Layanan Publik Ala Suparman

Yahya Siregar
Layanan Publik Ala Suparman

Bupati Rohul Suparman saat berinteraksi dengan pasien di RSUD Rohul di Pasir Pangaraian. foto. hms setdakab rohul

Pasir Pangaraian (katakabar)- Anda yang kebetulan dipercaya bertugas di pelayanan publik, rajin dan bekerjalah sepenuh hati, layani masyarakat seperti melayani diri sendiri. 

Kalau sudah rajin dan bekerja sepenuh hati, Bupati Rokan Hulu, Suparman, pasti akan senang dan bangga. Sebab misinya untuk memaksimalkan pelayanan publik bakal kesampaian. 

Misi itu kelihatan dari seringnya mantan Ketua DPRD Riau ini bertandang ke pusat pelayanan publik. Kemarin misalnya, entah sudah kali keberapa lelaki ini mendadak datang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Rohul di Pasir Pangaraian. 

Lantaran datang mendadak, Humas RSUD Rohul Elimawati, Bagian Tata Usaha M. Syahayat dan Subag Administrasi dan Kepegawaian Rike Desmalizarni, sampai kelabakan mendampingi Suparman keliling sejumlah ruangan.

Mulai dari Poli Gigi, Poli Bedah, Poli Paru, Poli Mata, Poli Penyakit Dalam, Poli Anak, Poli Kebidanan, dan Poli THT didatangi Suparman satu persatu.

Sambil jalan, Suparman bertegur sapa dengan sejumlah pasien yang ada. Lelaki ini ingin tahu, apa saja keluhan pasien tentang pelayanan rumah sakit itu. 

Hasilnya, secara umum kata Suparman, pelayanan dan peralatan RSUD sudah bagus meski sederet persoalan masih ada. Dan persoalan paling pokok itu adalah kurangnya tenaga medis.

Kekurangan ini sudah berlangsung cukup lama. Sebab 6 tahun belakangan kata Suparman, Pemkab Rohul belum membuka penerimaan CPNS tenaga medis. 

Mantan Ketua KNPI Riau ini berharap pemerintah mau memahami kondisi yang terjadi di RSUD Rohul, hingga kemudian memberikan izin untuk penerimaan CPNS tenaga medis tadi.  

Kalau tidak segera, antrian ke sejumlah poli masih akan terus terjadi. Kemarin saja misalnya, di poli penyakit dalam yang musti antri mencapai 90 pasien. 

Padahal poli penyakit dalam sudah ada dua. Spesialis yang melayani pun ada tiga orang meski sementara ini satu orang sedang menjalani pendidikan dan pelatihan (Diklat) di Bandung Jawa Barat.  

Spesialis ini dikirim diklat untuk persiapan pembukaan unit pelayanan Hemodialisa (cuci darah) pada pasien ginjal dan lainnya.

Kalau ditengok dari jumlah poli yang ada, 23 orang spesialis masih dianggap kurang untuk melayani 9 dari 10 poli yang ada. Lagi-lagi kekurangan tenaga medis masih menjadi persoalan pokok.  

Kalau mimpi besar Suparman segera terwujud, kekurangan tenaga medis ini akan semakin besar. Sebab Suparman ingin menghadirkan rumah sakit yang jauh lebih mumpuni di masa datang. 

"Segala sesuatunya sedang kita persiapkan, mulai dari perluasan lahan dan kelanjutan pembangunan gedung. Yang pasti kita akan persiapkan dengan matanglah," katanya. (adv/hum)

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait