Teriakan Gema Bulan Pasa Dari Kota Minyak, Duri

Prabowo..., Presiden, Sandiaga Salahudin Uno..., Wakil Presiden

Sahdan
Prabowo..., Presiden, Sandiaga Salahudin Uno..., Wakil Presiden

Duri (katakabar) - Ahad (10/2) sekitar pukul 14.30 WIB, sore tadi, teriakan menggema dari aula pertemuan lantai dasar hotel grand zuri, Jalan Hang Tuah, Kota Minyak nama lain daerah Duri yang berada di Jalur Lintas Sumatera, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Prabowo..., Presiden, Sandiaga Uno..., Wakil Presiden teriakan ini membuat merinding siapa saja yang mendengar. Beruntung, aula pertemuan punya peredam suara. Kalau tidak, tamu tamu hotel berbintang bakal keluar dari kamar lantaran kaget dan terkejut serta penasaran mendengar suara yang menggelora.

Spanduk berukuran sedang bertuliskan, "Gema Bulan Pasa, Deglarasi dan silaturahmi masyarakat bulan Prabowo - Sandi Kabupaten Bengkalis" terbentang menempel di dinding podium.

Sementara, Infokus menpertontonkan narasi deglarasi dan gambar para caleg Bulan Bintang yang bakal bertarung di Pileg April 2019 nanti.

"Komitmen kader kader Partai Bulan Bintang mendukung Paslon Presiden PAS sudah bulat dan tak perlu diragukan", kata Panitia Tim, Afrianto, caleg DPRD dari PBB Nomor urut 10 dapil 4 Kabupaten Bengkalis, Kecamatan Mandau.

Caleg lain yang hadir, Mansyur Ginting, Samsul, Rahmayani, Hj Rasimah Z dan Ketua DPW Relawan Padi, Sri Hartono beserta lainnya manggut manggut tanda setuju.

Dilanjutkan Afrianto, Gema Bulan Pasa Kabupaten Bengkalis bermula dari argumentasi sosial. Perjalanan Gema Bulan Pasa Kabupaten Bengkalis, Plus Minus bak bergandengan tangan, ilustrasi dan fiksi seakan jadi trending, fokus penglihatan pada sebuah sistim ketatanegaraan yang mengakomodir seluruh kepentingan masyarakat.

Langsung, umun bebas dan rahasia jadi jargon pemilu. Tapi kebebasan menyatkan pendapat memberikan ruang untuj bereksistensi olah pikir sebagai masyarakat.

Dinamika terkadang terasa dingin menyejukkan, situasi panas tak dapat dihindari. Ini salah satu motivasi kami bahwa, perbedaan pendapat harus disatukan dengan cara memandang perbedaan itu sebagai kodrat ciptaan Ilahi.

Dialegmatika, perang stetment sahut menyahut baik positif dan negatif mengemuka di tengah masyarakat, endingnya agar dapat menentukan pilihan.

Masih Afrianto, kemajemukan jadi dasar langkah yang membuat kita terlihat besar. Ini berkaitan dengan perbedaan baik agama, suku dan budaya. Kecerdasan kita yang memitigasi untuk menghindari dan mencegah perpecahan. Bersambung...

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :