Tren ke Depan, Pusat-pusat Belanja Jadi Ruang Pamer dan Tempat Gaul

Tren ke Depan, Pusat-pusat Belanja Jadi Ruang Pamer dan Tempat Gaul

Ilustrasi/net

Kekhawatiran Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan matinya mal-mal di Indonesia akibat pertumbuhan perdagangan dalam jaringan (daring) atau e-commerce, justru menciptakan sebuah tren baru.

Menurut CEO Leads Property Indonesia, Hendra Hartono, tren tersebut adalah munculnya pusat belanja gaya hidup atau lifestyle mall.

Mal dengan konsep seperti ini akan memegang peranan penting dalam perubahan gaya hidup masyarakat kota, baik di Pulau Jawa maupun di daerah-daerah seluruh Indonesia.

"Orang sekarang tak lagi belanja di tempat. Mereka hanya melihat-lihat barang yang dipamerkan, terutama gadget (gawai), barang elektronik, dan pakaian. Belanjanya secara online," papar Hendra kepada Kompas.com, Rabu (27/4/2016). 

Jadi, tambah Hendra, esensi lifestyle mall itu bakal mengalami pergeseran. Pusat belanja gaya hidup hanya akan menjadi ruang-ruang pamer atau display room dan tempat gaul alias bersosialisasi, bertukar informasi, dan menunjukkan eksistensi.

Tak mengherankan jika dalam tahun-tahun mendatang, peritel yang akan melakukan ekspansi besar-besaran adalah mereka yang bergerak di sektor makanan, dan minuman seperti restoran atau kafe, pusat kebugaran, dan peritel-peritel yang menunjang gaya hidup.

"Secara fisik, jumlah ruang pusat belanja tidak akan berkurang. Yang berubah justru sektor bisnis peritelnya. Mereka yang mengisi ruang pusat belanja akan didominasi restoran dan kedai kopi," tutur Hendra.

Pusat belanja akan menjadi tempat nongkrong, tempat hiburan, dan untuk liburan keluarga. Bukan lagi tempat belanja, apalagi untuk mencari barang-barang seperti gawai, elektronik, dan pakaian.

"Kalau pun ada produk elektronik dan gadget di mal, hanya berupa display. Demikian halnya dengan produk pakaian," ujar Hendra.

Big Mall Gerbang utama pusat belanja, Big

Pasalnya, masyarakat yang berkunjung ke mal, belum tentu belanja. Mereka hanya akan mencoba produk baru. Karena beli produk online lebih menarik. Contohnya dari segi pembayaran paketan dengan kartu kredit atau promosi lainnya.

 

Indikasi perubahan tren pusat belanja ini ssudah nyata termpampang di depan mata. Pelaku bisnis ritel terbesar Indonesia, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAP) sudah mengantisipasi perubahan kecenderungan tren berbelanja dengan membangun platform baru yakni www.MAPEMALL.com.

MAP merupakan perusahaan ritel gaya hidup yang memiliki lebih dari 150 merek global dan 2.000 gerai ritel di lebih dari 60 kota seluruh Indonesia. Pada Kamis (18/2/2016), mereka secara resmi meluncurkan MAP EMALL.

Pengembangan platform baru oleh MAP ini termotivasi nilai industri e-commerce yang kian melesat. Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, nilai industri eCommerce tahun ini diprediksi mencapai 24 miliar dollar AS dan bakal terus melonjak 130 miliar dollar AS hingga 2020 mendatang.

Asosiasi eCommerce Indonesia (idEA) juga memperkirakan pertumbuhan kelas menengah Indonesia akan meningkatkan jumlah online shoppers hingga 10 juta orang pada 2016 dengan transaksi hingga senilai Rp 20 triliun secara daring.

 

Kurang tempat hiburan

Pusat belanja gaya hidup tidak hanya didominasi oleh properti-properti baru, melainkan juga properti lama yang diubah konsepnya menjadi lifestyle mall. 

Konversi konsep konvensional menjadi lifestyle mall, sejatinya sudah terjadi sejak tiga tahun lalu. Pemicunya, menucut Associate Director Retail Service Colliers International Indonesia adalah minimnya tempat-tempat hiburan yang bisa dijadikan wahana liburan keluarga. 

Karena itu, meski aktivitas daring sedang melesat, namun pusat-pusat belanja di Jakarta, dan kota-kota besar serta kota lapis kedua Indonesia masih bisa bertahan dan menjadi tujuan hiburan keluarga.

"Shopping mall masih menjadi tujuan belanja, meeting, hiburan, gaul, dan lain-lain," ujar Steve.

Dengan begitu, Jakarta, dan kota-kota lainnya di Indonesia masih punya peluang dalam membangun pusat belanja. Karena sarana hiburan masih minim, dan belum selengkap Singapura atau kota dunia lainnya.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :