Kelas Tanpa Dinding Pulau Sugi (2)

aziz
Kelas Tanpa Dinding Pulau Sugi (2)

Kawasan Telunas Private Island. foto. aziz

Meski sama-sama wajib minimal dua malam, harga di TBR masih relatif longgar. Sepasang tamu yang datang hanya dikenai biaya Rp5,5 juta untuk transport pulang pergi TBR-Sekupang, makan dan kamar Deluxe. Ada tambahan biaya Rp1,6 juta jika membawa seorang anak berumur di atas tahun.     

Kalau dipukul rata, tingkat hunian di dua tempat ini tergolong tinggi. TPI mencapai 40-65 persen sementara TBR 40-70 persen. Angka ini kemudian menjadikan Telunas Resort menjadi kawasan wisata penyetor pajak tertinggi di Kabupaten Karimun. 

Khusus TBR, sejak awal berdiri, tamu-tamu dari School Group sudah ada, termasuk Etno Group. Bermula dari kedatangan sepupu pemilik resort yang memboyong anak-anak sekolah dari Singapura bertandang ke sana. Tak hanya sekadar menikmati eksotisnya alam Telunas, tapi anak-anak sekolah ini justru belajar banyak hal di kawasan itu. Mulai dari mengenal mangrove, satwa, hingga berbaur dengan anak-anak sekolah yang ada di desa terdekat. 

Lama kelamaan cerita tentang ‘kelas tanpa dinding’ ini menyebar hingga ke sejumlah negara. Tak hanya anak-anak sekolah yang datang, tapi juga sejumlah mahasiswa yang kemudian belajar budaya di sejumlah desa yang ada di pulau itu. “Saban tahun kita kedatangan tamu tur budaya dari Amerika,” kata William. 

Desa Mentangun di Timur, Desa Pauh di Selatan, Teluk Bakau, Cengkui, Selat Binga dan Desa Sugi sudah merasakan dampak positif kedatangan para wisatawan ini. Sebab mereka tidak hanya sekadar datang, tapi juga berbagi ilmu. Jika siswa setingkat SMA yang datang, mereka akan mengajar bahasa inggris di sekolah-sekolah yang ada di desa itu. Membangun sejumlah fasilitas umum seperti jalan, sumur, pagar sekolah hingga fasilitas olahraga, malah sudah menjadi rutinitas dua kali setahun rombongan wisatawan ini. 

Biasanya mereka datang pada rentang waktu Februari hingga Mei dan September hingga awal November. Jumlah yang datang bahkan bisa mencapai 250 orang. Mereka tinggal di sana sepekan. Yang tur budaya lebih lama lagi, mencapai dua minggu. 
  
Rutinitas semacam ini membikin desa-desa yang ada mulai berbenah. Yang punya budaya lokal mulai serius menjaga kebudayaan yang ada biar lebih menarik para wisatawan yang datang. Sementara anak-anak sekolah yang sudah kadung bergaul dengan anak-anak sekolah mancanegara itu, semakin semangat belajar. Sebab tanpa sadar ada komunikasi di antara mereka untuk saling tukar pelajar. 

Inilah yang kemudian membikin Telunas Resort punya pemikiran baru untuk menyekolahkan anak-anak kampung yang berprestasi ke luar negeri, khususnya ke sekolah-sekolah tamu yang datang, seperti Singapura Internasional School. “Ada pemikiran kami seperti itu dan mudah-mudahan bisa segera terlaksana,” ujar William. 

Seiring waktu, TBR kemudian menambah bangunan Cottage untuk Free Independent Traveller (FIT). Tapi kalau di TPI hanya untuk FIT dan Corporate Group.

Tak terasa fajar sudah menyemburat di ufuk timur. Biru laut dan cuitan burung-burung di hutan Pulau Sugi seakan menahan langkah saya untuk kembali ke Sekupang meski waktu saya menikmati alam di sana masih beberapa jam lagi menunggu trip pemberangkatan kedua pada pukul 14.00 wib. 

Yang pasti, Pulau Sugi, Telunas telah menghadirkan cerita baru pada industri pariwisata di Negeri ini. Bahwa ternyata potensi alam tidak menjadi satu-satunya yang bisa membikin wisatawan mau datang dan berlama-lama di sana. Social service, pelayanan dan persahabatan yang dibangun, justru membikin bisnis wisata kian langgeng. “Mereka selalu kembali ke sini lantaran sudah menganggap kawasan ini rumah kedua mereka. membangun komunikasi layaknya keluarga, itu yang kami lakukan,” ujar William. ***

 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait