Lebih Dari 1000 Siswa Terancam Nganggur

Sengkarut PPDB di Mandau #1

Sahdan
Sengkarut PPDB di Mandau #1

Kepsek SMAN 8 Mandau Dimon Sapta memberikan penjelasan kepada dua ratusan orang tua murid yang anaknya tidak tertampung di sekolah itu. foto. sahdan

Duri (katakabar) - Duri. Kota padat penduduk yang terhampar di jalur lintas Utara Sumatera ini tidak hanya terkenal oleh ratusan pompa angguk minyak bumi di ladang Duri Steam Flood (DSF) yang sudah ada sejak jaman Belanda. 

Dan tidak pula terkenal oleh hancur-hancurannya pelayanan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dharma. Ibukota Kecamatan Mandau Kabupaten Bengkalis Provinsi Riau ini juga menyimpan acakadutnya (semrawutnya) penerimaan siswa baru di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) sederajat. 

SMA Negeri 1, 2, 3, 4, 7, 8 dan 9 yang tersebar di dua kecamatan --- Kecamatan Mandau yang berpenduduk sekitar 300 ribu jiwa ini kemudian dimekarkan menjadi Kecamatan Mandau dan Bathin Solapan --- sudah muntah lantaran tak mampu lagi menampung membludaknya jebolan SMP.

Tidak hanya tahun ini Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) bermasalah yang membikin tak kurang dari 1009 calon PDB terancam nganggur. Tapi persoalan semacam ini justru sudah berlangsung sejak lima tahun lalu. Anehnya, meski di saat itu saban tahun APBD Bengkalis berada di angka 3 triliunan rupiah, persoalan ini tak bisa beres.     

Dua tahun lalu, muncul aturan main baru bahwa yang mengurusi SMA sederajat tidak lagi Dinas Pendidikan kabupaten/kota, tapi sudah oleh Dinas Pendidikan Provinsi. Mendampat kabar semacam ini banyak orang menaruh harapan besar; mudah-mudahan persoalan PDB SMA sederajat beres dan tidak terulang lagi. 

Tapi sayang, mau diurus kabupaten/kota atau provinsi, ternyata sama saja. Anak-anak yang baru tamat SMP sederejat tetap saja banyak yang terancam menganggur. 

Disaat persoalan terus berkepanjangan, tahun ini aturan main baru diluncurkan lagi oleh Kementerian Pendidikan; 90 persen PDB berdasarkan zonasi demi pemerataan pendidikan yang berkeadilan. Artinya, sekolah musti memprioritaskan siswa baru yang berasal dari lingkungan sekolah. 

Walau jatah siswa yang masuk dari jalur prestasi dan reguler dirampas demi memenuhi zonasi tadi, toh tak membawa dampak yang signifikan. Lagi-lagi musababnya jumlah SMA yang ada tak bisa lagi menampung membludaknya siswa jebolan SMP yang mau masuk SMA. 

SMA yang ada tadi coba mengakali gimana caranya supaya bisa lebih banyak menampung siswa baru. Alhasil, batas penerimaan siswa baru yang tadinya berakhir 5 Juli 2018, molor. (bersambung)

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait