Hasan Basri

Tinggalkan PNS Demi Singkong

Sahdan
Tinggalkan PNS Demi Singkong

Hasan Basri saat masih menjadi Camat Mandau kabupaten Bengkalis. foto.dok.katakabar.com

Kandis (katakabar) - Dua tahun lalu, banyak orang di Kabupaten Bengkalis kaget saat Hasan Basri mendadak berhenti jadi camat maupun Pegawai Negeri Sipil. Maklum, saat itu Hasan adalah Camat Mandau dengan penduduk sekitar 300 ribu jiwa. Ini setara dengan 60 persen penduduk Kabupaten Bengkalis.  

Setelah berhenti, lelaki 48 tahun ini langsung menghilang meski sebelumnya orang sudah banyak tahu kalau dia terpilih sebagai Ketua Masyarakat Singkong Indonesia (MSI) Provinsi Riau. 

"Saya memilih mengurusi kebun singkong saya di Pematang Duku Kecamatan Bengkalis. Kebetulan saya punya kebun singkong 9 hektar. Alhamdulillah dari hasil itu sudah lebih dari cukup untuk menghidupi keluarga saya," cerita Hasan Basri saat berbincang dengan katakabar.com kemarin. 

Sambil mengurusi kebun singkong tadi, Hasan mulai menjajaki keinginannya untuk membangun pabrik tapioka. "Saya punya kenalan orang Pekanbaru. Saya ceritakan kalau prospek pabrik tapioka sangat cerah. Kita punya lahan tidur yang banyak. Termasuk saya ceritakan juga tentang kebutuhan pabrik kertas di Riau yang mencapai 240 ribu ton pertahun. Alhamdulillah setelah 6 bulan saya bujuk-bujuk, teman itu akhirnya mau. Dia menyatakan kemauannya itu saat kami makan siang di Pondok Baung di Peknbaru," kenang Hasan. 

Hasan tak khawatir bahan baku untuk pabrik tapioka itu bakal sulit didapat. Selain lahan tidur yang sangat luas, hasil bertanam singkong pun sangat menjanjikan. "Kita sebenarnya butuh ubi racun untuk bahan baku tapioka itu. Tapi singkong biasa juga enggak persoalan," katanya. 

Bertanam singkong kata Hasan, butuh waktu 8-10 baru panen. Modal duit Rp30 juta, petani bisa menghasilkan duit Rp40 juta bersih. Itu baru dari hasil satu hektar. "Sebab kalau bibit bagus, satu hektar itu bisa menghasilkan 40-120 ton singkong," Hasan merinci. 

Lantaran hasilnya menggiurkan, Hasan yakin petani akan mau bertanam singkong. "Hasil dua hektar sawit hanya Rp4 juta sebulan. Sementara kalau bertanam singkong, bisa Rp8 juta sebulan," katanya. 

Bertanam singkongpun menurut Hasan sangat bersahabat dengan alam. Tanah menjadi gembur. Beda dengan bertanam sawit yang membikin air cepat mengering. "Sawit itu sangat rakus dengan air," ujarnya.

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait