Sanksi "Ompong" Disperindag Pelalawan

Adi Jait
Sanksi "Ompong" Disperindag Pelalawan

Warga Jalan Pemda Pangkalan Kerinci mengantri untuk bisa mendapatkan gas elpiji 3 kg. foto. adi

Pelalawan (katakabar) - Tadinya banyak orang di  Pangkalan Kerinci Kabupaten Pelalawan berharap  keputusan dan sanksi tegas yang dibikin Disperindag Pelalawan, bisa menjadi solusi kelangkaan gas elpiji 3 kilogram di sana.

Tapi rupanya, peraturan itu tinggal peraturan. Sebab pangkalan penjual gas bersubsidi itu masih saja menjual di atas Harga Eceren Tertinggi (HET). 

Lihat saja di salah satu pangkalan di kota itu. HET gas melon yang mestinya Rp18 ribu, dijual Rp20 ribu. Lalu pengecer menjual Rp25 ribu. 

Inilah yang kemudian membikin sejumlah warga geram. "Sanksi sih sanksi. Tapi Disperindag mengawasi apa enggak? Melibatkan polisi apa enggak? Peraturan enggak bisa jadi jaminan, bro. Sedangkan dilibatkan saja kepolisian masih saja ada yang "bolong". Apalagi enggak dilibatkan," rutuk Eko, salah seorang warga jalan Pemda Pangkalan Kerinci kepada katakabar.com, tadi malam. 

Lewat Whatsapp, kepada katakabar.com Kadisperindag Pelalawan Zurheman Das mengatakan kalau sementara pihaknya tidak melibatkan kepolisian untuk mengawasi distribusi gas melon. "Sementara kita saja dulu," katanya.

Giliran ditanya kapan akan melibatkan kepolisian, Zuherman tidak menjawab lagi. 

Sebelumnya, Disperindag Pelalawan sudah berjanji dan membikin sanksi tegas kepada sejumlah pangkalan nakal. Keputusan itu malah melalui forum rapat antara Disperindag dan 30 Pangakalan yang ada di Kecamatan Pangkalan Kerinci. 

Isi aturan main itu antara lain; Pengambilan gas 3 kg harus membawa KK dan KTP. HET gas 3 kg harus Rp.18.000, restoran atau rumah makan dilarang memakai gas 3 kg, pangkalan gas dilarang melayani anak-anak karna berbahaya, pangkalan gas dilarang menjual kepada pengecer, para PNS dilarang membeli gas 3 kg karna khusus untuk masyarakat miskin. 

Apabila terbukti melanggar keputusan ini, maka izin pangkalan akan dicabut. Begitulah bunyi keputusan itu. Kenyataan di lapangan? 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait