Kasus Tanah Nenek Arpah, Terdakwa Dituntut 2 Tahun Penjara

Katakabar.com - Abdul Kadir, terdakwa kasus penipuan terhadap Nenek Arpah dituntut dua tahun penjara. Kasus ini bermula ketika tanah Nenek Arpah hanya diberi uang Rp 300 ribu oleh terdakwa beberapa tahun lalu.

Namun ternyata surat tersebut merupakan surat pernyataan balik nama yang akhirnya merugikan Nenek Arpah karena tanah seluas 103 meter miliknya hilang. Padahal Nenek Arpah merasa tidak pernah menjual tanah tersebut. Untuk mempertahankan haknya, Nenek Arpah pun membawa kasusnya ke meja hijau.

Dalam agenda sidang tuntutan siang tadi, terdakwa akhirnya dituntut dua tahun oleh JPU. Terdakwa dianggap bersalah melakukan penipuan terhadap Arpah. Perbuatan ini sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP).

"Menurut kami, perbuatan terdakwa sudah secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah sebagaimana dalam dakwaan pertama kami selaku penuntut umum," kata JPU Hengki Charles, Selasa (24/3).

Dalam surat dakwaan nomor Reg. Perkara : PDM-07/DEPOK/01/2020, JPU menjerat terdakwa AKJ dengan dakwaan alternatif, yakni perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 378 KUHP atau melanggar Pasal 374 KUHP. Sidang rencananya akan kembali digelar pekan depan dengan mendengarkan nota pembelaan dari penasehat hukum terdakwa.

Nenek Arpah mengaku hingga kini masih menanti keadilan. Dia bahkan sering sakit-sakitan karena proses sidang yang panjang. Dia pun mengaku sangat kesal dengan Kodir.

"Selami ini saya sudah disakiti sama Kodir (terdakwa) yang mengambil bukan haknya, sampai sekarang saya menjadi sering sakit, yang terasa itu di bagian paru-paru," katanya.

Dia menceritakan bahwa kejadian ini bermula ketika tahun 2015 lalu dia diajak oleh Kodir ke notaris. Di sana, dia diminta untuk cap jempol. Karena tidak tahu apa-apa, maka Nenek Arpah pun menurut saja. Selain itu Nenek Arpah pun buta huruf sehingga tidak tahu isi surat tersebut.

Dia baru tahu kalau isi surat tersebut adalah pernyataan bahwa sertifikat tanah 103 meter di Beji diatasnamakan Kodir setelah ada pihak bank mendatangi Arpah. Dia syok ketika tahu kalau sertifikat atas tanah tersebut telah berubah nama dan digadai oleh Kodir.

"Saya tidak merasa menjual tanah 103 meter, apalagi dengan harga Rp 120 juta, itu kan semua rekayasa Kodir dan saya tidak tahu di notaris Cibinong itu isinya apa," ucapnya.

Dia pun hanya bisa berharap ada keadilan atas kasus yang telah membelenggunya selama lebih dari empat tahun itu. "Harapan saya sertifikat kembali atas nama saya. Saya minta ganti rugi dan Kodir dihukum seberat-beratnya," pungkasnya. Merdeka.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait