Air Mata Mualaf Luluhkan Hati Kasat Lantas Bengkalis saat Razia

redaksi
Air Mata Mualaf Luluhkan Hati Kasat Lantas Bengkalis saat Razia

Kasat Lantas Polres Bengkalis AKP Hariul bersama Saut dan Meta

Pekanbaru, katakabar.com - “Ibu itu bilang dia mualaf, dan sedang hamil dua bulan. Suaminya tetap saya tilang, tapi saya tawarkan jadi pengurus musola atau gharim di Mapolres Bengkalis,” kata Kasat Lalu Lintas Polres Bengkalis, AKP Hairul Hidayat Minggu (10/11).

Hairul seperti pahlawan bagi Saut Maruli Tua Aritonang (28) bersama istrinya Meta Hutauruk (28). Padahal, ketika itu mereka berdua ditilang oleh anggota Polantas di bawah komando AKP Hairul. Sebab, Saut membonceng istrinya tidak menggunakan helm.

Saat mau ditilang, Saut menemui Hairul yang kebetulan berada di lokasi, tak jauh dari tempatnya diberhentikan polisi jalan Hangtuah-Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Kejadian itu pada Senin (4/11) lalu.

Petugas meminta pengendara menunjukkan kelengkapan surat-suratnya pada saat operasi Zebra 2019 itu berlangsung. Salah satunya Saut. Karena istrinya yang dibonceng dengan Yamaha Vixion itu, tidak mengenakan helm, terpaksa polisi menilangnya.

“Dia memohon agar saya membebaskannya dari tilang. Tentulah tidak bisa, saya tegaskan tetap ditilang,” kata Hairul.

Maruli kembali memohon kepada Hairul, dengan menyebutkan bahwa dirinya adalah rakyat yang sudah dan sedang mencari pekerjaan. Hairul melihat penampilan Saut sangat rapi, dengan sepatu dan pakaian yang bagus.

Hairul masih tidak percaya dengan alasan Saut. Dan Saut pun menjauh dari Hairul, dengan membujuk polisi lainnya. Tiba-tiba, istri Saut, Meta mendatangi Hairul sambil memohon agar tidak ditilang. Meta menceritakan, dia menemani suaminya untuk mencari pekerjaan.

Bahkan, Meta juga mengaku seorang mualaf, dan sedang hamil 2 bulan. Meta dan Saut baru menikah sekitar 4 bulan lalu. Honor sebagai gharim di sebuah masjid di Kota Duri tidak mencukupi kebutuhan mereka. Apalagi kedua pasutri itu bakal memiliki anak.

“Ya sudah, saya tawarkan kepada Meta, agar suaminya bekerja sama kita sebagai gharim musola di Mapolres Bengkalis. Honornya saya lebihkan dari honor dia di tempat sebelumnya, tapi tetap saya tilang,” kata Hairul.

Ternyata keluhan Meta bukan hanya soal pekerjaan suaminya. Sepeda motor yang mereka kendarai ternyata belum bayar pajak selama 3 tahun. Bahkan, pakaian bagus, dan sepatu yang digunakan Saut itu meminjam dari saudaranya. Karena ketika itu, Saut sedang melamar pekerjaan, dan agar terlihat rapi.

Polisi itu pun kaget melihatnya. Hairul terbawa perasaan, dia teringat istri saat melahirkan anaknya, tanpa didampinginya. Karena saat itu Hairul sedang bertugas. Dengan pertimbangan kemanusiaan, Hairul berjanji akan membayarkan biaya tilang, sekaligus pajak motor mereka selama 3 tahun.

Mendengar tawaran bantuan itu, Meta yang berdiri jarak selangkah dari Hairul langsung menangis tersedu-sedu. Dia haru dan tidak menyangka bakal mendapat bantuan tersebut. Hairul mencoba untuk menenangkan Meta agar tidak menangis lagi.

Namun, Saut yang melihat dari kejauhan langsung berlari menuju Meta. Raut wajah emosi Saut tidak terbendung, dia bertanya kenapa Hairul membuatnya menangis. Saut juga menuding Hairul bekerja tidak professional, karena urusan tilang kendaaraan membuat istrinya meneteskan air mata.

“Saya sadar, dia salah paham. Saya meminta agar istrinya menjelaskan kenapa dia menangis kepada Saut, tapi istrinya belum bisa ngomong dan masih terus menangis,” kata Hairul.

Hairul pun bingung. Dia dihadapkan dengan dua perasaan. Si istri merasa terharu hingga menangis terisak-isak, sedangkan suaminya marah-marah karena menyangka Hairul yang membuatnya menangis.

Akhirnya Hairul menceritakan bahwa pajak kendaraan motor mereka yang mati pajak 3 tahun akan dibayarkan. Dan Saut juga akan diberikan pekerjaan dengan honor yang lebih layak. Ternyata tawaran itu tak membuat emois Saut reda. Dia menolak karena istrinya sudah dibuat menangis oleh Hairul.

Dengan nada lirih, akhirnya Meta mengeluarkan kalimat kepada suaminya. Akhirnya Saut merasa bersalah dan meminta maaf kepada Hairul. Mereka diminta untuk datang ke kantor Satlantas Polres Bengkalis di Kota Duri.

Bagaimana dengan surat tilang itu ?. Hairul tetap menilang kendaraan Saut, namun dia yang membayarkan biaya tilangnya. Karena bagi Hairul, pelanggaran tetaplah pelanggaran.

Usai operasi Zebra, Saut dan istrinya menuju Kantor Satlantas Polres Bengkalis pukul 13.00 Wib. Mereka bersyukur dan merasa begitu mengetahui bahwa pajak sepeda motornya sudah dibayarkan, apalagi dia juga diberi pekerjaan baru.

“Saya tawarkan kepada mereka, agar berangkat segera ke Bengkalis, untuk menjadi Garim di Mushollah Dzikirullah. Karena di sana juga tidak ada gharimnya,” kata Hairul.

Keesokan harinya, Saut dan Meta diberangkatkan menuju Pulau Bengkalis, dengan mobil anggota kepolisian. Mulai 5 November, Saut bekerja di musola itu, dan mendapat tempat tinggal di Mess kepolisian Polres Bengkalis.

Selain tempat tidur yang nyaman, ruangannya juga menggunakan Air Conditioner. Tak hanya itu, Saut juga akan diberi pekerjaan tambahan jika suatu waktu tenaganya dibutuh polisi di komplek Mapolres Bengkalis. Tentunya dengan honor yang ditambah pula, di luar dari gajinya sebagai gharim.

“Saya tidak menyangka semua ini terjadi. Selain kita juga butuh tenaga Bang Saut, juga merasa ingin membantu orang yang sedang membutuhkan pekerjaan. Pak Kapolres (AKBP Sigit Adiwuryanto) juga setuju saya ajak Bang Saut bekerja. Sesama manusia, siapapun orangnya wajib kita bantu,” tutup Hairul. (Sany)

 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait