H.M. Harris, Bupati Pelalawan

Tak Ada Yang Mustahil

aziz
Tak Ada Yang Mustahil

HM Harris saat berada di PLTMG Langgam. foto. aziz

Dia pernah tujuh kali ‘ambruk’. Prinsip hidup membuatnya kembali sukses. 

Matahari baru saja menggelinding ke ufuk barat Minggu dua pekan lalu. Dari pintu samping rumah dinas Bupati Pelalawan di Pangkalan Kerinci --- sekitar 60 kilometer arah Timur Kota Pekanbaru Riau itu --- H.M. Harris nongol bersama seorang lelaki bertubuh tegap. Namanya Meirizal Ade Herliyanto yang sehari-hari menjadi ajudan.

Berpakaian kaos krah biasa, celana kain, sepatu sport plus topi dan tas sandang, lelaki 64 tahun itu memanggil Heri, sopir pribadinya. “Kita ke kawasan Segati sekarang. Biar kita lihat dulu sudah seperti apa pemasangan tiang-tiang listrik di sana,” pinta Bupati Pelalawan itu. 

Sejak Pusat Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Langgam Power di kawasan jalan lintas Langgam-Segati bisa menghasilkan listrik, Harris terus-terusan menjambangi perkampung yang belum dialiri listrik. 

Dia ingin mengejar target biar pada akhir tahun 2016, Rasio Elektrifikasi (RE) --- persentase masyarakat yang sudah menikmati aliran listrik ---- di Kabupaten Pelalawan berada di angka 80 persen. 

Angka ini tak begitu gendut dibanding lonjakan elektrifikasi yang dicapai Pelalawan dua tahun belakangan. Dari yang tadinya hanya di angka 21 persen melejit ke angka 59 persen. Saat itu, angka 21 persen tadi adalah angka elektrifikasi paling rendah dari 12 kabupaten kota yang ada di Riau. 

Oktober dua tahun lalu, Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang saat itu dijabat oleh Marzan Aziz Iskandar meneken tombol sirene di Gedung Daerah Laksamana Mangkudiraja, pertanda PLTMG Langgam Power itu resmi beroperasi. 

Saat itu baru lima mesin yang berputar. Tiap mesin menghasilkan daya sebesar 3 Megawatt (MW). Gas sebanyak 3 juta kaki kubik per hari atau Million Metric Standard Cubic Feet per Day (MMscfd) dipasok dari Seng Gas Plant (SGP) milik PT Energi Mega Persada yang hanya berjarak sekitar 20 meter dari komplek Langgam Power itu. 

Tapi sejak tahun lalu, jumlah mesin tadi bertambah tujuh unit. Lima diantaranya sudah bisa pula menghasilkan listrik. Sementara yang dua lagi sedang proses pemasangan instalasi. Ini berarti Langgam Power sudah bisa menggenjot sentrum hingga di angka 30 MW dari 10 mesin yang sudah beroperasi tadi.

Kalau pembangkit itu sudah hidup semua, maka Langgam Power akan butuh sekitar 15 MMscfd gas. Kebutuhan sebanyak itu tak jadi soal. Sebab ketersediaan gas di Pelalawan masih bisa menghidupi pembangkit listrik tadi hingga 25 tahun mendatang.    

Marzan tak pernah menyangka PLTMG Langgam Power bisa beroperasi secepat itu. "Ini pekerjaan gila. Dalam setahun bisa beroperasi. Padahal April dua tahun lalu kami baru sekadar cerita soal rencana pembangunan," kata Marzan usai meresmikan PLTMG itu. 

Omongan Tatang Akhmad Taufik, Deputi Kepala BPPT Bidang Pengkajian Kebijakan Teknologi sejalan dengan Marzan. "Kalau misalnya kerjaan semacam itu diserahkan ke BPPT, tiga tahun belum tentu akan beres," kata Perekayasa Madya BPPT ini saat berbincang dengan katakabar.com di Pangkalan Kerinci. 

Tak banyak yang tahu seperti apa duka Harris memperjuangkan PLTMG itu. Yang pasti, ini menjadi salah satu gawe yang sangat berkesan bagi Harris. Sebab mantan Ketua Umum Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) ini nyaris menggadai sertifikat rumah pribadi demi berdirinya PLTMG itu. 

Ceritanya begini; usai dilantik menjadi Bupati Pelalawan April 2011 lalu, Harris membikin program Pelalawan terang, Pelalawan Pintar dan Pelalawan Sehat dalam bingkai Visi Pembaharuan Menuju Kemandirian Pemerintah dan Masyarakat.  

Biar Pelalawan terang tadi dapat terwujud, Harris mulai mencari-cari sumber energi apa yang bisa dimanfaatkan. Ahaaa…, mantan Wakil Bupati Pelalawan ini langsung teringat dengan sumber gas yang ada di ‘Negeri Tuah Sekata” itu. 

Tak pikir panjang, dia bergerilya mencari dukungan. PLN Wilayah Indonesia Barat dia jambangi. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) yang kemudian berganti nama menjadi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dia datangi.

Meski melewati 'jalan' berliku, urusan dengan dua institusi itu beres juga. “Kami boleh memanfaatkan gas dan PLN mau bekerjasama meski terbatas pada jaringan dan teknis saja. Sementara urusan mesin pembangkit sepenuhnya tanggungjawab Pemkab Pelalawan,” kenang Harris saat berbincang dengan katakabar.com di Pangkalan Kerinci Minggu dua pekan lalu.

Urusan pembangkit ini membikin Harris pusing lagi. "Mau pakai duit yang mana untuk membeli mesin pembangkit listrik yang harganya ratusan miliar itu. Pakai duit daerah pasti tak akan cukup. Keperluan lain masih banyak yang antri," Mantan Ketua DPRD Pelalawan ini membatin.

Sudah kadung melangkah, Harris tak mau rencana yang sudah dia susun gagal total. Dia ambil jalan pintas. Meminjam duit ke bank. Bank mau-mau saja meminjamkan duit asal agunannya cocok. "Waktu itu saya sodorkan kebun. Kebetulan saya punya kebun kelapa sawit. Tapi bank justru meminta rumah pribadi saya sebagai jaminan," cerita Harris.

Harris sempat bingung. Sebab istrinya Ratna Mainar akan berat untuk mengatakan setuju. Benar saja, perempuan 60 tahun itu sontak terpelongo mendengar cerita Harris. “Ado apo-apo nanti dimano kite nak tinggal bang?. Cukuplah yang sudah-sudah kite pernah numpang-numpang,” Ratna mengeluh meski pada akhirnya dia menyetujui keinginan suaminya itu. 

Dapat lampu hijau dari keluarga, Harris bergegas melengkapi syarat administrasi peminjaman duit. Sembari menunggu pinjaman cair, Harris terbang ke Jakarta. Dia ingin diskusi dengan salah seorang koleganya soal cara mengelola PLTMG.

Di Jakarta, Harris diperkenalkan oleh koleganya itu ke PT Navigate Energy, perusahaan Austria yang kebetulan berbisnis mesin pembangkit tenaga gas. Dari literatur yang ada, mesin-mesin milik perusahaan ini rupanya sudah banyak dipakai di Indonesia. Inilah yang membuat Harris tertarik dan memutuskan membeli mesin milik Navigate itu.

Longok-longok mesin dan cerita ngalor ngidul, tiba-tiba Navigate menawarkan pilihan yang membikin Harris kaget. "Gimana kalau kita kerjasama saja, Pak. Bapak tak perlu membeli mesin. Kami yang akan menyiapkan semua," kata pihak perusahaan itu.

Setengah percaya, Harris mengangguk. Mereka pun membikin hitungan seperti ini; Navigate yang menyiapkan segala mesin yang dibutuhkan. Selain itu Pemkab Pelalawan mendapat saham 12 persen atas operasional mesin PLTMG berbanderol Rp 386 miliar itu.

"Sudahlah tak jadi menggadai rumah, saham dapat pula," Harris tertawa. "Inilah hikmah dari ketulusan itu. Termasuk ketulusan istri saya yang mau menggadai rumah kami. Alhamdulillah, ada-ada saja hal baik tak terduga yang kami rasakan," katanya.

Kesepahaman Harris bersama Navigate tadi akhirnya melahirkan PT Langgam Power. Perusahaan konsorsium antara BUMD Tuah Sekata milik Pemkab Pelalawan dan PT Navigate Energy. “Sekarang listrik Langgam Power tak hanya dinikmati oleh masyarakat Pelalawan. Tapi juga sejumlah kabupaten tetangga,” terang Harris. 

Terobosan lain yang dilakukan Harris, Pelalawan dipercaya oleh pemerintah pusat menjadi koridor Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) wilayah Sumatera. Biar MP3EI ini sukses, Pelalawan kemudian menggagas yang namanya kawasan terpadu teknopolitan. 

Gara-gara teknopolitan ini, pakar-pakar dari pusat hilir mudik di Pelalawan. Imbasnya, interaksi yang dilakukan telah membikin cara berpikir aparatur berubah drastis. Sudah mau terbuka dan sudah pula ngotot soal pencapaian kinerja. 

Dampak lain, Akademi Komunitas sudah hadir di Pelalawan. Sekolah Tinggi Teknologi Pelalawan menyusul. Dan orang Pelalawan yang dikirim tugas belajar ke negeri tetangga Malaysia demi Teknopolitan tadi sudah pula menghasilkan tiga paten di sektor perkelapasawitan.    

Harris juga membikin Program Percepatan Infrastruktur Desa dan Kelurahan (PPIDK) yang cukup unik. Salah satunya pembangunan jalan di 118 desa dan kelurahan yang ada di Kabupaten Pelalawan. Dari perencanaan, pengerjaan, siapa penanggungjawab, siapa pekerja, diputuskan bersama.

Ada 40-50 masyarakat yang terlibat untung pengerjaan jalan sekitar 1 kilometer. Dari hari Senin sampai Sabtu mereka digaji. Khusus hari Minggu masyarakat gotong-royong tanpa imbalan sepeser pun. 

Gara-gara pola gotong royong ini, duit yang dibutuhkan untuk membangun jalan beton sepanjang 700 meter, lebar 2,25 meter dan tebal 15 sentimeter hanya sekitar Rp 500 juta. Sementara jika diproyekkan, ongkos untuk membikin jalan itu bisa membengkak hingga lebih dari Rp 1 miliar. 

Semua pekerjaan masyarakat akan dinilai oleh tim khusus. Desa dan kelurahan yang paling tinggi swadaya dan kwalitas kerjanya, akan mendapat prioritas tambahan plafon anggaran bantuan tahun berikutnya. “Itu semacam reward bagi keseriusan mereka,” ujar Harris.  

Harris cerita, pola gotong royong tadi telah membikin masyarakat semakin akrab. Bahkan antara Kepala Desa dan Badan Perwakilan Desa (BPD) yang dulunya sering rebut, sekarang sudah akur. 

Dan lewat program semacam ini pula, ratusan sarjana di Pelalawan yang menganggur jadi terlibat di program ini. “Biarlah mereka belajar menjadi seorang enterpreneur. Sebab memang seharusnya lah mereka begitu. Berjiwa entrepreneurship. Bukan mencari pekerjaan,” katanya. 

Saat jalan yang dibangun oleh masyarakat tadi kelar, jangan coba-coba seenake dewe melintas. Sebab ada Kelompok Pemanfaat dan Pemelihara (KPP) jalan bikinan masyarakat yang menjadi pengawas penggunaan jalan itu. 

Untuk program semacam ini Harris hanya menggelontorkan uang Rp 55 miliar untuk semua desa dan kelurahan yang ada. Tiap desa dan kelurahan mendapat jatah Rp 400 juta hingga Rp 500 juta dalam bentuk bantuan. Khusus desa terpencil, dikasi Rp 500 juta. 

Nah, urusan pemasangan instalasi listrik tadi juga diserahkan secara gotong royong kepada masyarakat. Selain ongkosnya jauh lebih murah, proses pengerjaannya juga lebih cepat. “Modal Rp 125 jutaan sudah berdiri tiang listrik sejauh 1 kilometer. Kalau itu jadi proyek, nilainya akan membengkak menjadi sekitar Rp 350 juta,” ujarnya.

Lantaran cara tak lazim ini, Harris sempat jadi momok bagi sejumlah kontraktor. Tapi setelah dikasi penjelasan sederhana dan masyarakat juga sangat mendukung program gotong-royong tadi, semuanya jadi sepaham.

Kesepahaman inilah yang jadi modal utama bagi Harris untuk membikin Pelalawan lebih kinclong lagi. “Daerah ini sangat strategis. Wilayah seluas hampir 1,4 juta kilometer ini dibelah oleh jalur lintas timur Sumatera. Di bagian timur berbatasan langsung dengan Kepulauan Riau. Semuanya sangat strategis. Inilah makanya saya katakan soal pembaharuan tadi. Pembaharuan pola pikir untuk sama-sama maju,” ujarnya. 

Dari Tukang Cuci Hingga Jadi Bupati   

Harris kecil dilahirkan dari keluarga berada dan sangat dihormati di kampung kelahirannya bernama Langgam. Ayahnya Abdul Hamid, selain jadi pedagang karet, pernah pula jadi kepala desa. Kakeknya, ayah dari Ibunya, Rokimah, pernah jadi camat. 

Tapi semua itu tak membikin Harris jadi lelaki cemen alias manja. Didikan yang super disiplin dari Abdul Hamid lah yang membikin Harris musti bisa jadi diri sendiri. Hamid senang kalau Harris bisa mandiri. 

Hamid tak bertepuk sebelah tangan. Sejak di kelas satu Sekolah Rakyat (SR) sifat kemandirian dan kerja keras Harris sudah kelihatan. Ada-ada saja yang dikerjakan Harris biar bisa dapat duit. Mulai dari menjala ikan di sungai hingga jadi tukang panjat kelapa saat dia menjadi siswa di sekolah setingkat SMP di Daarun Nahdah Tawalib Bangkinang. 

Masih waktu di Daarun, jadi tukang jual buku-buku agama juga dia jabani. Ceramah lintas kampung dan bahkan jadi tukang cuci pakaian teman-temannya dia lakoni. Dia tidak minta duit untuk upah cucian itu. 

Yang dia inginkan justru dia boleh memakai pakaian tadi sebelum dibutuhkan oleh yang punya. “Pakaian saya cuma satu stel. Itupun seragam sekolah. Warnanya putih. Kalaupun saya bisa pakai baju bermerk Rider, itu punya orang,” kenang Harris tertawa. 

Sudahlah musti cari duit sendiri, Harris pun nyaris tak pernah tidur di rumah. Pulang mencari ikan dia lebih memilih ke surau. Di sanalah Harris kecil mengaji dan tidur. Lepas isya baru dia pulang. Itu pun hanya makan malam. Sebab ada kebiasaan di kampung, kalau mau makan malam harus beres dulu mengaji. 

Harris pernah merasakan sukses di usaha ekspor rotan di kawasan Jakarta. Punya pabrik dua unit dengan karyawan ribuan orang. Tapi dia pernah pula jatuh miskin hingga membayar sewa rumah Rp 60 ribu sebulan saja tak sanggup. 

Sangking perihnya, dia harus rela membopong anak keduanya yang meninggal dari rumah sakit hingga ke rumah kontrakan lantaran tak ada uang untuk menyewa ambulan. “Tujuh kali saya jatuh bangun dalam berusaha. Tapi saya tak pernah mau putus asa. Gigih, jujur dan banyak pergaulan adalah modal utama bagi saya. Dan saya juga memegang teguh prinsip, kenapa orang bisa, saya tidak,” ujarnya. 

Kegigihan itu pula yang tertular pada anak-anak Harris. Semua anak-anak Harris terbiasa hidup mandiri. Ada atau tidak duit yang dikirim oleh Harris, si anak tak pernah mengeluh. “Jangan sesekali mengeluh. Syukuri apa yang ada dan sedang kita rasakan. Entah itu pahit atau manis,” katanya.  

Nama : HM Harris

T.T.L : Langgam, 02 Februari 1950

Agama : Islam

Alamat : Komplek perumahan Pemkab Pelalawan

Pendidikan

- Sekolah Rakyat Langgam

- Ponpes Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang

- Sekolah Lanjutan Atas Rokan Hulu

Pengalaman Organisasi

- Ketua Gapensi Jakarta Timur 1981-1986

- Pengurus Asosiasi Meubel Indonesia 1986-1989

- Ketua KADIN Kabupaten Pelalawan 1999-2001

- Ketua DPD II Golkar Kabupaten Pelalawan 1999-2004

- Ketua DPD II Golkar Kabupaten Pelalawan 2004-2009

- Ketua DPD II Golkar Kabupaten Pelalawan 2009-2014

- Ketua Umum Asosiasi DPRD Kabupaten Seluruh Indonesia (ADKASI) 2005-2010

- Ketua Dewan Pengawas ADKASI 2010-2015

- Dewan Penasehat Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Pelalawan 2006-2011

Pengalaman Pekerjaan

- Ketua DPRD Kabupaten Pelalawan 1999-2004

- Ketua DPRD Kabupaten Pelalawan 2004-2009

- Wakil Bupati Pelalawan 2006-2011

Pengalaman lain

- LEMHANAS RI 1997

- Dirut PT Harris Primatama 1984-1999

- Dirut PT Cipta Prasarana Sewadisi 1986-1999

Keluarga

Istri 

Nama : Hj. Ratna Mainar

T.T.L : Langgam, 17 Januari 1954

Pekerjaan : Pensiunan PNS

Anak 

- Budi Artiful, SE

- Adi Sukemi, ST.,MT

- Sewitri

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :