Menyoal Kelakuan Incumbent

aziz
Menyoal Kelakuan Incumbent

Pekanbaru (katakabar) - Pemerintah Pusat musti memperketat aturan main soal incumbent yang berniat maju kembali pada perebutan kekuasaan periode mendatang. 

Sebab belakangan ditemukan indikasi bahwa incumbent sudah kebablasan menggunakan fasilitas negara demi meningkatkan pamornya jelang pemilu. 

Celakanya, incumbent malah mengikutkan sejumlah anak buahnya dalam proses pendongkrakan pamor itu. Seperti yang terjadi pada September lalu, ditemukan lima orang kepala dinas di Pemerintah Provinsi Riau yang ikut berfoto bersama saat Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Partai Golkar Riau berlangsung di Pasir Pangaraian, Kabupaten Rokan Hulu (Rohul). 

Temuan lima orang itu ---- Kadis Pekerjaan Umum Riau Dadang Eko Purwanto, Kadis Pendidikan Riau Rudianto, Kadis Perkebunan Riau Feri HC, Kadis Kesehatan Mimi Yulianti Nazir, dan Plt. Kadis Perhubungan Riau Rahmad Rahim --- sontak memancing reaksi keras dari banyak warga Riau dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Riau. 

"Kejadian semacam itu tidak hanya terjadi di Riau. Tapi di seluruh Indonesia. tak hanya oleh bupati atau walikota, tapi juga gubernur bahkan presiden," kata pengamat politik Riau, Saiman Pakpahan saat berbincang dengan katakabar.com di Pekanbaru jelang siang tadi.   

Selain menafaatkan anak buah, incumbent juga tak jarang memanfaatkan fasilitas negara dengan tujuan kampanye terselubung. "Ini yang musti diperhatikan oleh KPU. Di Riau sendiri, prosesi kampanye terselubung itu sudah berlangsung sejak tahun lalu. Tapi sampai sekarang tahapan Pilkada kan belum jelas. Ini tentu akan sangat merugikan kandidat non incumbent dan bahkan merugikan negara," katanya. 

Secara perturan pemerintahan kata Saiman, apa yang dilakukan oleh lima kepala dinas di Pemprov Riau itu adalah perbuatan haram. "Sebab mereka pelayan publik, harus netral. Kegiatan politik, itu keberpihakan. Bukan keberpihakan secara umum," ujar Saiman.

Di kalangan akademisi kata Saiman, fenomena pemanfaatan anak buah dan fasilitas negara, sudah sering menjadi bahan perbincangan, tapi masih hanya sebatas itu. 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait