Menikmati Jasa Prostitusi Semakin Mudah bagi Lelaki Hidung Belang

Menikmati Jasa Prostitusi Semakin Mudah bagi Lelaki Hidung Belang

Katakabar.com - Saat malam menjelang, di sela rintik hujan deras yang sempat mengguyur Surabaya selepas magrib, deretan wisma yang gelap dan terkunci rapat terasa hening di eks lokalisasi Dolly.

Sesekali, di ujung gang muncul dua pria yang mengenakan jaket untuk menawarkan jasa para PSK.Mereka memang tak lagi bergerombol seperti dulu yang di tiap depan wisma menawarkan para PSK. Kini dalam operasi senyap itu mereka duduk santai sembari bercanda dengan temannya yang lain.


“Ada yang cantik, tarif masih pakai yang lama,” kata seorang pria yang memakai jaket tebal dengan topi hitam kepada pengendara sepeda motor yang melintas. Tawaran itu tak digubris oleh para pengguna jalan yang masih sepi ketika pukul 22.00 WIB.

Ia pun tak putus asa. Kursi plastik yang ada tepat di depan kaca wisma kembali diduduki. Dengan sabar dan awas, ia terus memandang ke tiap pengendara yang melintas. Baru jelang pukul 23.00 WIB ada seorang pengguna sepeda motor yang berhenti di depannya.

Percakapan dimulai dengan aksi saling tawar. Diskusi antarkeduanya mulai terlihat renyah ketika sudah ada kesepakatan harga. Si calo kini mulai sibuk memainkan tombol ponsel. Sementara pria hidung belang tetap duduk di atas motor sambil menunggu perintah dari si calo.

“Ikuti saja sepedaku, nanti langsung ketemu,” ujarnya kepada lelaki hidung belang yang mengendarai sepeda motor dengan plat nomor luar Surabaya. Mereka berdua mengendarai sepeda motornya masing-masing. Kendaraan itu dipacu dengan kencang ke arah Dukuh Pakis.

Tepat di gang VI, di bawah pohon mangga yang rindang, dua perempuan dengan pakaian ketat sudah menunggu. Satu perempuan masih terlihat muda, sementara satunya lagi sudah paruh baya. Setelah diperlihatkan, lelaki hidung belang menyatakan ketertarikan.

Sejumlah uang langsung diberikan pada mucikari yang kini selalu menemani anak buahnya. Dengan mengendarai sepeda motor, mereka berempat langsung mencari hotel melati yang berada di dekat Pasar Kembang. PSK dan mucikari dibonceng oleh si calo yang kini berubah fungsi menjadi tukang ojek.

Sementara pria hidung belang berangkat lebih dulu untuk mem-booking kamar. Setelah sampai di hotel, mucikari dan tukang ojek menunggu di luar. Sementara PSK yang dipesan langsung masuk ke kamar hotel yang sudah disewa oleh pria hidung belang.

Selain menjaring para pelanggan dari pinggir jalan, berjualan lewat media sosial juga menjadi ladang renyah bagi para mucikari. Mereka memiliki grup di jejaring sosial Facebook, Instagram, maupun WhatsApp.

Mereka pun berhati-hati dalam menawarkan, termasuk pada anggota baru yang belum jelas identitasnya. Fenny, salah satu PSK, menuturkan, orang yang terjaring di media sosial merupakan pelanggan baru. Makanya ketika awal berkomunikasi belum bisa langsung booking.

Biasanya diawali dengan percakapan erotis atau sekadar menjadi teman ngobrol via telepon di malam hari. Setelah benarbenar yakin, maka transaksi seksual bisa dilakukan. “Sering juga kok dilakukan di hotel bintang empat.

Tergantung pelanggannya sih. Kalau hotel bintang empat enak, tak takut kalau ada razia atau kejadian yang tak menyenangkan,” katanya. Selama dua periode memerintah di Kota Pahlawan, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini berhasil menutup semua lokalisasi legendaris yang ada di Surabaya.

Ribuan pekerja seks komersial (PSK) dan para mucikari dialihkan profesinya sebagai pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Penutupan lokalisasi seperi Dolly, Moro seneng, Dupak Bangunrejo, dan Tambak Asri tak sepenuhnya menutup ceruk praktik prostitusi di Surabaya.

Ada PSK yang sudah bisa beralih profesi menjadi pelaku UKM, namun banyak juga yang tetap beroperasi di luar, dari kendali transaksi online yang membuka jasa di beberapa hotel di Surabaya. Lokalisasi Dolly masih menjadi pandora untuk melihat jejak prostitusi di Surabaya.

Lokalisasi yang terkenal besar di Asia Tenggara ini memang sudah ditutup secara resmi sejak 2014. Namun, transaksi seksual masih terlihat, tentu dengan jalan senyap yang dilakukan para calo. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menuturkan, pihaknya terus melakukan operasi yustisi yang dilakukan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Surabaya.

Upaya pencegahan ini dilakukan untuk menghindari ada praktik prostitusi serta keterlibatan anak-anak di dalamnya. Satpol PP sebelumnya juga menangkap tiga anak yang kedapatan mabuk minuman keras di kawasan Banyuurip yang lokasinya dekat dengan eks Dolly.

Risma pun langsung mendatangi Kantor Satpol PP sambil memberikan wejangan pada anakanak yang terjaring. Wali kota perempuan pertama di Surabaya ini bercerita ketika hendak menutup kawasan eks lokalisasi Dolly, pemkot mendata ada 6.000 wanita tunasusila di kawasan eks lokalisasi Dolly.

Mulai 2012, mereka diberi pelatihan tergantung permintaan mereka masing-masing, ada yang diberi pelatihan menjahit, handycraft , dan kuliner. “Baru setelah dua tahun, tepatnya tahun 2014, kami melakukan penutupan, mereka sudah siap dengan skill yang dimiliki,” katanya.

Di Bandung, Saritem, sebelum resmi ditutup pada 2007, lokalisasi di kawasan Gardujati, Kota Bandung ini menjadi surga bagi para pria hidung belang sejak zaman penjajahan Belanda. Dulu, tiap malam selalu ramai pengunjung baik pria dari Kota Bandung maupun luar kota.

Bahkan tak sedikit pria mancanegara mencari kesenangan di sini.Namun, kini Saritem telah berubah total. Di eks lokalisasi tersebut berdiri Pondok Pesantren At- Taubah. Pemkot Bandung pun menutup paksa dan menghentikan aktivitas transaksi seks di tempat itu.

Aktivitas prostitusi sempat kembali berjalan pada 2015. Namun, setelah Pemkot dan Polrestabes Bandung melakukan tindakan tegas pada 20 Mei 2015, aktivitas prostitusi di Saritem pun benarbenar padam.

Lantas, ke mana para pekerja seks komersial (PSK) yang dulu menghuni Saritem? Selain sebagian kecil kembali ke rumah masing-masing dan menekuni profesi lain setelah menjalani rehabilitasi di Panti Rehabilitasi Sosial Karya Wanita Lido, Kota Sukabumi dan Palimanan, Kabupaten Cirebon.

Sedangkan sebagian lagi ada yang menjajakan dir i di jalan seperti di sepanjang Jalan Otto Iskandar - di na ta dan Stasiun Timur. Namun, tak sedikit pula yang pindah ke daerah atau provinsi lain. Kabar menyebutkan, para PSK eks Saritem tak sedikit yang hijrah ke Kalimantan dan Papua.

Dengan fakta itu, artinya prostitusi tak hilang begitu saja setelah lokalisasi ditutup. Justru kini praktik prostitusi semakin luas hingga merambah secara sembunyi-sembunyi ke tengah permukiman warga. Satpol PP Kota Bandung kerap melakukan razia tempat kos, losmen, hotel melati, dan panti pijat.

Tak jarang petugas mendapati pasangan bukan suamiistri berbuat asusila di tempat-tempat seperti itu. Yang perempuan merupakan PSK. Kemudian, di era digital saat ini, praktik prostitusi juga merambah media sosial sebagai alat bagi PSK mendapatkan konsumen.

Seperti yang diungkap Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Bandung pada Minggu (6/1/2019). Mucikari menjajakan para pekerja seks komersial (PSK) melalui grup media sosial (medsos) Twitter, WhatsApp, dan Wichat.

Empat perempuan, yakni IA, 51, NA, 33, SR, 22, dan FI, 21, diamankan dari sebuah apartemen dan hotel di Kota Bandung. Setelah melakukan pemeriksaan intensif, penyidik menetapkan IA dan NA sebagai tersangka. Dua perempuan itu diduga sebagai admin grup medsos prostitusi dan mucikari.

Sedangkan SR dan FI, yang diduga PSK, hanya saksi. Sampai saat ini penyidik Satreskrim Polrestabes Bandung melakukan penyidikan secara intensif untuk membongkar jaringan prostitusi online melalui medsos ini.

Tarif para PSK yang dijajakan melalui medsos itu mencapai Rp5 juta sekali kencan. Yang mencengangkan, informasi menyebutkan salah satu perempuan muda yang dijual kepria hidung belang oleh mucikari adalah mahasiswi di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Kota Bandung.

Namun, soal informasi itu, Kasat Reskrim Polrestabes Bandung AKBP Mochamad Rifai tak bersedia memberi konfirmasi. “Belum-belum. Kasus ini masih kami dalami dan kembangkan,” tutur Kasatreskrim.

Pakar sosiologi pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Elly Malihah mengatakan, salah satu penyebab munculnya prostitusi adalah karena “profesi” itu cara mudah untuk mencari uang.

“Apalagi di zaman kini yang serbahedon, godaan untuk mencari uang dengan cara terjun ke dunia prostitusi semakin besar,” kata Elly, Sabtu (12/1/2019).

Menurut Elly, media sosial, selain digunakan untuk mencari pertemanan dan berkomunikasi, juga dimanfaatkan oleh para PSK untuk menjajakan diri. “Media sosial menjadi alat untuk memuluskan praktik prostitusi semakin masif dan eksklusif sebab media sosial bisa bersifat privat,” ujar Elly.

Elly menuturkan, melalui media sosial semua orang mudah terkoneksi dengan siapa pun dan belahan dunia mana pun. Media sosial juga terkoneksi dengan transportasi, hotel, perbankan, dan lain-lain. Akibatnya, jaringan bisnis asusila itu pun lebih luas dibanding di dunia nyata.

 

“Berbagai fasilitas ini melanggengkan praktik prostitusi,” tutur Elly.Asap mengepul dari bibir pria berpenampilan perlente dengan jaket bomber berbahan kulit. “Panggil saja Mulya,” ujarnya dengan nada dingin.

Meski mengaku bukan berprofesi sebagai mucikari, namun lelaki berumur 36 tahun itu memiliki puluhan “koleksi” model wanita. “Saya scout talent, di modelling jadi bukan mucikari,” tegasnya. Meskipun demikian, Mulya mengaku ada anak didiknya yang bisa menemani kliennya di luar pekerjaan resminya sebagai model.

“Biasanya mereka mo - del untuk produk. Kalau ada yang minta macemmacem , saya tanya dulu modelnya, mau apa enggak,” ungkapnya. Jika mau, lanjut dia, dirinya mematok tarif Rp5 juta hingga Rp10 juta per 3 jam. “Dibayar di depan, saya yang antar ke tempat pertemuan dan saya yang jemput,” ujarnya.

Hal itu sengaja dilakukan untuk menjaga keamanan sang model. Meskipun demikian, Mulya mengaku tak membuka akses ke semua orang. “Hanya yang kenal saja atau teman dari yang sudah pernah menggunakan jasa,” tuturnya. Mulya memiliki akun Instagram yang dijadikan etalase bagi para model nya.

”Sekarang deactive dulu karena suasananya masih tidak kon dusif,” ujarnya. Mulya mengaku, banyak klien yang menggunakan jasa modelnya kemudian tertarik untuk meminta jasa lebih. Dia bercerita pernah ada rombongan dari daerah yang minta hingga 10 orang model.

Mereka, lanjut Mulya, ingin melihat lang sung para model “binaan” Mulya. “Karena jumlah yang diminta banyak, saya gelar party di klub. Jadi mereka tinggal pilih aja , lalu saya antar ke tempat mereka menginap,” tuturnya. Mulya mengaku, melibatkan banyak te man nya jika ada permintaan dalam jumlah banyak. “

Karena tidak mungkin saya antar satu persatu lalu saya jemput,” ucapnya. Mulya mengaku tak pernah berurusan degan kalangan artis ternama. Meski dirinya tahu ada beberapa yang memang bisa diajak jalan.

“Biasanya sih mereka artis lebih memilih berhubungan agak serius, enggak sekadar semaleman aja ,” tuturnya. Sebab, lanjut dia, dengan berhubungan agak serius, dari sisi materi dan finansial lebih menjamin. “Kan dapatnya bisa lebih banyak,” kelakarnya.

Terkait dengan penangkapan salah satu artis di Surabaya dengan tarif Rp80 juta, Mulya mengaku tak percaya. “Saya gak percaya segitu . Kemahalan, model di klub saya banyak yang lebih cantik. Kalo sekadar buat heboh-heboh saja sih ya gak tau juga,” ujarnya tertawa lebar.

Heru, 40, salah satu pelanggan Mulya, mengatakan, dirinya beberapa kali menggunakan jasa model-model binaanMulya. “Hanya Rp7 juta- Rp10 juta, mereka ini penampilannya sudah sekaliber artis,” ujarnya sembari menunjukkan foto beberapa model yang pernah menemaninya.

Heru mengungkapkan, dirinya juga pernah meng gunakan jasa untuk artis-artis pemula atau artis-artis figuran. “Tapi, harus hati-hati sih . Karena gak semua artis pemula mau, bisa-bisa kita yang kena masalah karena dianggap melecehkan,” paparnya.

Heru yang pernah bekerja di sebuah perusahaan apparel internasional itu mengatakan, untuk bisa bercengkerama dengan model atau artis dibutuhkan dana besar. “Tapi kalo Rp80 juta seperti yang di Surabaya itu, over price-lah. Markup-nya kegedean,” katanya terkekeh.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :