Saat Menengok Hayfah 2 Tahun

Mata Wakapolresta Berkaca-Kaca

aziz
Mata Wakapolresta Berkaca-Kaca

Wakapolresta Pekanbaru, AKBP Edy Sumardi Priadinata tertegun sambil mengelus tubuh Hayfah. foto. ist

Pekanbaru (katakabar) - Lelaki 43 tahun itu tertegun melihat gadis kecil itu tergolek lemah di atas ranjang yang terbentang di ruangan sederhana di kawasan jalan Citra Sari Kelurahan Tangkerang Selatan Kecamatan Bukit Raya Pekanbaru, tadi siang.

Mata perempuan berumur 2 tahun itu nampak melotot  merah berair. Semua jemari mungilnya tidak kelihatan lantaran sengaja diperban biar tidak mengganggu mata yang melotot tadi. 

Tubuh mungil itu spontan menggeliat saat jemari Edy Sumardi Priadinata mengelus lembut. Hanya elusan yang bisa dilakukan Wakil Kepala Polisi Resor (Wakapolres) Pekanbaru ini mewakili perasaanya yang bergemuruh. 

Bening yang sedari tadi dia tahan, akhirnya menggenang juga di kelopak matanya. "Sedih saya melihat kondisi anak itu. Mau menangis rasanya," cerita perwira menengah berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) ini kepada katakabar.com malam ini.

Saat akan menghadiri undangan seorang teman di kawasan Tenayan tadi pagi, mantan Kapolres Kampar ini mengklik link berita yang dikirim wartawan merdeka.com, Abdullah Sani ke handphonenya, berita tentang perempuan bernama Hayfah Alesha yang menderita penyakit langka. 

Edy langsung menarik napas panjang setelah menengok foto gadis itu. "Habis dari undangan, tolong temani saya ke rumah anak itu ya, San. Saya pengen ketemu," spontan Edy mengajak si pengirim link tadi. "Tolong WA kan alamatnya ya," pinta Edy. 

Dapat kiriman alamat, Edy langsung menelpon Kapolsek Bukit Raya yang kebetulan sedang tugas pengamanan di Gelanggang Remaja di kawasan jalan Sudirman. Kepada Kapolsek Edy minta tolong diutus seorang Bhabinkamtibmas mengecek alamat rumah Hayfah tadi.  

Hhhhh...lagi-lagi Edy harus menarik nafas panjang lagi dan semakin terenyuh menengok foto-foto kiriman Bhabinkamtibmas yang ditugasi tadi. "Beres semua kegiatan, jelang siang kita ke sana," kata Edy dan kemudian mampir di salah satu Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang ada di Tenayan itu. Duit itu kemudian dia masukkan ke amplop.    

Singkat cerita, Edy ditemani Kapolsek Bukit Raya sampai ke rumah Hayfah. Ketua RT setempat, Masrono dan Siska --- orang tua Hayfah --- tertegun menyambut Edy. Mereka tak menyangka kalau orang nomor dua di Polres Pekanbaru itu begitu cepat tiba di rumahnya. Mereka langsung terlihat akrab. Masrono yang seorang guru honor itu tak hentinya menengok Edy yang telaten menengok putrinya. 

Mata lelaki ini kemudian berkaca-kaca saat Edy menyodorkan duit yang diambil dari ATM tadi ke tangannya. "Ini untuk Hayfah. Saya datang ke sini memang ingin menengok dia. Sebagai polisi pelayan masyarakat, inilah dulu yang bisa saya lakukan. Insya Allah saya akan ikut membantu mencarikan donasi untuk Hayfah. Sabar ya...," bergetar suara Edy menyalami Masrono. 

"Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dan berterima kasih Bapak datang ke rumah kami bersama Pak Kapolsek," suara Masrono setengah berbisik menahan isak. 

Hampir satu jam di sana, Edy pamit. Hati lelaki ini masih berkecamuk. Tentang Hayfah pun menjadi cerita khusus kepada istri dan anaknya di rumah. 

Mendengar cerita Edy, istrinya, Karneni, langsung tergerak ingin menengok Hayfah. Sejumlah makanan pun ingin dibawa, termasuk nutrisi yang bisa membantu kesembuhan Hayfah. 

Bukan kali ini sebenarnya Edy spontan mengulurkan tangan kepada orang yang membutuhkan. Sebab beberapa bulan sebelumnya, diam-diam lelaki ini membantu sejumlah penyandang difabel di Kabupaten Malang Jawa Timur. "Selagi kita masih bisa berbagi, berbagilah," begitu alasan Edy.   

Baca juga: Tentang Wakapolres Pekanbaru dan Mahasiswi Sosiologi

Leukimia Hayfah
Dumai 23 Oktober 2015. Begitulah keterangan tentang kelahiran Hayfah. Dia lahir normal dan cantik. Tapi entah kenapa setahun kemudian, dokter memvonis dia menderita Leukimia dan berujung dirawat di rumah sakit.

Leukimia sembuh, mata Hayfah justru aneh. Belakangan dokter mengatakan kalau Hayfah kena suspected retinoblastoma. Biar sembuh, Hayfah musti menjalani kemotherapy. Tapi keluarga menolak lantaran kondisi fisik Hayfah tidak memungkinkan untuk itu. 

    

KOMENTAR

Komentar Via Facebook :

Terkait