Dinkes Bengkalis Hentikan Survaielans Cacar Monyet

Sahdan
Dinkes Bengkalis Hentikan Survaielans Cacar Monyet

Bengkalis (katakabar) – Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis secara resmi menghentikan survaielans cacar monyet yang sempat merebak di Pulau Seberang, Bengkalis.

Survaielans cacar monyet resmi dihentikan di pintu masuk pelabuhan menyusul tidak ada lagi indikasi penyakit Cacar Monyet (Monkeypox) masuk ke Bengkalis. 
“Sejak beberapa hari ini, kita telah melakukan pemantauan di pintu masuk. Hasilnya tidak ditemukan indikasi penyakit Cacar Monyet masuk ke Bengkalis. Kita langsung menghentikan surveilans di pelabuhan", kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis, dr Ersan Saputra TH yang diteruskan Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Alwizar, SKM kemarin.

Kata Alwizar, penghentian pengawasan terhadap penyakit Cacar  Monyet ini, antara lain didasari indikasi, bahwa tidak adanya peningkatan jumlah penderita di Singapura dan tidak ada masyarakat Batam sebagai buffer area dari Singapura yang tertular Monkeypox.

Dari laporan surveilans aktif oleh seluruh Puskesmas tidak ada pasien yang menunjukkan gejala Monkeypox,” sambung Alwizar.

Dilanjutkan pria yang akrab disapa Awi, sejak tersebar berita penularan penyakit Cacar Monyet di Singapura, Dinas Kesehatan Bengkalis bersama instansi terkait langsung melakukan pengawasan ketat.

Pihak pihak yang terlibat dalam pengawasan itu, Kantor Kesehatan Pelabuhan Wilayah Kerja (KKP Wiker) Bengkalis dan Sungai Pakning, pihak Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP), UPT Puskesmas serta pihak terkait
Dari informasi yang disampaikan oleh Ministry Of Health Singapura (Menteri Kesehatan Singapura, red) tidak ada peningkatan jumlah penderita Monkeypox dari jumlah awal yang terpapar sebanyak 23 orang.

Hal ini disebabkan karena pemerintah Singapura melakukan tindakan karantina (isolasi) yang sangat ketat terhadap 23 penderita tersebut, sehingga penularan kepada yang lain menjadi terputus.

Pada saat kejadian, Pemerintah Kota Batam langsung mengaktifkan alat pemindai suhu tubuh (thermo scanner) di pelabuhan dan juga bandara Sekupang. Demikian juga bandara Sultan Syarif Qasim Pekanbaru.
“Alat tersebut memang wajib ada di Pelabuhan dan Bandara berskala internasional, karena jika terjadi wabah penyakit menular di negara asal penumpang, maka thermo scanner ini menadi alat deteksi dini kepada penumpang, apakah terinfeksi penyakit menular di negara asal nya atau tidak".

Sementara itu, berdasarkan infromasi dari KKP Wiker Bengkalis thermo scaner di pelabuhan internasional Bandar Sri Seta Raja di Selatbaru mengalami kerusakan. Terkait dengan hal itu, Dinas Kesehatan akan koordinasi lebih lanjut dengan KKP Kelas III Dumai, agar alat tersebut segera diperbaiki.
 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :