Kisruh Proyek APBD Bengkalis Rp 2 Miliar di Kawasan Tegar

Sahdan
Kisruh Proyek APBD Bengkalis Rp 2 Miliar di Kawasan Tegar

Mandau (katakabar) - Masyarakat yang berada di kawasan RT 02, RW 12, Tegar berkisar belasan kilometer jauhnya dari pusat Duri, Kelurahan Pematang Pudu, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis protes dan mendatangi kantor kelurahan yang terletak di Jalan Aman Duri Senin (10/12) pagi tadi.

Pemuka dan tokoh masyarakat setempat berjumlah kurang lebih 20 orang mempertanyakan proyek pengerasan jalan yang dibiayai dari APBD Kabupaten Bengkalis Tahun Anggaran 2018 sebesar Rp 2 Miliar menduga dialihkan dari satu lokasi ke lokasi yang lain.

Masyarakat tahunya proyek pengerasan jalan untuk Jalan Ambalat tiba tiba, dipindahkan dan dialihkan pembangunannya ke Jalan Kelompok Tani di kawasan simpang Peta RT 03, RW 17 berkisar Sepuluh Kilometer jaraknya dari Jalan Ambalat.

Menurut Ketua RT 02, RW 12 Kelurahan Pematang Pudu, Henri Wilson Tambunan kepada sejumlah awak media lokal di kantor kelurahan Pematang Pudu siang tadi, berawal dari usulan masyarakat RT 02, RW 12 pembangunan Jalan Gereja di Musrenbang sekitar Dua Tahun silam.

Selanjutnya, dilakukan survei ke lapangan oleh pihak berwenang yang berkaitan dengan proyek jalan. Setelah di survei, pembangunan Jalan Gereja tidak layak dan tidak masuk kriteria ke dalam APBD Kabupaten Bengkalis karena proyek yang dibiayai APBD sejatinya Jalan Poros penghubung kawasan Dusun yang satu ke Dusun yang lain atau Jalan Poros penghubung kawasan dusun ke kelurahan.

Singkatnya, pemuka masyarakat mengarahkan survei ke Jalan Ambalat kurang lebih 4 kilometer panjangnya merupakan penghubung ke Dusun Talang Pancah di survei. 

Dari situ bermula kisruh proyek pengerasan jalan, setelah belakangan masyarakat tahu pengerjaan pengerasan Jalan dilaksanakan di Jalan Kelompok Tani di kawasan simpang Peta masih di wilayah Kelurahan Pematang Pudu.

Dalam Buku Lintang tercatatbproyek pengerasan jalan bernama peningkatan jalan di Tegar sepanjang 2,5 Meter sebesar Rp 2 Miliar.

"Masyarakat mempertanyakan dan meminta penjelasan, kalau memang proyek untuk Jalan Ambalat ya pengerjaan proyek mesti dilaksanakan di Jalan tersebut berdasarkan hasil survei dengan pihak terkait".

Salah seorang pemuka masyarakat sempat mempertanyakan kepada Konsultan proyek terkait dugaan pengalihan proyek dan tidak ada berita acaranya. Sementara, hasil survei antara pemuka masyarakat dan pihak terkait dilakukan pada Tahun 2018 di Jalan Ambalat.

Itu  sebabnya, harapan masyarakat proyek pengerasan jalan mesti dikerjakan berdasarkan hasil survei. Pembangunan Jalan Ambalat sangat didambakan masyarakat mengingat kondisinya rusak berat sepanjang 3 kilometer saat ini.

Terkait itu, masyarakat sudah menyurati pihak kelurahan. Lurah bilang proyek di bagi Dua tapi masyarakat belum sepakat atas tawaran itu, kata Henri Wilson Tambunan.

Menyikapi hal itu, Lurah Pematang Pudu, Fitrianita Eka Putri kepada katakabar.com mengatakan, diminta pengertian dari masyarakat biar aspirasi terpenuhi sehingga tidak kecewa dan pengerjaan proyek pengaspalan jalan tidak terganggu dan tidak terkendala.

Solusinya, proyek pengerasan jalan panjangnya 2,5 kilometer sebaiknya Dua jalan sama sama di bangun caranya di bagi Dua.

Dalam Buku Lintang, proyek pengerasan jalan bernama peningkatan jalan di Tegar, kelurahan Pematang Pudu eloknya dua jalan berbeda sama sama di bangun.

Nah, pada saat konsultan turun ke lapangan survei tidak hanya Jalan Ambalat tapi ada beberapa jalan di kawasan Tegar yang dilakukan survei. 

Untuk itu diminta pengertian dari masyarakat biar aspirasi terpenuhi dan pembangunan tidak terkendala, sebutnya lagi.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :