Di Forum SOM MABIS Singapura, Indonesia Promosi Mederasi Beragama

Di Forum SOM MABIS Singapura, Indonesia Promosi Mederasi Beragama

Indonesia Hadir di Forum SOM MABIS di Singapura. Foto Ist.

Singapura (katakabar) - Forum Senior Official Meeting (SOM) Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) ke 44 di Singapura, dimanfaatkan Indonesia untuk mempromosikan Moderasi Beragama pada Selasa (12/11) kemarin.

Hal itu dilakukan Indonesia, saat Kepala Badan Litbang dan Pendidikan Kementerian Agama, Abd Rahman Mas'ud mengurai tema. "Masyarakat Islam Sukses Menyebarkan Islam Rahmat Lil Alamin" di lansir dari Situs Resmi Kemenag RI kemarin.

Kata Ketua Delegasi Indonesia ini, masalah keberagamaan umat belakangan ini  sangat kompleks seiring dengan era digital yang mengubah banyak hal dalam kehidupan. Era disrupsi telah melahirkan perubahan radikal yang sangat cepat dan mengakibatkan efek domino yang luar biasa dalam beragama. Kemudahan akses internet yang sudah mengubah pola perilaku beragama.

"Era digital sudah mengubah kehidupan umat Islam makin kompleks. Banyak perubahan radikal tidak pernah terjadi sebelumnya, sehingga disebut era disrupsi. Hal ini berdampak kepada efek domino yang luar biasa gara gara pengaruh internet dan termasuk mengubah pola perilaku beragama".

Menurut Mas'ud, masyarakat cenderung menyukai info atau berita yang provokatif sehingga sering ditemukan pola beragama yang tekstual, mudah menyalahkan orang lain atau intoleran lantaran pemahaman agamanya yang rendah. 

Dalam menangkal paham paham literalis dan cenderung radikal, pemerintah Indonesia sudah melakukan upaya upaya moderasi beragama agar yang ekstrem kanan mau pun ekstrem kiri mau menuju ke tengah. 

Hakikat Islam ada di "tengah tengah", bukan Islam "setengah setengah". Itu sebabnya, promosi moderasi beragama mesti terus dilakukan, khususnya di negara negara MABIMS sejak awal memiliki latar belakang sama.

"Dalam menghadapi paham dan gerakan radikal, pemerintah Indonesia telah melakukan berbagai pendekatan untuk moderasi beragama agar yang ekstren kanan dan kiri bisa menuju ke tengah. Hakikat Islam itu ada di tengah, bukan Islam setengah-tengah", ujarnya sambil bercanda.

Cerita Mas'ud, di Indonesia banyak wisdom atau kearifan lokal yang menjadi perekat kebersamaan di tengah keragaman budaya, agama, mau pun keyakinan. Dalam catatannya, di daerah Kudus Jawa Tengah berdasarkan warisan leluhurnya tidak ada muslim yang hingga kini menyembelih binatang sapi demi menghormati keyakinan orang Hindu lantaran di daerah itu memuliakan sapi.

"Indonesia memiliki banyak wisdom untuk memelihara keragaman agar tetap harmonis. Salah satu contohnya, di wilayah Kudus, Jawa Tengah, tempat asal saya. Di sana tidak ada umat Islam yang menyembelih sapi demi untuk menghormati saudaranya yang beragama Hindu dan menggantinya dengan kerbau. Kudus itu yang ada sate kerbau, sop kerbau, bakso kerbau, dan lain-lain", jelasnya.

Paparan delegasi negara negara MABIMS lainnya juga memiliki kesamaan cara pandang dengan Indonesia, walau berbeda pendekatannya. 

Malaysia misalnya, lebih menekankan pentingnya konsep Maqashid Syariah dengan lima pendekatan meliputi, hormat, alami, mesra, harmoni dan aman. 

Singapura, penguatan toleransi dan pembinaan masyarakat harmoni dengan model Nabi Muhammad terhadap umat agama lain. Sementara, Brunei Darussalam menekankan pentingnya pembinaan keluarga sejak dini dan remaja dengan pendekatan yang lebih kontekstual. Faktor lainnya didukung komitmen Sultan dalam menjaga sendi sendi Islam khususnya, dari ancaman pemikiran atau aliran yang dapat memecah belah Brunei. 

 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait