Sebait Cerita Tentang Harris (3)

Tentang Anak-Anak Mai Kasih

herry
Tentang Anak-Anak Mai Kasih

HM Harris berfoto bersama anak-anak Mai Kasih dan Bindrik. foto. herry

Pekanbaru (katakabar) Mai Kasih Lubis hanya bisa mengurut dada menengok nasib empat orang anaknya yang terpaksa ngendon di rumah lantaran tak masuk sekolah. Bukan lantaran dua pasang anaknya itu malas sekolah.  

Vila Delvia 7 tahun, baru saja dilarang gurunya masuk sekolah lantaran utang uang baju Rp450 ribu di SDN 107 Pekanbaru, belum dia bayar. 

Sering diejek teman-temannya di sekolah lantaran utang uang baju adiknya itu, Romasta Priskia Sitinjak 11 tahun, memilih tak masuk sekolah lagi. 

Belum beres masalah ini, si kembar --- Simon dan Semeon 10 tahun --- sudah "dirumahkan" pula oleh Yayasan Maranata SD Mekar Sari Rumbai Pekanbaru, gara-gara tunggakan uang sekolah Rp2 juta.

"Kek manalah kubilang, ya. Bapaknya anak-anak ini pencariannya tak menentu. Kadang cuma bawa uang Rp30 ribu nya pulang setelah seharian pergi kerja. Uang itulah yang harus saya bikin cukup," ujar perempuan 32 tahun ini saat berbincang dengan katakabar.com di rumah papak lapuk warisan orang tuanya di kawasan kelurahan Sri Palas Kecamatan Rumbai Pekanbaru, tadi siang.   

Kebetulan suaminya, Bindrik Sitinjak 37 tahun ada juga di rumah itu. Mereka lagi dikunjungi tamu istimewa dari Pelalawan. 

Tak pernah terbayangkan oleh Bindrik kalau hidupnya bersama istri dan anak-anaknya bakal seperti itu setelah hijrah dari Samosir Sumatera Utara (sumut) 13 tahun silam. 

Bukan dia tidak tahu kalau uang sekolah tak bayar  lagi. Tapi banyak pejabat yang tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu bahwa masih banyak tetek bengek yang dibikin sekolah yang ujung-ujungnya harus menggelontorkan duit.   

Bindrik hanya bisa mengusap wajahnya. Sesekali matanya melirik perut istrinya yang sudah hamil tua. Lepas itu dia menarik nafas. 

Entah dari manalah kemudian HM Harris, Bupati  Pelalawan, tahu tentang kisah anak-anak Bindrik ini. Tiba-tiba saja dia sudah ada di sana. 

Bergetar hati lelaki ini menengok wajah-wajah lugu anak-anak Bindrik itu. Nyaris air matanya menetes. Amplop putih berisi duit Rp5 juta dia rogoh dari kantong tasnya dan kemudian dia sodorkan kepada Mai kasih. "Ini untuk melunasi utang sekolah anak-anak ya. Sabar dan terus berusaha," Setengah berbisik Harris menyemangati keluarga itu. 

Mai Kasih tak bisa lagi menahan air matanya. Suaranya tercekat,"Terimakasih ya, Pak," katanya terbata-bata. Bindrik pun ikut larut dalam suasana itu, termasuk anak-anaknya. 

Harris hanya bisa menatap jauh keluar. Menerabas jendela usang rumah milik Timur Ria Sianturi 58 tahun, orang tua Mai Kasih. 

Kembali lelaki 67 tahun ini terbayang dengan kisah pahit dulu, masa-masa dia bersekolah hingga kemudian tujuh kali ambruk jatuh miskin. Sangking miskinnya, dia harus membopong mayat anak keduanya dari Rumah Sakit Umum Pekanbaru menuju rumah mertuanya di kawasan Gatot  Subroto Pekanbaru lantaran tidak punya duit untuk menyewa ambulance.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait