Masalahnya Sepele, Oknum Guru SDN Libas Siswa Pakai Penggaris Kayu

Sahdan
Masalahnya Sepele, Oknum Guru SDN Libas Siswa Pakai Penggaris Kayu

Wagiono, salah seorang orang tua murid. (Foto/Sahdan)

Bathin Solapan (katakabar) - Untuk kesekian kali, seorang guru melakukan kekerasan terhadap siswa terjadi di Kecamatan Bathin Solapan, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Masalahnya sepele, korban sebut saja Rano kelas Tiga salah satu sekolah dasar negeri gara - gara memakai sepatu di ruang kelas lepas jam pembelajaran bidang study olahrag di libas oknum guru laki laki pakai penggaris.

Peristiwa kekerasan oknum guru bidang study guru olahraga terhadap korban saat kegiatan pembelajaran di sekolah pada Kamis (2/8) pekan pertama Agustus 2018 lalu.

Dari berbagai sumber yang layak di percaya menyebutkan, peristiwa pemukulan itu berawal korban dan siswa lainnya baru selesai melaksanakan kegiatan olahraga di lapangan.

Namanya masih anak kelas Tiga SDN, buru - buru masuk ke dalam ruang kelas tanpa pakai sepatu. Korban pun memakai sepatu dalam ruang kelas tiba tiba, oknum guru olahraga melibas dan memukul siswa tersebut pakai penggaris dari kayu.

Tak pelak, setelah menerima pukulan dari oknum guru lumayan keras tangan sebelah kiri memar dan lebam.

Korban kekerasan dari oknum guru olahraga belakangan diketahui bersekolah di SDN 7 
Kecamatan Bathin Solapan tinggal bersama orang tuanya di Desa Air Kulim, Kecamatan Bathin Solapan,  Kabupaten Bengkalis.

Cerita orang tua korban kepada sejumlah awak media di Duri Selasa (14/8) kemarin sore, kejadian pemukulan diketahuinya setelah anaknya bercerita. Ayah...aku di pukul guru bidang study olahraga di sekolah.

Saya tanya, kenapa di pukul guru. Cuma gara gara pakai dan pasang sepatu dalam ruang kelas oknum guru menghampiri langsung memukul tangan sebelah kiri, ujarnya.

Saya tidak terima prilaku kasar oknum guru, tangan sebelah kiri membiru memar dan lebam.

Selah kejadian, besok hari saya datangi pihak sekolah untuk meminta keterangan atas kejadian tersebut. 

Sayang, Kepala UPT Satuan Pendidikan SDN 7 tidak ada di sekolah. Guru bidang kesiswaan sekolah yang menerima dan Kepala tidak di tempat.

Saya ke sekolah meminta klarifikasi dari pihak SDN 7 tidak sendirian bersama 5 orang tua wali murid lainnya mengaku anak anaknya mendapat kekerasan dan pemukulan oknum guru bidang study olahraga tadi, kata Wagiono rada kesal dan kecewa.

Kata Wagiono, sambil menunggu Kepala UPT Satuan Pendidikan SDN 7 tiba di sekolah. Para orang tua yang anak anaknya yang jadi korban pemukulan di mediasi Bhabinkabtibmas setempat meminta kepada pihak sekolah agar oknum guru yang melakukan kekerasan tidak datang ke sekolah.

Tapi, oknum guru tetap datang pada Sabtu (4/8) Dua hari setelah kejadian pemukulan tersebut.

Tidak sampai di situ, kami orang tua kembali mendatangi sekolah pada Senin (6/8) Kepala UPT Satuan Pendidikan SDN 7 tak masuk sekolah. 

Besoknya, kami datangi lagi pihak sekolah didampingi sejumlah awak media. Pihak sekolah justru menuding para orang tua menjelekkan nama sekolah.

Puncaknya ujar Wagiono, pertemuan antara para orang tua dan pihak sekolah di gelar pada Senin (13/8) lalu.

Dalam mediasi itu, para orang tua meminta oknum guru meminta maaf dan berhenti mengajar di sekolah.

Namun pihak sekolah menolak, guru boleh tidak mengajar syaratnya 8 orang siswa yang korban berhenti sekolah.

Siswa tetap bersekolah dengan catatan guru tetap bekerja di sekolah mesti tidak mengajar.

Merasa ditekan pihak sekolah, beberapa orang tua wali murid keberatan dan menolak. Sebagian orang tua wali murid mengancam bakal memindahkan anak anak ke sekolah lain.

"Kami para orang tua hingga kini belum memindahkan anak anak ke sekolah lain harapannya oknum guru bisa di beri sanksi biar mendapat pembelajaran efek jera sehingga tidak mengulangi tindak kekerasan kepada siswa", tandasnya.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :