Sebait Cerita Tentang Harris (2)

Cara Jadul Membangun Rasa

aziz
Cara Jadul Membangun Rasa

jalan semenisasi yang dibangun warga lewat program PPIDK. foto. aziz

Pakai cara jadul, ongkos membangun tak mesti gendut. Tak hanya bangunan yang dinikmati, tapi juga rasa kebersamaan. 

Harris tidak pernah menikmati bangku kuliah, jebolan pesantren, iya. Selebihnya, lelaki 67 tahun ini hanya
belajar pada maha guru bernama alam, pada rasa yang tak pernah terkikis dan pada pendahulu yang berpesan.

Alhasil perjalanan Bupati Pelalawan ini penuh warna. Mulai dari tukang ongkak kayu balak hingga paparan di depan puluhan profesor di kampus Universitas Indonesia (UI), sudah dia lewati. Waktu itu, dia mengurai soal energi listrik yang lagi dia geber, termasuk juga soal teknopolitan yang kini berubah namanya menjadi
Teknopark. 

Sebelum ngomong terlalu jauh soal Teknopark, ada satu cerita menarik tentang alam dan kebiasaan masyarakat Indonesia yang diadopsi Harris sejak lima tahun lalu; budaya gotong-royong.

"Dulu, untuk membangun jalan atau jembatan, orang kampung gotong-royong. Bahkan mereka bisa membangun desanya tanpa bantuan pemerintah. Kenapa tradisi nenek moyang kita itu tidak kita pakai?" katanya.  

Bagi Harris, membangun dengan pola gotong-royong tidak sekadar menghasilkan bangunan. Dibalik itu, lewat gotong-royong, kebersamaan dan kepekaan rasa antar sesama, akan selalu terjaga. 

Budaya ini dia jadikan program bernama Percepatan Infrastruktur Desa dan Kelurahan (PPIDK) lewat
Peraturan Bupati Pelalawan tahun 2012. 

Desa dan kelurahan dikasi jatah modal pembangunan Rp400 juta. Desa terpencil, Rp500 juta. Untuk 118 desa dan keluraha, kita hanya menyiapkan duit Rp55 miliar" cerita Harris. 

Ada 14 item infrastruktur yang boleh dibangun pakai duit itu. Salah satunya adalah pembangunan jalan. Di
sinilah cerita menarik itu terjadi.  

Baca juga: Keukeuh

Semula banyak orang yang tidak percaya kalau masyarakat bisa membikin jalan. Tapi setelah dikasi kepercayaan, masyarakat justru bisa menjadi pengawas, administrator dan sekaligus pekerja. 

Semua masyarakat terlibat merencanakan hingga menengok gambar rancang bangun. Jangan sesekali punya niat mencurangi duit tadi, masyarakat bakal segera tahu. 

Satu hal lagi, lewat program membangun pola gotong-royong ini, ratusan sarjana di Pelalawan yang belum
beruntung mendapat pekerjaan, jadi terlibat di program itu. 

"Biarlah mereka belajar menjadi enterpreneur. Dan memang musti berjiwa entrepreneurship, bukan mencari
pekerjaan," kata Harris. 

Fendriyanto merenung saat mendengar cerita soal program gotong-royong ini. Warga kawasan kilometer 4 Kulim Kecamatan Bathin Solapan Kabupaten Bengkalis ini kemudian mengutak-atik gadgetnya. 

"Anggaplah ada 2000 desa dan kelurahan di Riau. Masing-masing desa dan kelurahan dikasi duit Rp400 juta. Nilainya masih Rp800 miliar. Kalau yang semacam ini dilakukan oleh Pemprov Riau selama 5 tahun belakangan, saya yakin wajah pedesaan di Riau bakal jauh lebih baik. Sayang, Pak Harris hanya Bupati Pelalawan," katanya ngenes

M Isbad juga mengaku seperti itu. Warga Desa Rimbo Jaya Kecamatan Tapung Hulu Kabupaten Kampar ini mengaku "iri" dengan apa yang dirasakan oleh warga Pelalawan. 

"Kalau saja program semacam itu ada di daerah kami atau dari Pemprov Riau, wahhh...kampung ini pasti sudah sejak lama kinclong. Ini saja banyak yang kami bangun swadaya di sini," katanya. 

Tentang PPIDK tadi, simaklah cerita orang Dusun Sando Desa Bagan Laguh Kecamatan Bunut Kabupaten Pelalawan ini. Namanya Junan 55 tahun.   

Sejak dua tahun lalu dia sudah bisa bernapas lega. Selain hasil kebun kelapa sawit seluas tiga hektar
miliknya tak harus dilansir lagi ke jalan raya, ongkos angkut yang musti dia gelontorkan untuk hasil panen
satu ton per dua pekan, tak bengkak lagi. Hanya Rp100 ribu per ton dari yang tadinya Rp200 ribu. 

Sebelum jalan selebar enam meter yang melintasi kebun sawitnya rampung, Junan musti menyewa orang untuk mengangkut hasil kebunnya melewati jalan tikus menuju jalan raya. 

Tak hanya Junan yang menikmati kemudahan itu, masih ada sekitar 200 kepala keluarga lagi merasakan hal yang sama. "Produksi kebun masyarakat kian meningkat dan harga tanah di sini pun jadi naik," cerita Syafrizal. Lelaki 38 tahun ini adalah Sekretaris Desa Bagan Laguh yang dijejali sekitar 337 kepala keluarga itu. 

Ayah dua anak ini kemudian cerita kalau desa mereka kebagian duit Rp400 juta. Duit itu kemudian dipakai untuk menggerus tanah dari bibir jalan lintas Bunut-Teluk Meranti (Dusun Sando) hingga ke Simpang Lebuh sejauh 2,3 kilometer. Membikin 6 unit gorong-gorong, satu unit box culvert dan gaji pekerja juga dari uang itu. 

"Kami gotong-royong merintis jalan. Tanah masyarakat yang terkena pembangunan jalan tidak diganti. Mereka dengan suka rela menghibahkan. Alhamdulillah, meski baru jalan tanah, tapi masyarakat sudah senang," kata Syafrizal sumringah. 

Setahun sebelum pembangunan jalan tadi, Desa Bagan Laguh juga sudah kebagian duit PPIDK itu. Jumlah duitnya sama. Uang itu kemudian dipakai untuk membangun jalan di Dusun Sagai. Dalam perencanaan, duit itu hanya cukup untuk membangun jalan sepanjang 4 kilometer. Tapi setelah dikerjakan, rupanya duit itu bisa membangun hingga 7 kilometer. 

Inilah yang kemudian membikin desa ini mendapat reward. Sebab Harris pernah bilang bahwa desa atau kelurahan yang hasil kerjanya bagus bakal dikasih hadiah; penambahan plafon anggaran. 

Harris sumringah mendengar cerita orang-orang kampung tentang dampak positif yang sudah dirasakan dari program PPIDK tadi. Dia teringat entah sudah berapa kali dia ikut mendorong gerobak, menyemangati orang kampung yang lagi bekerja. "Saya harus sering datang menengok mereka. Biar makin semangat," katanya.  

Mata lelaki ini menatap jauh. Di benaknya kembali terbayang; bahwa Pelalawan tak hanya sekadar membangun, tapi musti dibarengi inovasi. "Tantangan yang akan kita hadapi ke depan kian besar, makanya kita harus inovatif. Inovasi inilah yang saya sebut dengan pembaharuan itu. Pembaharuan menuju kemandirian. Alhamdulillah, meski belum sempurna, masyarakat desa semakin mandiri lewat gotong-royong tadi," katanya. 
 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait