Tolak Pelarangan Vape, Komunitas Pamer Hasil Rontgen dan Ini Hasilnya

redaksi
Tolak Pelarangan Vape, Komunitas Pamer Hasil Rontgen dan Ini Hasilnya

konferensi pers komunitas Vape

Pekanbaru, katakabar.com - Sebanyak 500 lebih pengguna rokok elektrik (vapers) di Pekanbaru menolak pelarangan penggunaan vape di Indonesia. Dalam aksi penolakannya para vapers memajang 29 hasil rontgen thorax.

Sebanyak 500 lebih pengguna vape di Kota Pekanbaru itu tergabung dalam 10 lebih komunitas vapers. Berkumpul dalam forum diskusi untuk melawan serangan berita atau opini negatif terhadap vape.

Dalam forum itu para komunitas vapers memperlihatkan hasil rontgen thorax untuk membuktikan kesehatan sekaligus menjawab tudingan-tudingan atau berita yang menyudutkan negatif kepada pengguna vape.

Menurut Ketua Asosiasi Vapers Indonesia (AVI), Dimasz Jeremia, rontgen thorax dipilih untuk membuktikan secara medis dan ditunjukkan ke orang-orang bahwa kami pilih vape dan kami baik-baik saja, terutama di bagian paru-paru dan jantung.

"Vapers atau sebutan bagi pecinta vape butuh regulasi bukan justru dilarang. Komunitas pengguna vape siap membela haknya. Wacana pelarangan vape di Indonesia bukan sebagai solusi untuk mengatasi masalah. Vapers butuh regulasi bukan justru dilarang," Dimasz saat menggelar diskusi di Pekanbaru, Jumat (29/11/3019) malam.

Dimasz menuturkan, negara ini memerlukan sebuah kebijakan yang tepat dan tidak hanya didasari oleh ketakutan dan kecurigaan. BPOM melarang vape ini hanya berdasarkan kejadian-kejadian adanya korban jiwa yang terjadi di Amerika. BPOM belum melakukan kajian sendiri tapi sudah mengeluarkan larangan.

"Kami (Vapers) bukan melawan pelarangan vape ini dengan tindakan kekerasan. Namun, kami akan menyatakan perlawanan itu dengan bukti hasil penelitian scan thorax," kata Dimasz.

Dimasz membeberkan, ada 55 juta pengguna vapers di dunia. Bila diasumsikan dalam kurun waktu 5 hingga 10 tahun atau bahkan 1 tahun kedepan, Indonesia memiliki pintu yang cukup besar untuk melakukan ekspor liquid sebanyak 10 persen atau 5,5 juta rupiah.

"Ini akan menjadi pertumbuhan ekspor yang luar biasa, karena untuk memenuhi pasar Indonesia yang jumlahnya hanya 1 persen dari pengguna rokok. Artinya jumlahnya akan 5 kali lipat. Potensi inilah yang harus bisa menjadi pertimbangan pemerintah," imbuhnya.

Pada kesempatan itu para vapers di Riau pun juga sudah melakukan pemeriksaan scan thorax di Laboratorium Klinik Pramita Pekanbaru. Konsultan medis dari Laboratorium Klinik Pramita Pekanbaru, Melynda Elka Putri pun menyatakan, bahwa hasil rontgen thorax dari 29 vapers di Riau tidak ada menunjukkan kelainan.

"Sabtu kemarin kami melakukan pemeriksaan rontgen thorax terhadap 29 vapers. Jadi memang hasilnya tidak ada ditemukan kelainan biologis, baik dari paru-paru maupun jantung," kata Melynda Elka Putri.

Masih di tempat yang sama, Ketua Divisi Produksi Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia (APVI), Eko H.C yang juga hadir dalam forum diskusi Sumatera Vape Awareness tersebut, menyarankan agar BPOM dan pemerintah (menteri kesehatan, red) tunjuk saja lembaga kredibel yang bisa diminta untuk melakukan studi terhadap vape.

"Jadi ada penelitian yang jelas sesuai dengan kondisi masyarakat di Indonesia ini. Jangan hanya menggunakan penelitian luar negeri," tukasnya. (Sany)

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait