pabrik di perkebunan kelapa sawit di antaranya UKL-mUPL/RKL-RPL/AMDAL, SIUP,SITU, HGB, IMB Pabrik, IMB Perumahan, Izin Gangguan HO, Izin Pembangunan Limbah Cair (IPAL), Izin Radio, Izin Land Aplikasi, Izin Mesin-mesin Pabrik, dan Izin Timbangan. Sementara itu, untuk pengadaan peralatan pabrik meliputi Housting Crane, Steriliser, BPV/Steam Separator, Boiler, Turbine uap, Motor Diesel, Penangkal Petir Listrik, dan Air Permukaan," sebutnya.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait