Idola Baru ‘The Next Leader’

Chyntia, Aziz
Idola Baru ‘The Next Leader’

AHY saat berada di Siak Sri Indrapura. foto. TYI

Di acara manapun Agus Harimurti Yudhoyono menjadi ‘bulan-bulanan’ warga.

Pekanbaru (katakabar) - Pohon durian yang ditanam di sisi kiri bagian depan gedung Lembaga Ada Melayu Riau (LAMR) di kawasan jalan Diponegoro Pekanbaru itu memulai hidup baru setelah ditanam oleh Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) Sabtu pekan lalu. Persis seperti pohon lengkeng yang juga dia tanam di komplek kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim  (Suska) di pinggiran Barat Kota Pekanbaru.  

Penanaman pohon durian dan Lengkeng ini menjadi pamungkas putra sulung Presiden RI ke-6 Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini berada di gedung LAMR berlantai dua itu maupun di Pusat Kegiatan Mahasiswa UIN Suska.

Berada di gedung LAMR, mengingatkan AHY pada peristiwa 10 tahun silam saat ayahnya SBY, didaulat bergelar Datuk Seri Indra Setia Amanah Wangsa Negara. "Saya merasa sangat terhormat diterima di sini seperti keluarga sendiri," kata AHY usai menjalani prosesi tepuk tepung tawar oleh sejumlah pembesar adat yang salah satunya adalah Ketua Lembaga Kerapatan Adat Melayu Riau (LKAMR) Datuk Seri Al Azhar.

AHY kemudian menyampaikan salam kangen dan sayang dari SBY kepada seluruh masyarakat Riau. "Kedatangan Ayah kami ke Riau tahun 2007 lalu adalah kenangan manis bagi beliau," katanya.

Prosesi tepuk tawar tadi adalah satu dari rangkaian kegiatan AHY selama dua hari di Pekanbaru. Sebelum acara tepuk tepung tawar, AHY sempat sarapan dan kedai kopi Kim Teng di kawasan Pasar Bawah Pekanbaru, lalu makan siang di Pondok Patin Simpang Tiga, kuliah umum di UIN Suska dan seterusnya mengikuti gelar pelantikan Asri Auzar sebagai Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Riau.

Malamnya, AHY nangkring bersama sejumlah wartawan sembari makan durian di Fifa Duren di kawasan jalan Sudirman Pekanbaru. Lalu keesokan harinya, AHY bersama ribuan masyarakat Pekanbaru, jalan santai di kawasan jalan Diponegoro. Siangnya AHY bertolak ke Kabupaten Siak, sekitar 2 jam perjalanan dari Kota Pekanbaru. Di sana dia menengok jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah yang pernah diresmikan ayahnya 10 tahun lalu, mengunjungi Istana Siak dan ziarah ke makam Pahlawan Nasional Sultan Syarif Kasim II.

Selama di Pekanbaru, AHY nyaris tak pernah lepas dari apitan dua kader Demokrat yang disebut-sebut bakal bertarung di pemilihan Gubernur Riau tahun depan; Firdaus maupun Achmad. Firdaus adalah Wakilota Pekanbaru sekaligus Ketua DPC Partai Demokrat Kota Pekanbaru. Sementara Achmad adalah mantan Bupati Rokan Hulu dua periode dan mantan Plt Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Riau.

Tak hanya mendampingi secara nyata, Firdaus dan Achmad juga nampak bersanding dengan AHY di sejumlah baliho maupun spanduk yang bertebaran di sejumlah sudut Kota Pekanbaru, termasuk di pintu gerbang kampus UIN Suska. Baliho maupun spanduk  AHY dengan tagline The Next Leader juga tak kalah banyak.

Kelihatan betul bahwa Firdaus dan Achmad tak ingin menyia-nyiakan momen langka itu. Maklum, di acara manapun, AHY selalu menjadi pusat perhatian ribuan orang. Mulai dari kaum remaja hingga ibu-ibu. Bahkan saat AHY menggelar kuliah umum, ribuan mahasiswa yang memadati PKM berkapasitas 5000 orang itu histeris saat AHY turun panggung dan mendekati mahasiswa. “Saya pengen ikut kuliah umum, tapi lebih kepengen lagi nengok AHY,” kata Meisi, mahasiswi semester lima Sistim Informasi UIN Suska malu-malu.

Begitu juga saat gerak jalan santai maupun saat kunjungan ke Siak, AHY menjadi ‘bulan-bulanan’ kamera ponsel remaja dan ibu-ibu.  “Saya senang banget bersama mereka. Selama di Pekanbaru, saya enggak berhenti makan. Makanannya enak-enak. Ada patin, silais, ada pula bolu kemojo” katanya kepada katakabar.com Sabtu malam pekan lalu.  

AHY mengaku kalau kedatangannya ke Pekanbaru maupun ke daerah lain di Indonesia adalah dalam rangka menebar semangat menuju Indonesia Emas 2045. “Saat itu Indonesia persis berumur 100 tahun setelah merdeka,” katanya.

Namun Direktur Yudhoyono Institut ini juga tak menampik kalau lawatannya ke sejumlah daerah itu erat kaitannya dengan agenda politik 2019. “Siapa saja berhak ngomong apapun. Kalaupun ada agenda politik, itu kan tidak serta merta,” ujarnya.

Pengamat Politik Universitas Riau, Saiman Pakpahan menyebut kalau AHY telah muncul sebagai idola baru. AHY yang muncul dengan kharisma, jiwa muda, kalem, telah menjadi daya tarik bagi masyarakat non partisan. “Bahwa panggungnya disediakan oleh Demokrat itu betul. Tapi membludaknya masyarakat untuk melihat AHY, itu bukan hasil kerja partai, tapi justru akibat resonansi figur AHY itu sendiri. Kekalahannya di Pilkada DKI, itu persoalan lain. Yang kita lihat sekarang adalah AHY telah berhasil memukau banyak orang di daerah,” katanya kepada katakabar.com Senin pekan ini di Pekanbaru.

Datang ke Pekanbaru maupun daerah lain di Indonesia kata dosen politik pasca sarjana Universitas Riau ini bukan dalam rangka dukung mendukung calon kepala daerah. “Dia justru ingin merangkul semua kandidat di daerah, dia ingin merangkul semua orang, seperti yang ada pada taglinenya AHY For All. Dan dia memang sengaja didorong oleh SBY untuk menjadi the next leader, seperti yang ada di tagline berikutnya,” ujar Saiman.

Performa yang disuguhkan AHY ini kata Saiman akan memunculkan dia menjadi lawan tanding yang diperhitungkan pada pemilihan Presiden dua tahun mendatang. Sebab AHY sudah punya konstituen sendiri, kaum remaja dan ibu-ibu. 

“Ini yang kemudian menjadi menarik, bahwa Jokowi dan AHY punya konstituen masing-masing. Di tingkat Nasional ini akan ramai. Bahwa sampai sekarang ada tiga yang kemudian menjadi diperhitungkan; Jokowi, Gatot Nurmantyo dan AHY. Jika AHY berpasangan dengan Jokowi, maka petahana akan semakin kuat melenggang ke kursi presiden. Tapi jika berseberangan, AHY akan menjadi lawan tanding yang kuat. Kita enggak tahu apakah Prabowo masih punya birahi untuk maju lagi, kita belum lihat,” terang Saiman.

Meski demikian kata Saiman, persoalannya ada pada tokoh kunci di level atas. Ada Megawati, Prabowo dan SBY. “Kalau ada kecenderungan banyak orang yang bilang bahwa Jokowi gagal dan kemudian muncul kekuatan politik islam sejak aksi 212, itu benar. Pertanyaannya siapa yang ada di politik islam itu? Yang jelas bukan petahana yang justru membikin gerakan kebhinekaan. Prabowo akan muncul menjadi joker. Apakah dia akan ke SBY atau Megawati, masih akan banyak lagi sowan politik jelang Pilpres,” katanya.

Lantaran kedatangan AHY bukan untuk mendukung calon kepala daerah kata Saiman, maka calon kepala daerah itu sendirilah yang harus mendekat kepada AHY. “Secara politik, mereka (para bakal calon) musti melakukan vertikalisasi. Sebab antara AHY dan Demokrat ini beririsan kuat. Mereka harus mendekatkan diri. Apakah dengan antusiasme masyarakat menengok AHY berkorelasi dengan tingkat keterpilihan para calon dari Demokrat ini, tunggu dulu. Figure mereka seperti apa? Jadi enggak berkorelasi positif antara membludaknya massa dengan keterpilihan mereka nanti. Sebab massa pemilih akan berhitung ulang jika kemudian partai menjatuhkan pilihan kepada salah satu diantara mereka,” ujar Saiman.

Saat ini ada dua kader Partai Demokrat Riau yang mulai bersolek untuk menjadi calon ‘pengantin’ pada pemilihan Gubernur Riau tahun depan. Firdaus yang walikota Pekanbaru dan Achmad yang mantan Bupati Rokan Hulu dua periode.

“Secara politik Firdaus kalah di organisasi partai. Dia yang ketua DPC Partai Demokrat Pekanbaru tidak berusaha mengusai DPD Provinsi Riau. Mestinya DPD harus dia rebut biar lebih dekat dengan lingkaran partai. Di sinilah kelihatan kalau dia tidak serius. Untuk apa dia mengawal terus AHY  kalau di internal dia rapuh. Achmad juga tidak kelihatan seksi lantaran status sosialnya sudah menjadi masyarakat biasa. Di struktur organisasi partai pun dia tidak lagi pengambil keputusan. Jadi sudah tidak seksi lagi,” ujarnya. 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait