Penting! Pengawasan Medsos Terhadap Anak

Sahdan
Penting! Pengawasan Medsos Terhadap Anak

Katakabar - Sebagai orang tua, terkadang tenggelam dalam raga kesibukan baik bekerja begitu pula berumah tangga. Alasan itu kebanyakan paling logis diutarakan oleh orang tua. Bisa jadi sekedar modus guna mengalahkan pendapat yang menyudutkan tentang, penyalahan atas kealfaan anak-anak.

Tapi, mau tidak mau dan suka tidak suka sebenarnya orang tua mesti menjadi seorang pengayom, walau  banyak belum ataubtidak siap untuk mengayomi. 

Orang tua wajibkan untuk menjadi teladan bagi anak- anak dan memang butuh seorang figur teladan. 

Lihat, dunia moderen anak-anak. Kini telah banyak terpasung dan tertambat pada sesosok facebook kesayangannya. Ingat, jangan merasa damai dulu saat anak anak terlihat alim dirumah, atau betah berdiam diri di dalam kamar. 

Siapa tahu mereka sedang asyik berchatting ria dengan seseorang yang bukan mahramnya.

Hal ini yang wajib diketahui oleh para orang tua di zaman now. Dari situ, banyak hal yang bisa menggeser kedudukan orang tua sebagai sahabat, sekaligus pendidik bagi anak-anak mereka. 

Orang tua harus banyak menyediakan waktu dan musti siap- siap untuk terkejut saat mereka mengecek facebook anak- anak mereka. 

"Lihat bagaimana cara mereka berpikir, siapa idola mereka, dan apa kesukaan mereka. Semua itu tertuang jelas dalam facebook mereka".

Ternyata, mereka banyak menyukai yang justru kita benci. Mereka mengakrabi hal-hal yang justru terlarang dalam Islam. Itu semua tergambar dan terpapar jelas dalam facebook mereka. 

Dilansir dari Laman Muslim Ummah, anak- anak kini lebih suka menggandeng tangan temannya untuk berbagi dari pada memeluk ayah ibunya saat ingin berkeluh kesah. 

Mereka lebih asyik berkoar di facebook tentang uneg- uneg dari pada membicarakannya dengan orang tua. 

Itu sebabnya, sempatkan walau sejenak untuk menengok catatan yang ada dalam facebook anak- anak. 

Hai para orang tua, anak- anak ternyata telah dewasa. Boleh jadi mungkin mereka belum dewasa tapi dipaksa untuk dewasa karena disuguhi sederet pola pikir dan lingkungan yang mengkarbit mereka untuk menjadi dewasa. 

Sekolah mereka pun kini hanya banyak menyentuh fisik mereka tetapi bukan jiwanya. Bukan berarti kurikulum itu gagal total, namun pengaruh lingkungan mereka lebih kuat. Ditambah lagi tontonan TV mereka dirasa lebih menyenangkan.

Konsep itu melekat kuat dalam pikiran mereka, menyita seluruh waktu dan hati mereka. Lalu lihatlah betapa banyak anak- anak yang disekolah berjilbab dan berpakaian rapi, namun ketika mereka pulang, pakaian semacam rok minipun masih mereka kenakan. Mereka bisa menjerit histeris ketika bercerita tentang Justin bieber dan bahkan tidak pernah mendengar tentang salah satu sahabat Rasulullah SAW. 

Anak- anak manis kita itu bahkan tidak sungkan berbagi cerita dengan banyak orang tentang pacar-pacar mereka, dan bahkan tidak malu mengucapkan kata- kata manis untuk seseorang yang bukan mahramnya.

Lalu bagaimana dengan kita? masihkah kita hanya menjadi penonton tingkah laku mereka ini? haruskan kita menyerah dengan kualitas penerus kita yang seperti ini?. Inilah PR besar buat kita, dan bukan setumpuk pekerjaan yang menanti di kantor. Inilah sejatinya tanggung jawab kita yang seharusnya terselesaikan pertama kali, dari pada sepaket ego pribadi kita. Semoga semua ini menjadi pengingat bagi kita semua, terutama bagi kita mungkin lupa untuk berorientasi kepada keluarga sebagai yang pertama. 

Sebelum kita akhiri semoga firman Allah SWT ini menjadi pengingat bagi kita semua. “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.” QS. An-Nisaa’, 4: 9.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :