Rianto, SH, Anggota DPRD Kabupaten Bengkalis

Penghuni Gubuk Reot Simpang Lima

Sahdan
Penghuni Gubuk Reot Simpang Lima

Rianto, anggota DPRD Bengkalis. foto. ist

Dia tak pernah lupa dengan gubuk berdinding kulit kayu di simpang lima Desa Petani.

Inilah hari pertama lelaki 40 tahun ini menjadi Guru di SD Negeri 045 kelas jauh di kawasan Simpang Lima, Desa Petani, Kecamatan Mandau, persis tahun 1998 silam. 

Dia menggantikan guru sebelumnya bernama Edi yang pindah ke Rokan Hulu (Rohul). Sama seperti Edi, dia harus mengajari semua mata pelajaran kepada 30 orang murid yang ada di sana, dengan status honorer. 

"Waktu itu guru cuma satu. Lantaran Pak Edi pindah, sayalah yang diminta warga menjadi pengganti. Saya digaji Rp60 ribu sebulan. Uang itu hasil urunan orang tua murid yang sekolah di sana, Rp2000 sebulan," kenang Rianto saat berbincang dengan katakabar.com di salah satu warung di kawasan jalan Hangtuah, Duri, Kecamatan Mandau, dua pekan lalu.

Tak pernah terlintas dalam benak Rianto bakal menjalani hidup semacam itu. Sebab tujuannya merantau ke Simpang Lima dari Aek Kota Batu, Rantau Parapat, Sumatera Utara (Sumut) cuma untuk merawat ladang seluas dua hektar yang sudah kadung dibeli ayahnya, Adi Suroso, empat tahun sebelumnya.

"Dulu ladang itu dipinjam orang untuk bertanam padi. Tapi kemudian ayah saya pengen ladang itu ditanam sawit. Itulah makanya tahun ’98 saya datang ke Simpang Lima. Hitung-hitung biar mandiri juga. Saya tinggal di gubuk yang ada di ladang itu. Gubuk yang cuma berukuran 2x3 meter berdinding kulit kayu," kenang Rianto. 

Seharian ayah dari Tasya Anjasmara dan Harimurti Notonegoro ini berjibaku di ladang. Membersihkan dan menanami ladang itu sesuai keinginan ayahnya. Kadang dia dibantu oleh abangnya, Syahruddin yang sudah lebih dulu merantau ke Desa Petani. 

"Setelah jadi guru, saya bagi waktu. Pagi ke sekolah, sorenya ke ladang. Waktu itu masih sangat susah. Saya harus jalan kaki ladang-sekolah meski tidak terlalu jauh. Mie instan lebih sering jadi pengganjal perut," kata Rianto tertawa.

Satu hari di bulan Maret 2000, jebolan SMEA Swasta Kampung Pajak Aek Kota Baru ini, jatuh hati dengan seorang kembang desa di Simpang Lima itu. Namanya Rismawati. Entah kenapa lelaki ini langsung yakin bahwa Rismawati lah soulmate nya. Itulah makanya, cuma berpacaran seumur jagung, Rianto langsung melamar perempuan itu. 

Setelah menikah, mertua minta Rianto tinggal di rumahnya saja. Lelaki ini manut. Di situ, anak kedua dari lima bersaudara ini mulai putar otak. Ndak mungkin dengan gaji yang cuma Rp60 ribu sebulan dia bisa menghidupi rumah tangganya. 

Singkat cerita, Rismawati menggantikan suaminya mengajar di sekolah itu. Sementara Rianto masuk hutan dengan membawa enam orang pekerja. Hutan di kawasan Simpang Lima dan Sei Rangau dia jajal. "Saat itu lagi ngetrend bisnis kayu, saya coba peruntungan di sana. Saya turun langsung menggolek kayu hasil tebangan. Kalau bagi orang kayu istilahnya ngongkak," kata Rianto. 

Di bisnis kayu inilah Rianto kenal dengan Ramlan. Sosok yang kemudian menjadi sumber inspirasinya. Sebab Ramlan tak sekadar pebisnis kayu tapi juga pegiat di salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). 

Lama-lama kedua "bapak-anak" ini makin akrab. Rianto pun ikut menjadi pegiat LSM. Ramlan banyak memberikan dorongan kepada Rianto supaya selalu berfikir positif dan maju. Sebaliknya apa-apa yang membikin Rianto penasaran, muaranya selalu sama Ramlan. 

Main kayu mentok, Rianto mencoba dunia baru. Menjadi wartawan dan sempat menjadi Kepala Biro Tabloid Lalulintas dan Kriminalitas. Pegiat LSM tetap jalan. Profesi semacam ini dia jabani hingga lima tahun. 

Hingga suatu saat, Ramlan memanggil Rianto ke rumahnya. "Kamu ikut nyalon kepala desa ya..." disodori omongan semacam itu Rianto kaget. 

"Manalah mungkin, Pak," Rianto menyanggah. Dia tak yakin sama sekali bakal bisa menang bertarung menjadi orang nomor satu di Desa Petani itu.

"Kamu siap, nggak? Pokoknya kamu harus maju," Ramlan setengah memaksa. 

Rianto minta waktu berpikir. Alhasil, jadilah dia bertarung melawan Syafrizal dan Hendrik (almarhum). Dua nama terakhir adalah sosok yang boleh dibilang sudah terkenal di kampung itu. Apalagi Syafrizal, dia petahana Desa Petani.      

Di luar dugaan, Rianto menang. Inilah babak baru kehidupannya di pemerintahan. Dasar orang kampung, lelaki ini menjadikan etika dan tatakrama tetap menjadi pegangan utama. Inilah yang membikin dia kian disukai banyak orang. 

Belum lagi apa-apa tentang desa itu selalu dia rundingkan dengan tetua kampung, pemuda dan ibu-ibu. "Semuanya haru kita libatkan. Sebab ini kampung kita. Maju mundurnya kampung ini tergantung kita semua. Bukan tergantung saya saja," begitulah omongannya kepada warga. 

Cara-cara semacam ini ternyata nyambung di hati warga. Maka tak heran, selama memimpin Desa Petani, dua kali Rianto berhasil memboyong desa itu menjadi desa terbaik se-Kecamatan Mandau. Puncaknya, Desa Petani kian berkibar di level nasional saat desa itu terpilih menjadi tempat Latihan Integrasi Taruna Wreda (Latsitarda). Mau tak mau, Rianto pun jadi punya banyak teman di lingkungan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Selama menjadi kepala desa, Rianto benar-benar menikmati yang namanya pengabdian masyarakat. Semangatnya mulai membulat untuk mengabdi di level yang lebih tinggi. Bahwa untuk mengabdi lebih jauh, dia harus menggeluti dunia politik. 

Inilah yang membikin dia membulatkan tekad untuk maju di pemilihan legislatif meski jabatannya menjadi kepala desa masih tersisa setahun lagi. Modal kedekatan dan kepercayaan masyarakat yang selama ini dia bina, 3535 suara akhirnya mengantarkan dia duduk di kursi DPRD Bengkalis.  

"Jujur, saya merasakan perjalanan hidup saya kayak berasa mimpi saja. Sebab masih terasa sama saya gimana tidur di gubuk ladang dengan menu yang hampir saban hari mie instan," bergetar suara lelaki ini membayangkan perjalanan hidupnya.

Di DPRD Bengkalis, Rianto tak sekadar menjadi anggota biasa. Lagi-lagi dia lama dipercaya oleh rekan-rekannya menjadi ketua Komisi III. 

Sebuah kepercayaan yang menurutnya musti selalu terjaga. "Nyari uang nggak begitu susah. Tapi nyari kepercayaan dan menjaga kepercayaan, ini yang teramat susah. Satu hal yang teramat penting juga, tetaplah dalam kesederhanaan meski strata hidup terus meningkat," katanya. 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait