Kisah 5 Tunanetra Dirikan Sekolah untuk Penyandang Disabilitas Ganda

redaksi
Kisah 5 Tunanetra Dirikan Sekolah untuk Penyandang Disabilitas Ganda

Tunanetra Dirikan Sekolah untuk Penyandang Disabilitas Ganda. ©2019 Merdeka.com/Yan Muhardiansyah

Pekanbaru, katakabar.com - Lima sosok tunanetra ini sadar mempunyai kekurangan. Namun keadaan itu tak membuat mereka berhenti berjuang, berbagi, dan mendidik sesama.

Penglihatan memang tidak dipunyai Marilyn Lievani, Lindawati Agustin Kwa, Ricky Darmawan, Eti Saragih, dan Sri Melati. Tapi semangat kelima penyandang tunanetra ini untuk "menerangi jalan" para penyandang disabilitas ganda sungguh membuat takjub.

Kelimanya merupakan pengelola sekaligus pengajar di Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru. Sekolah kecil ini berada di rumah sederhana bercat biru muda di Jalan KL Yos Sudarso No 84C, Lingkungan XI, Glugur Kota, Medan Barat, Medan, Sumatera Utara.

Bangunan sekolah itu berada di antara deretan rumah petak bertingkat di dalam lorong. Ada papan nama putih berbingkai bertuliskan nama yayasan lengkap dengan nomor administrasi dan alamat, tepat di atas pintu rumah, yang menunjukkan tempat itu lembaga pendidikan. Kotak rak sepatu yang ditempatkan di luar juga menunjukkan banyak yang datang ke sana.

Sekolah ini khusus mendidik anak dengan Multiple Disability with Visual Impairment (MDVI), yakni mereka yang memiliki hambatan penglihatan disertai hambatan lain, baik pendengaran, intelektual, fisik, emosi, dan sebagainya. Singkat kata, para siswanya memiliki disabilitas ganda.

"Jadi di sekolah biasa atau di SLB dia tidak diterima tapi di Harapan Baru kita mencoba memberikan pendidikan yang layak bagi mereka," ujar Marilyn.

Berawal dari Sebuah Tempat Penitipan

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2019/11/30/1129991/paging/540x270/berawal-dari-sebuah-tempat-penitipan.jpg

Berawal pada 2014, cikal-bakal sekolah ini hanya berupa day care atau tempat penitipan anak-anak disabilitas ganda. Kelima penyandang tunanetra ini kemudian melangkah ke tahap selanjutnya dengan menghubungi dan mendapat pelatihan dari Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, Jakarta, yang sudah berpengalaman mendidik anak penyandang MDVI. Metode ajar yang dinilai paling tepat pun didapat dari sana.

Tak berhenti sampai di sana, Marilyn dkk pun tergerak untuk membuat lembaga resmi. "Kita mau memberikan jenjang pendidikan bagi mereka atau memberikan ijazah bagi yang sudah lulus SD, SMP, dan SMA. Akhirnya kita bergabung dengan orangtua murid, kita bekerja sama dan mendirikan yayasan ini dan meresmikannya pada 10 April 2019," jelas Marilyn.

Pendidikan yang diberikan kepada siswa menggunakan kurikulum fungsional, mencakup 4 aspek, yaitu: to life, to love, to play, dan to work. Materi to life diajarkan agar anak dapat menjalani kehidupan dengan mandiri. To love agar anak dapat berinteraksi dengan orang lain. To play untuk mengajarkan bagaimana mengisi waktu luang dengan kegiatan positif. Sementara to work, anak yang menyandang disabilitas ganda diajarkan menopang kehidupan di masa mendatang.

"Jadi kita memberikan pendidikan bagi mereka sehingga orangtua mereka bisa yakin bahwa Tuhan punya maksud dalam kehidupan anaknya, dan anaknya mampu melakukan sesuatu tidak seperti yang dipikirkan orang kebanyakan," sebut Marilyn.

Orangtua siswa yang anaknya belajar di SLB Dwituna Harapan Baru diwajibkan kooperatif. Itu menjadi syarat utama, karena mereka harus turut menyusun program pembelajaran individu bersama para guru. Program-program itu pun harus dilaksanakan di rumah.

"Kalau untuk biayanya subsidi silang. Bagi yang mampu, membayar. Bagi yang tidak mampu, bayar seikhlas hati," jelas Marylin.

Saat ini 9 siswa terdaftar belajar di SLB Dwituna Harapan Baru. Lima di antaranya aktif mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Beberapa kendala menyebabkan 4 orang tidak aktif, seperti siswa sudah tidak punya orangtua sehingga harus pulang ke kampung halaman. Ada orangtua yang tidak yakin anaknya disabilitas ganda tidak bisa melakukan sesuatu. Ada pula yang rumahnya jauh sekali dan tidak ada yang mengantar mereka.

"Kita lembaga baru, kita berharap suatu saat kita ada asrama sehingga untuk mereka yang jauh ini dapat kita berikan layanan juga," sebut Marilyn.

Tingkatan pendidikan di SLB Dwituna Harapan Baru tak berbeda dengan sekolah umum. Tahapannya dimulai dari prasekolah yang disebut dengan pelayanan dini atau Peldi dengan siswa berusia 2,5 tahun sampai 5 tahun. Selanjutnya ada taman kanak-kanak atau pra-SD pada usia 5 atau 6 tahun. Kemudian pendidikan dasar atau SD di usia 7 sampai 13 tahun. Seorang siswa kini belajar di jenjang SMP.

"Kita juga ada kegiatan prarumah atau sebelum dia kembali kepada orangtuanya di rumah, kita ada memberikan keterampilan bagi mereka untuk belajar bekerja seperti magang," ujar Marilyn.

Sosok Para Pengejar Hebat

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2019/11/30/1129991/paging/540x270/sosok-para-pengejar-hebat.jpg

Para pengajar di SLB Dwituna Harapan Baru punya latar bidang pendidikan berbeda, seperti Bahasa Inggris, psikologi, musik hingga kedokteran. Meski menyandang tunanetra, mereka punya motivasi yang sama, ingin bermanfaat bagi orang lain.

"Saya ingin menjadi sesuatu yang bermanfaat, yang bisa memberikan sesuatu yang bisa diingat orang, mungkin juga bisa dirasakan dalam waktu yang panjang. Kalaupun saya nanti sudah pergi, sudah tidak ada, meninggal atau dipanggil Tuhan, tapi saya punya sesuatu yang bisa saya berikan kepada orang-orang di sekitar," kata Lindawati yang mempunyai latar belakang sebagai pengajar Bahasa Inggris dan komputer.

Begitu pula dengan Merilyn yang ingin memberikan harapan baru bagi anak-anak disabilita ganda. "Kenapa kami mendirikan sekolah ini? Karena sesuai dengan namanya kita ingin memberikan suatu pengharapan yang baru untuk setiap anak yang datang ke lembaga kita," imbuh Merilyn.

Motivasi serupa disampaikan Ricky yang berlatar belakang pendidikan musik. Dia pun merasa anak didiknya tidak kalah dari orang yang normal maupun penyandang tunanetra.

Eti yang merasa dirinya lebih beruntung dibandingkan anak-anak disabilitas ganda, merasa aktivitasnya di Yayasan Pendidikan Harapan Baru sebagai bentuk penghargaan terhadap kehidupan. "Saya terpikir harus meneruskan berkat yang saya peroleh, kebaikan yang saya peroleh, kepada orang lain. Supaya kebaikan itu tidak berhenti hanya kepada saya tapi bisa saya teruskan kepada orang lain," ucapnya.

Lalu, Sri yang mempunyai latar belakang sebagai dokter juga termotivasi dari rasa syukurnya kepada Tuhan. Perempuan berjilbab ini kehilangan penglihatan setelah diserang TBC otak saat menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2010-2011.

"Saya dikasih kesempatan hidup kedua sama Allah. Jadi seperti dikasih kesempatan baru untuk lebih memperluas jangkauan malah. Karena sekarang saya tunanetra, saya bisa merasakan tunanetra itu bagaimana, dan saya rasa saya mampu membantu. Jadi di sinilah saya sebagai tunanetra dan mau membantu," ucap jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2009 ini.

Perjuangan dan pengabdian Merilyn, Lindawaty, Ricky, Eti, dan Sri pada pendidikan membuat kagum banyak orang, termasuk Rini Prasetyaningsih, pembimbing mereka dari Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala. "Ketika saya bersama mereka di sini bagi saya adalah hal yang luar biasa sekali. Kenapa? Karena mereka punya semangat yang luar biasa. Mereka punya kebutuhan khusus sendiri, tapi mereka pun ingin memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus dengan cara mereka. Saya benar-benar tidak bisa berpikir itu bisa mereka lakukan, dengan keterbatasan yang mereka miliki, mereka bisa melampaui keterbatasan mereka menolong anak-anak berkebutuhan khusus," sebutnya.

Rini baru kali ini melatih guru-guru untuk penyandang MDVI dari kalangan penyandang disabilitas. Dia mengaku tidak pernah berhenti takjub kepada Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru. "Bahkan untuk mendatangkan saya ke sini (dari Jakarta), mereka harus menjual kerupuk lho," ucapnya.

Marilyn, Lindawati, Ricky, Eti, dan Sri memang tunanetra, tapi mereka membuktikan mampu menjadi pelita dalam kegelapan. Salut.

 

Kisah 5 Tunanetra Dirikan Sekolah untuk Penyandang Disabilitas Ganda

Pekanbaru, katakabar.com - Lima sosok tunanetra ini sadar mempunyai kekurangan. Namun keadaan itu tak membuat mereka berhenti berjuang, berbagi, dan mendidik sesama.

Penglihatan memang tidak dipunyai Marilyn Lievani, Lindawati Agustin Kwa, Ricky Darmawan, Eti Saragih, dan Sri Melati. Tapi semangat kelima penyandang tunanetra ini untuk "menerangi jalan" para penyandang disabilitas ganda sungguh membuat takjub.

Kelimanya merupakan pengelola sekaligus pengajar di Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru. Sekolah kecil ini berada di rumah sederhana bercat biru muda di Jalan KL Yos Sudarso No 84C, Lingkungan XI, Glugur Kota, Medan Barat, Medan, Sumatera Utara.

Bangunan sekolah itu berada di antara deretan rumah petak bertingkat di dalam lorong. Ada papan nama putih berbingkai bertuliskan nama yayasan lengkap dengan nomor administrasi dan alamat, tepat di atas pintu rumah, yang menunjukkan tempat itu lembaga pendidikan. Kotak rak sepatu yang ditempatkan di luar juga menunjukkan banyak yang datang ke sana.

Sekolah ini khusus mendidik anak dengan Multiple Disability with Visual Impairment (MDVI), yakni mereka yang memiliki hambatan penglihatan disertai hambatan lain, baik pendengaran, intelektual, fisik, emosi, dan sebagainya. Singkat kata, para siswanya memiliki disabilitas ganda.

"Jadi di sekolah biasa atau di SLB dia tidak diterima tapi di Harapan Baru kita mencoba memberikan pendidikan yang layak bagi mereka," ujar Marilyn.

Berawal dari Sebuah Tempat Penitipan

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2019/11/30/1129991/paging/540x270/berawal-dari-sebuah-tempat-penitipan.jpg

Berawal pada 2014, cikal-bakal sekolah ini hanya berupa day care atau tempat penitipan anak-anak disabilitas ganda. Kelima penyandang tunanetra ini kemudian melangkah ke tahap selanjutnya dengan menghubungi dan mendapat pelatihan dari Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala, Jakarta, yang sudah berpengalaman mendidik anak penyandang MDVI. Metode ajar yang dinilai paling tepat pun didapat dari sana.

Tak berhenti sampai di sana, Marilyn dkk pun tergerak untuk membuat lembaga resmi. "Kita mau memberikan jenjang pendidikan bagi mereka atau memberikan ijazah bagi yang sudah lulus SD, SMP, dan SMA. Akhirnya kita bergabung dengan orangtua murid, kita bekerja sama dan mendirikan yayasan ini dan meresmikannya pada 10 April 2019," jelas Marilyn.

Pendidikan yang diberikan kepada siswa menggunakan kurikulum fungsional, mencakup 4 aspek, yaitu: to life, to love, to play, dan to work. Materi to life diajarkan agar anak dapat menjalani kehidupan dengan mandiri. To love agar anak dapat berinteraksi dengan orang lain. To play untuk mengajarkan bagaimana mengisi waktu luang dengan kegiatan positif. Sementara to work, anak yang menyandang disabilitas ganda diajarkan menopang kehidupan di masa mendatang.

"Jadi kita memberikan pendidikan bagi mereka sehingga orangtua mereka bisa yakin bahwa Tuhan punya maksud dalam kehidupan anaknya, dan anaknya mampu melakukan sesuatu tidak seperti yang dipikirkan orang kebanyakan," sebut Marilyn.

Orangtua siswa yang anaknya belajar di SLB Dwituna Harapan Baru diwajibkan kooperatif. Itu menjadi syarat utama, karena mereka harus turut menyusun program pembelajaran individu bersama para guru. Program-program itu pun harus dilaksanakan di rumah.

"Kalau untuk biayanya subsidi silang. Bagi yang mampu, membayar. Bagi yang tidak mampu, bayar seikhlas hati," jelas Marylin.

Saat ini 9 siswa terdaftar belajar di SLB Dwituna Harapan Baru. Lima di antaranya aktif mengikuti kegiatan belajar-mengajar. Beberapa kendala menyebabkan 4 orang tidak aktif, seperti siswa sudah tidak punya orangtua sehingga harus pulang ke kampung halaman. Ada orangtua yang tidak yakin anaknya disabilitas ganda tidak bisa melakukan sesuatu. Ada pula yang rumahnya jauh sekali dan tidak ada yang mengantar mereka.

"Kita lembaga baru, kita berharap suatu saat kita ada asrama sehingga untuk mereka yang jauh ini dapat kita berikan layanan juga," sebut Marilyn.

Tingkatan pendidikan di SLB Dwituna Harapan Baru tak berbeda dengan sekolah umum. Tahapannya dimulai dari prasekolah yang disebut dengan pelayanan dini atau Peldi dengan siswa berusia 2,5 tahun sampai 5 tahun. Selanjutnya ada taman kanak-kanak atau pra-SD pada usia 5 atau 6 tahun. Kemudian pendidikan dasar atau SD di usia 7 sampai 13 tahun. Seorang siswa kini belajar di jenjang SMP.

"Kita juga ada kegiatan prarumah atau sebelum dia kembali kepada orangtuanya di rumah, kita ada memberikan keterampilan bagi mereka untuk belajar bekerja seperti magang," ujar Marilyn.

Sosok Para Pengejar Hebat

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2019/11/30/1129991/paging/540x270/sosok-para-pengejar-hebat.jpg

Para pengajar di SLB Dwituna Harapan Baru punya latar bidang pendidikan berbeda, seperti Bahasa Inggris, psikologi, musik hingga kedokteran. Meski menyandang tunanetra, mereka punya motivasi yang sama, ingin bermanfaat bagi orang lain.

"Saya ingin menjadi sesuatu yang bermanfaat, yang bisa memberikan sesuatu yang bisa diingat orang, mungkin juga bisa dirasakan dalam waktu yang panjang. Kalaupun saya nanti sudah pergi, sudah tidak ada, meninggal atau dipanggil Tuhan, tapi saya punya sesuatu yang bisa saya berikan kepada orang-orang di sekitar," kata Lindawati yang mempunyai latar belakang sebagai pengajar Bahasa Inggris dan komputer.

Begitu pula dengan Merilyn yang ingin memberikan harapan baru bagi anak-anak disabilita ganda. "Kenapa kami mendirikan sekolah ini? Karena sesuai dengan namanya kita ingin memberikan suatu pengharapan yang baru untuk setiap anak yang datang ke lembaga kita," imbuh Merilyn.

Motivasi serupa disampaikan Ricky yang berlatar belakang pendidikan musik. Dia pun merasa anak didiknya tidak kalah dari orang yang normal maupun penyandang tunanetra.

Eti yang merasa dirinya lebih beruntung dibandingkan anak-anak disabilitas ganda, merasa aktivitasnya di Yayasan Pendidikan Harapan Baru sebagai bentuk penghargaan terhadap kehidupan. "Saya terpikir harus meneruskan berkat yang saya peroleh, kebaikan yang saya peroleh, kepada orang lain. Supaya kebaikan itu tidak berhenti hanya kepada saya tapi bisa saya teruskan kepada orang lain," ucapnya.

Lalu, Sri yang mempunyai latar belakang sebagai dokter juga termotivasi dari rasa syukurnya kepada Tuhan. Perempuan berjilbab ini kehilangan penglihatan setelah diserang TBC otak saat menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 2010-2011.

"Saya dikasih kesempatan hidup kedua sama Allah. Jadi seperti dikasih kesempatan baru untuk lebih memperluas jangkauan malah. Karena sekarang saya tunanetra, saya bisa merasakan tunanetra itu bagaimana, dan saya rasa saya mampu membantu. Jadi di sinilah saya sebagai tunanetra dan mau membantu," ucap jebolan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) pada 2009 ini.

Perjuangan dan pengabdian Merilyn, Lindawaty, Ricky, Eti, dan Sri pada pendidikan membuat kagum banyak orang, termasuk Rini Prasetyaningsih, pembimbing mereka dari Yayasan Pendidikan Dwituna Rawinala. "Ketika saya bersama mereka di sini bagi saya adalah hal yang luar biasa sekali. Kenapa? Karena mereka punya semangat yang luar biasa. Mereka punya kebutuhan khusus sendiri, tapi mereka pun ingin memberdayakan anak-anak berkebutuhan khusus dengan cara mereka. Saya benar-benar tidak bisa berpikir itu bisa mereka lakukan, dengan keterbatasan yang mereka miliki, mereka bisa melampaui keterbatasan mereka menolong anak-anak berkebutuhan khusus," sebutnya.

Rini baru kali ini melatih guru-guru untuk penyandang MDVI dari kalangan penyandang disabilitas. Dia mengaku tidak pernah berhenti takjub kepada Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru. "Bahkan untuk mendatangkan saya ke sini (dari Jakarta), mereka harus menjual kerupuk lho," ucapnya.

Marilyn, Lindawati, Ricky, Eti, dan Sri memang tunanetra, tapi mereka membuktikan mampu menjadi pelita dalam kegelapan. Salut.

 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait