Kontribusi dan Regulasi

Alasan Kemenag RI Beri Perhatian Lebih Pada Majelis Taklim

Alasan Kemenag RI Beri Perhatian Lebih Pada Majelis Taklim

Jakarta, katakabar.com - Kementerian Agama Republik Indonesia berkomitmen untuk memberi perhatian lebih kepada majelis taklim. Perhatian lebih itu, salah satunya menerbitkan Peraturan Menteri Agama (PMA) No 29 Tahun 2019 tentang Majelis Taklim. 

Direktur Penerangan Agama Islam Ditjen Bimas Islam Kemenag, Juraidi mengatakan, sudah semestinya pemerintah dan segenap komponen bangsa memperhatikan keberadaan majlis taklim. 

Di lansir dari Situs Resmi Kemenah RI, Ditjen Bimas Islam Kemenag punya Dua alasan betapa pentingnya memberi perhatian lebih itu, pertama,  lembaga yang tumbuh dari dan di masyarakat sudah banyak memberikan kontribusi ikut mencerdaskan bangsa dan negara. 

"Emak-emak yang tidak bisa mengakses dunia pendidikan formal melalui sekolah dan madrasah dibina majlis taklim", kata Juraidi di Jakarta pada Senin (02/12).

Kata Ditjen Bimas Islam Kemenag, begitu dengan bapak-bapak yang sibuk bekerja sampai pensiun belum sempat belajar agama, di tampung majlis talim. Anak putus sekolah diajari agama di majlis taklim. Bahkan, saya pernah mengajar ngaji para asisten rumah tangga lewat majlis taklim. 

Alasan ke Dua, secara regulasi, UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengatur pendidikan keagamaan. Regulasi ini lalu dijabarkan dalam PP Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Keagamaan yang menyebut secara eksplisit bahwa majlis taklim merupakan lembaga pendidikan nonformal. 

Nah, majelis taklim berhak atas anggaran fungsi pendidikan yang alokasinya mencapai 20 persen dari anggaran negara.

"Majelis taklim melaksanakan pendidikan agama kepada masyarakat yang tidak terjangkau dan tersentuh dunia pendidikan formal. Itu sebabnya, majelis taklim perlu diberikan perhatian, dibantu untuk peningkatan manajemen pengelolaannya agar semakin bisa memberdayakan masyarakat di sekitarnya", tegasnya. 

Menurutnya, lewat PMA No 29 Tahun 2019, Kementerian Agama ingin memberikan penguatan terhadap keberadaan majelis taklim. Penguatan dilakukan secara komprehensif mencakup lima rukun majelis taklim meliputi, jamaah, ustadz/ah, pengurus, tempat dan materi taklimnya. 

"Kalau soal pakaian seragam dan lainnya, itu sunnah saja", katanya berkelakar.

Soal Bab Pembinaan, dinilai sebagai intervensi dan menggurui, aspek pembinaan sangat luas. Pembinaan dilakukan dalam bentuk menerbitkan juknis, modul, pedoman,  melakukan pendataan, mengundang rapat, menyampaikan informasi hingga memberikan bantuan termasuk bagian dari pembinaan.

"Pembinaan diberikan berdasarkan kebutuhan majelis taklim, pada aspek yang memang masih memerlukan penguatan. Kemenag tentu  tidak berpretensi menggurui".

 

 

 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait