Perahu Naga Negeri Para Raja

aziz
Perahu Naga Negeri Para Raja

salah satu peserta dragon boat memacu perahu menuju garis finish. foto. aziz

Festival Dragon Boat Race Internasional 2017 digelar di Hulu Riau, mengingatkan cerita 350 tahun silam.   
 
Ferry Oceanna itu berangsur lambat saat bangunan unik nampak di ujung sana, di atas lahan seperempat hektar yang memanjang di bibir laut. Gedung berbentuk gonggong --- siput khas perairan pulau Bintan ---berlantai dua itu baru diresmikan oleh Menteri Pariwisata Arif Yahya setahun lalu. Itulah makanya disebut gedung Gonggong, ikon terbaru Kota Tanjung Pinang ibukota Provinsi Kepulauan Riau, setelah Masjid Sultan Penyengat di pulau penyengat yang hanya berjarak 2 mil dari gedung itu.  
 
Hampir satu jam mengarungi laut setelah bertolak dari Pelabuhan Punggur Kota Batam, Oceanna pun menyandar di pelabuhan Sri Bintan Pura. Gerbang resmi satu-satunya menuju kota seluas 812,7 kilometer persegi itu. Tanjung Pinang sendiri berada di pulau Bintan bersama-sama dengan Kabupaten Bintan. “Kita langsung ke Sungai Carang, Pak?” Sarjuni yang menjemput saya Minggu tiga pekan lalu, bertanya. 

Sebetulnya lelaki 49 tahun ini orang Jawa, tapi sudah lahir dan besar di Tanjung Pinang hingga sekarang menjadi ayah tiga orang gadis.
 
Lima belas menit melintasi liuk kota, jembatan Sungai Carang berkonstruksi pelengkung baja di Batu 8 Kelurahan Kampung Bugis Kecamatan Tanjung Pinang Kota nampak gagah. Di seberang di bawah sana, kerumunan manusia menyemut hingga ke bibir sungai. Maklum, siang itu pembukaan Festival Dragon Boat Race International (FDBRI) yang bakal berlangsung selama tiga hari, sedang digelar di sana. Sebanyak 42 tim bakal berlomba untuk memperebutkan total hadiah Rp150 juta.
 
Kepada katakabar.com, Walikota Tanjung Pinang, Lis Darmansyah, cerita bahwa peserta festival tahun ini menjadi yang terbanyak sepanjang 15 tahun gawe ini digelar meski baru lima tim yang datang dari luar negeri. Salah satunya adalah tim Dewan Bandaraya Kuala Lumpur (DBKL) Malaysia.    
 
Mantan Ketua DPRD Kota Tanjung Pinang ini menyebut, ini kali kedua festival digelar di Sungai Carang. “Sebelumnya selalu digelar di pelabuhan Tanjung Pinang,” katanya. Dia ditemani Sekretaris Daerah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), TS. Arif Fadila, yang membuka acara itu.
 
Ketua Tim DBKL Malaysia, Rizwan mengaku lebih senang festival digelar di Sungai Carang. Selain tidak berombak, track tidak berbelok, festival kali ini juga sudah berstandar internasional. “Dulu waktu di pelabuhan, masih tergolong acara kampung. Pedayung pun masih boleh duduk di bibir boat,” kata lelaki 36 tahun ini tertawa.   
 
Yus Amrullah juga mengakui itu. Manager tim Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PODSI) Provinsi Jambi ini mengatakan, masa festival masih di pelabuhan, wasitnya masih lokal. “Sekarang sudah dari Pengurus Besar (PB) PODSI. “Kami datang 4 tim ke sini dengan semua personil 80 orang,” rinci lelaki 32 tahun ini.
 
Meski membawa jumlah tim yang gemuk, Sekretaris Umum (Sekum) PODSI Jambi ini mengaku tidak untuk mengejar hadiah. “Festival ini kami jadikan sebagai ajang pra ven sebenarnya bagi junior yang ada. Sebab yang kami bawa ke sini rata-rata masih pedayung baru,” ujarnya.
 
Di pelantar --- pelabuhan kecil --- sungai itu, Cammila nampak asyik menengok empat boat yang sudah saling pacu dari hulu ke hilir. Perempuan 28 tahun asal Swedia ini kebetulan datang bersama sejumlah temannya dari kawasan wisata di Kabupaten Bintan, masih satu pulau dengan Tanjung Pinang. “Senang menengok mereka berpacu. Tadinya kami sedang di Lagoi. Teman saya bilang ada acara di sini, kami datang,” katanya.   
 
Sebetulnya bukan cuma FDBRI yang menjadi tontotan hari itu. Beberapa hari sebelumnya sudah ada lomba perahu Jung. Lalu jelang sore di hari Minggu itu, di pelabuhan bongkar muat Batu 6, sudah berjejer sekitar 41 perahu hias. Perahu-perahu ini bakal mengitari pulau sejauh 2 jam perjalanan hingga kemudian berlabuh di kawasan Laman Boenda Tepi Laut, dekat pelabuhan Sri Bintan Pura, tempat Oceanna bersandar tadi. Cammila pun bersemangat mendatangi lokasi acara itu.
 
“FDBRI dan perahu hias itu adalah bagian dari sederet acara yang kita kemas di sini. Ini menjadi pertanda kalau negeri kita adalah negeri Bahari,” cerita Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Tanjung Pinang, Reni Yusneli kepada katakabar.com di lokasi FDBRI Minggu malam tiga lalu.
 
Dari perempuan 55 tahun inilah kemudian saya tahu tentang seluk beluk Dragon Boat dan tentang apa dan seperti apa sebenarnya kawasan Sungai Carang itu. “Jaman dulu hingga sekarang, bibir pulau sebelah Utara itu ada berderet pelantar. Di sanalah masyarakat Tionghoa bermukim. Nah kalau mereka sedang merayakan sembahyang cina atau sembahyang kubur, mereka pasti akan menggelar yang namanya lomba perahu naga. Mereka akan berpacu dari pelantar awal, memutar dan finish di pelantar akhir. Para pedayung juga kiri kanan. Di haluan ada seorang yang tukang pukul cymbal,” cerita mantan Plt Sekdaprov Kepri ini.
 
Lalu pada 25 tahun lalu, Kabupaten Bintan --- waktu itu belum ada pemerintahan Tanjung Pinang ---mengambil tradisi itu menjadi Bintan Dragon Boat Race (BDBR). Waktu itu peserta lomba masih antar daerah. “Tahun 2002, barulah berubah menjadi festival seperti sekarang dan mulai diikuti oleh negara luar,” ujarnya.
 
Reni mengaku bersyukur lantaran sampai sekarang, orang-orang Cina yang ada di Tanjung Pinang menjadi saudara yang tak terpisahkan bagi orang-orang melayu yang ada di Kota Gurindam itu. di sebut Gurindam lantaran di Pulau Penyengat Tanjung Pinanglah Raja Ali Haji Fisabilillah mengarang Gurindam 12. “Jadi kalau ada pertikaian antar etnis di luar, termasuk masa-masa masalah Ahok, kami tidak terpengaruh sama sekali,” katanya.
 
Lantaran sudah masuk dalam kalender pariwisata nasional --- termasuk “Gawai Seni” dan “Festival Pulau Penyengat” --- dan diikuti negara luar kata Reni, FDBRI dipindah ke Sungai Caran dan dibikin berstandar nasional. “Di tempat sebelumnya saban 15 menit kapal keluar masuk. Belum lagi ombak dan pasang surut. Di Sungai Carang tak ada pasang surut dan ombak,” katanya.
 
Tapi yang lebih penting lagi justru lantaran Sungai Carang adalah kawasan sejarah panjang yang teramat penting bagi masyarakat Bintan khususnya Tanjung Pinang. Sebelumnya bernama Sungai Riau, Hulu Riau hingga kemudian bernama Sungai Carang. Sebab di kawasan itu, sekitar 350 tahun silam, berdiri kerajaan megah yang dipimpin oleh Sultan Mahmudsyah II ---- Sultan Johor 10. Itulah makanya kawasan ini pernah disebut sebagai kerajaan Riau-Johor-Pahang-Lingga.
 
Saya penasaran dengan cerita mantan Asisten I Setdaprov Riau ini. Untung saja Sarjuni mau menemani saya berkeliling. Ya, semua peninggalan yang diceritakan oleh Reni, benar-benar mengelilingi Sungai Carang tadi.
 
Saya diajak Sarjuni ke Batu 6 Kampung Bulang, di sana ada makam Sultan Riau I --- Sultan Sulaiman Badrul Alamsyah. Dia juga dikenal dengan Raja Riau-Johor Pahang. Saying, makam ini terkesan tidak terurus meski di sana sudah terpampang papan yang bertuliskan kalau kawasan yang sudah disesaki oleh perumahan penduduk itu adalah cagar budaya.
 
Yang lebih miris justru kawasan Istana Kota Piring di Kelurahan Kampung Bugis. Hanya tembok bekas istana saja yang tersisa. Semua kawasan itu sudah dipenuhi rumah-rumah penduduk di antara setumpuk makam tanpa nama.
 
Di dekat lokasi FDBRI itu, ada situs peninggalan Istana Kota Lama atau disebut juga Kota Rebah. Lalu di seberang jalan, masih tak jauh dari liuk Sungai Carang tadi ada makam Yang Dipertuan Muda Riau (YDMR) --- perdana menteri berkuasa penuh --- I Daeng Celak, YDMR II Daeng Marewah dan YDMR III Daeng Kamboja. Lalu di perbukitan sebelah kiri sebelum jembatan menuju lokasi FDBRI, ada makam Panglima Hitam Lancang Kuning.  
 
Reni menyebut, semua istana yang pernah ada di kawasan Sungai Carang itu dihancurkan sendiri oleh pemilik kerajaan saat akan meninggalkan kerajaan itu. “Itu semasa penjajah masuk ke pulau Bintan. Jadi dari pada dipakai oleh penjajah, lebih baik dihancurkan. Tak terkecuali yang di pulau penyengat. Di sana yang ada hanya makam dan masjid,” katanya.
 
Tapi ke depan kata Reni, semua jejak sejarah itu berangsur akan dibikin menjadi kawasan wisata yang cantik. “Saya enggak mau situs sejarah ini dibiarkan begitu saja. Harus dikembangkan. Sebab orang enggak mau cuma nengok kuburan. Itulah makanya kami koordinasikan dengan pihak cagar budaya. Mana yang bisa kami kembangkan dan mana yang tidak. Kami minta dibikin zonasinya,” ujar Reni.
 
Tanjung Pinang musti bersolek kencang, selain lantaran sudah menjadi ibukota provinsi, Tanjung Pinang kata Reni adalah pusat peradaban kebudayaan melayu. Negeri Gurindam yang sudah kesohor ke seantoro jagat.
 
Rizwan mengaku senang dengan apa yang bakal dilakukan Reni. Sebab di Kuala Lumpur katanya, Tanjung Pinang ibarat rumah kedua. Jejak sejarah Johor, Pahang dan lainnya tak terpisahkan dengan Tanjung Pinang. “Datuk Bandar sangat akrab dengan Walikota Tanjung Pinang. Makanya apapun undangan yang datang dari sini, kami akan usahakan untuk datang. Sebab itu tadilah, sebagai saudara, kami harus tetap menjaga silaturrahim,” katanya.
 
Tak terasa saya harus menyudahi perjalanan di kota ini. Kota yang menyimpan segudang cerita dan peradaban masa lalu. Begitu juga dengan para peserta FDBRI, juga harus kembali ke kampungnya masing-masing. Namun Tim Komando Armada RI Kawasan Barat (Koarmabar) Jakarta, Tim Kabupaten Siak Provinsi Riau dan Tim PODSI Sarolangun Jambi, lebih sumringah saat pulang. Sebab mereka membawa gelar juara 1,2 dan 3 FDBRI 2017 itu. 
 

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait