Filosofi Papan Catur Ala Jumaga

aziz
Filosofi Papan Catur Ala Jumaga

Ketua DPRD Kepri, Jumaga Nadeak. foto. ist

Batam (katakabar) - Tengoklah sikap Jumaga Nadeak saat berinteraksi dengan orang lain, atau saat menerima warga di ruang kerja mapun di rumah pribadinya. Lelaki yang Oktober nanti genap berusia 60 tahun ini akan dengan sabar menyimak tetamu itu ngomong, sampai selesai.

Begitu juga saat berhadapan dengan koleganya di kantor, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Kepulauan Riau (DPRD Kepri) ini pasti akan mendengarkan dulu omongan yang ada sampai tuntas, barulah mantan Komandan Resimen Mahasiswa Universitas Islam Riau (UIR) ini bicara.

"Dengan membiarkan mereka bicara sampai kelar, membikin saya bisa memberikan solusi terbaik, jika itu  butuh solusi," cerita ayah tiga anak ini di kawasan Batam Center Kota Batam Provinsi Kepulauan Riau, Selasa pekan lalu.

Sejak SMP Jumaga sudah senang bermain catur. Di kalangan sebayanya hingga orang di kampung, kemampuan mantan pengacara ini diperhitungkan. Kebiasaan bermain catur itu terbawa terus hingga dia menggeluti dunia pengacara.

Tapi setelah teknologi semakin canggih dan kesibukannya di legislatif, Jumaga lebih memilih melawan mesin di IPad. "Bermain di layar jauh lebih enak. Kapan saja bisa main, bisa diulang dan lawan kita juga ‘keras’," ujar lelaki yang punya prinsip ‘Saya akan jauh lebih berguna ketika saya sudah bisa membantu orang yang pernah benci kepada saya’ itu.

Saban bangun tidur dan saat akan tidur, Ketua Pengurus Cabang (Pengcab) Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Provinsi Kepri ini pasti bermain catur. 

"Bagi saya, catur enggak sekadar hobi. Di catur saya dapatkan banyak hal. Mulai dari strategi, kesabaran dan ketenangan. Catur menjadi menu rutin bagi saya. Itulah makanya, saya bisa jauh lebih tenang saat menghadapi persoalan, menyimak orang sedang bicara, termasuk saat saya harus memeriksa banyak berkas sebelum saya teken, saya bisa lebih teliti," katanya.      

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait