Sebait Cerita Tentang Harris (4)

Sepenggal Cerita di Gatot Subroto

aziz
Sepenggal Cerita di Gatot Subroto

Bupati Pelalawan HM Harris menggandeng Ratna Mainar usai sebuah proses di Pelalawan. foto. ist

Sedari tadi perempuan 23 tahun ini memandangi wajah lelaki yang tertidur di tikar itu. Lelaki yang telah membikin jantungnya berdegup kencang pada pandangan pertama. Lelaki yang telah menjemputnya ke Langgam atas nama cinta. 

Lelaki yang kemudian membikin dia semakin paham makna kesetiaan, pengorbanan, kemandirian dan harapan. Dan kesetiaan tadi telah membikin Ratna Mainar tak pernah mengenal kata mengeluh, meski keadaan teramat sulit seperti sekarang. 

"Hhhhhhh..." perempuan cantik ini manarik nafas panjang. Sebelum lamunannya semakin jauh, Agus Isnaini yang sedari tadi di gendongannya menggeliat, lalu merengek. 

Reflek jemarinya mengelus tubuh putra keduanya itu. Hanya sebentar, elusan itu langsung membikin bayi berumur 2 tahun ini berasa anteng. 

Di tikar lepek itu, mata Harris sudah sedari tadi terbuka. Rengekan Agus tadi rupanya membikin dia terbangun. "Belum tidur, Na" lembut suara Harris menegur istrinya itu.  

"Belum, bang. Ado yang sedang Na fikirkan," kata perempuan ini sambil mendekat dan duduk di tikar tempat Harris tidur tadi. Dia tinggalkan Agus yang sudah kembali lelap.

"Macam mano kalau Na cari kerja, Bang. Apa sajalah yang penting halal. Nyuci kain orang pun tak apalah," tatapan Ratna membentur mata suaminya itu penuh harap. 

Ratna berharap suaminya memberi restu meski dia tahu, Harris sangat tidak ingin istrinya capek, apalagi urusan mencari duit.  

Tapi untuk kondisi saat ini, mau tak mau Harris harus realistis. Kalau tidak, kondisi akan semakin buruk. Sebab tak ada lagi yang mau dijual untuk mengganjal perut dan biaya anak berobat. Semua sudah terjual bahkan piring dan gelas sekalipun, ikut ludes. 

Kalau saja prahara Selat Malaka itu tak terjadi, Harris tak akan pernah merasakan hidup semenderita ini. Sebab waktu itu dia sudah menjadi eksportir kayu gelondongan. 

Harris mengirim kayu ke negeri seberang. Pas di Selat Malaka, kapal yang membawa kayu itu dihantam badai. Kapal berantakan, semua kayu yang ada di kapal terjungkal ke laut. 

Akibatnya, Harris tak hanya rugi oleh kayu yang hanyut, tapi sejumlah denda juga musti dia bayar. Termasuk biaya kapal pengangkut lanjutan yang sudah berhari - hari menunggu kirimannya. Tak tahu lagi gimana cara Harris mengorek duit untuk menutupi semua itu. Harris benar-benar kelimpungan. 

Setelah dapat restu suami, Ratna dapat kerjaan menjadi guru honor Sekolah Dasar (SD) di kawasan Gatot Subroto Pekanbaru, tak jauh dari rumah mertua, tempat mereka menumpang. Dari sekolah, perempuan ini dapat imbalan Rp3000 sebulan plus beras 10 kilogram. 

Dengan kondisi saat itu, apa yang didapat Ratna tak mencukupi, terutama untuk menopang biaya berobat Agus. 

Alhasil, kembali perempuan ini minta pendapat suaminya tentang ide menjadi tukang cuci kain. Alamakkk...blingsatan perasaan Harris mendengar ide 'konyol' istrinya itu. 

Benar-benar menjadi lelaki tak bertanggungjawab lah dia jika sampai membiarkan istrinya menjadi tukang cuci kain orang. Harris menarik nafas panjang. Lagi-lagi kembali ke pikiran realistis tadi. Sangat berat memang, tapi Harris terpaksa merelakan.  

Ratna mengambil borongan mencuci kain di dua rumah, masih tetangga. Jauh sebelum azan subuh, perempuan ini sudah menembus dinginnya malam ke rumah tetangga yang satu. Beres dari situ lanjut lagi ke rumah tetangga yang satunya lagi. Dua jam kemudian dia pulang. 

Walau berasa lelah, tak sekalipun Ratna memasang muka mesem. Apa yang bisa dia suguhkan untuk Harris tetap dia suguhkan. Telatennya Ratna memandikan dan memberesi keperluan anak, tak berkurang. (bersambung)

    

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait