Demi Kapasitas Bidan, Dinkes Bengkalis Taja Sosialisasi Aplikasi MDN

Demi Kapasitas Bidan, Dinkes Bengkalis Taja Sosialisasi Aplikasi MDN

Bengkalis (katakabar) – Dua hari lalu, bertempat di salah satu Wisma di Pulau Seberang, Bengkalis Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis menggelar pertemuan dengan Tiga Puluh Enam Bidan Koordinator dan Bidan Puskesmas. 

Pertemuan itu, demi peningkatan kapasitas bagi tenaga bidan guna peningkatan kualitas pelayanan terutama dalam hal deteksi hipotiroid kongenital (HK). 

Kepala Dinaa Kesehatan Kabupaten Bengkalis, dr Ersan Saputra TH lewat Kepala Bidanh Kesehatan Masyarakat, Eji Marlina membenarkan pertemuan itu. 

"Benar, pada Kamis (26/9) lalu ada pertemuan Diskes Bengkalis dengan Tiga Puluh Enam orang terdiri Bidan Kooedinator san Bidan Puskesmas membahas soal deteksi hipotiroid kongenital dan sosialisasi aplikasi maternal deat nofication (MDN)", ujar Eji Marlina.

Kata Marlina, Sekretaris Dinas Kesehatan Bengkalis, Hari Pratikno yang buka kegiatan menghadirkan fasilitator dr Neng Kasmiati Mh, Rita Gustina SKM, Silvia Meilani SKM dari Dinas kesehatan Provinsi Riau dan dokter spesialis anak RSUD Bengkalis dr Madya Ulfa Danial SpA M Kes.

Pengurus Tim Penggerak PKK Kabupaten Bengkalis, Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Bengkalis, jajaran di lingkup Diskes Kabupaten Bengkalis hadir.

Hipotiroid kongentitas ujar Marlina, gangguan fungsi kelenjar tiroid yang memengaruhi bayi sejak lahir. Gangguan ini mempengaruhi produksi hormon tiroksin yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan, perkembangan otak dan metabolisme tubuh. 

"Anak perempuan lebih berisiko tinggi mengalami kelainan Hipotiroid Kongentitas".

Jika HK tidak tertangani secara dini pada bayi baru lahir,  berdampak serius pada masalah sosial anak. Anak tidak mampu beradaptasi di sekolah formal dan menimbulkan beban ganda bagi keluarga dalam pengasuhannya. Bahkan negara akan mengalami kerugian dengan berkurangnya jumlah dan kualitas SDM pembangunan 

Untuk itu, penting sekali dilakukan upaya skrining hipotiroid kangenital (SHK) pada semua bayi baru lahir agar dapat dideteksi sedini mungkin dan dapat dilakukan pengobatan secepatnya pada bayi dengan positif HK, tegasnya.

Nah, untuk menyediakan pelayanan SHK dengan sasaran semua bayi baru lahir di Kabupaten Bengkalis yang terjangkau seluruh lapisan masyarakat, perlu peningkatan kapasitas bidan. Khususnya bidang pengambilan sampel SHK untuk meningkatkan derajat kesehatan ibu dan bayi sehingga menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian neonatal.

Sekedar diketahui, jumlah kematian ibu di Kabupten Bengkalis pada Tahun 2017 sebanyak 13 jiwa. Ini disebabkan pendarahan 7 kasus, gangguan sistem peredaran darah 1 kasus, gangguan metabolik 1 kasus dan penyebab lain 4 kasus. 

Pada Tahun 2018, jumlah kematian ibu berkurang cuma1 kasus dari Tahun 2017 sebanyak 12 kasus. Penyebabnya sama, terjadinya pendarahan 3 kasus, eklamsia 4 kasus dan penyebab lainnya 5 kasus.

Di Tahun 2019, dari Bulan Januari hingga bulan September 2019, angka kematian ibu sudah 8 kasus yang disebabkan, dengan pendarahan 2 kasus, eklamsia 3 kasus, gangguan sitem peredaran darah 1 kasus dan penyebab lainnya 1 kasus.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait