Menurun, Ekspor Sapu Lidi ke Manca Negara

Menurun, Ekspor Sapu Lidi ke Manca Negara

Labuhan Batu Utara (katakabar) - Ekspor sapu lidi ke manca negara mengalami penurunan pada Tahun ini sebab, dari Bulan September 2019 tercatat baru 189 kali sertifikasi totalnya 15,1 Ribu Ton sebesar Rp 300,6 Miliar, di banding pada 2018 lalu, mencapai 297 kali sertifikasi dengan tonase 13,5 Ribu Ton senilai Rp 881,6 Miliar.

Demikian dikatakan Kepala Karantina Pertanian TBA, Bukhari di Labuhan Batu Utara Dua hari lalu. Terjadinya penurunan kinerja disebabkan, negara India sebagai tujuan ekspor terbesar tengah menetapkan pelarangan sementara terhadap pemasukan Sapu Lidi atau Brom Stick asal Indonesia.  

Untuk menaikkan ekspor sapu lidi, negoisasi persyaratan teknik oleh Barantan sedang diupayakan agar bisa di buka kembali pintu ekspor.

Sementara, dipastikan bahwa proses pemenuhan persyaratan teknis Sanitary and Phytosanitary (SPS) pada sapu lidi telah dapat dipenuhi UD Khairatama selaku eksportir. Jangan sampai produk tertolak di negara tujuan lantaran tidak memenuhi persyaratan teknis SPS, tegas Bukhari.

Lepas Ekspor Produk Pertanian Sumut

Ekspor Enam komoditas pertanian Sumut lainya totalnya 17,9 Ribu Ton sebesar  Rp 35,5 Miliar meliputi, Sapu Lidi sejumlah 206 Ton tujuan negara Pakistan, Ijuk sejumlah 3 Ton tujuan negara Malaysia, Kelapa Parut sejumlah 222,2 Ton tujuan negara Cina

Produk lainnya, Kelapa Serabut sejumlah 36 Ton tujuan negara Russia, Palm Kernel Expeller tujuan Yunani dan Pinang Biji sejumlah 260 Ton tujuan  Iran.

Wakil Bupati Kabupaten Labuhan Batu Utara, Dwi Parantara yang hadir, turut melepas ekspor dan mengapresiasi upaya pembangunan pertanian yang dilakukan diwilayah kerjanya oleh jajaran Kementan.

Secara khusus, apresiasi  disampaikan untuk Karantina Pertanian TBA yang telah menjaga kelestarian sumber daya alam hayati sekaligus mendorong upaya pertumbuhan kinerja ekspor diwilayahnya. 

Tidak saja sehat, aman dan berlimpah tapi juga miliki daya saing sehingga sehingga produk pertanian asal Sumut dapat laris di pasar global, ujar Dwi Parantara.

Kepala Barantan menimpali, status kesehatan hewan dan tumbuhan disuatu wilayah sangat menentukan keberterimaan produk di pasar ekspor. 

"Kedepan, selain kerjasama pusat dan daerah dalam pembangunan pertanian berorientasi ekspor, partisipasi masyarakat dalam menjaga kelestarian SDA juga penting. Mari optimalkan seluruh kekuatan yang ada untuk menyongsong cita-cita bersama kita, Indonesia sebagai lumbung pangan dunia", sebut Jamil.

 

 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait