Rokok, Jenis Kelamin, dan Wafatnya Petugas Pemilu Versi UGM

Katakabar.com - Rokok dan kerja tak efisien oleh petugas pemilu laki-laki turut menjadi temuan dalam riset Universitas Gadjah Mada atas meninggalnya petugas pemilu 2019.

Temuan itu dipaparkan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM Abdul Gaffar Karim di sela lokakarya ‘Riset Kepemiluan 2019-2020’ di Sleman, Rabu (19/2).

Riset bersama Fisipol, Fakultas Psikologi, dan Fakultas Kedokteran, Keperawatan, dan Kesehatan Masyarakat UGM ini akan didalami di pilkada serentak 2020. Hasilnya akan digunakan untuk memperbaiki sistem pemungutan suara di pemilu mendatang.

UGM menyigi 12 petugas pemilu dan dua anggota Bawaslu DIY yang meninggal dunia. “Secara kesehatan, sebab kematian itu natural dan dipicu karena masalah kardiovaskular dan kelelahan. Secara psikologis, ada faktor stres karena hoaks dan tudingan tidak netral,” ujar Gaffar.

Riset UGM menunjukkan petugas yang meninggal 100 persen laki-laki dengan rentang usia 46-67 tahun dan 90 persen perokok. Selain itu, ada temuan sampingan terkait jenis kelamin petugas pemilu.

“Petugas perempuan bekerja lebih efisien. Panitia pemungutan suara yang dominan perempuan selesai lebih cepat dan istirahat lebih cukup. Ini temuan sampingan jadi kami tak dalami,” kata dia.

Petugas pemilu lebih banyak dipengaruhi kondisi fisik kemudian ditambahi faktor-faktor psikis. Sesuai riset, kondisi ini pun lebih dapat diatasi oleh petugas perempuan. “Nyanyi-nyanyi yang (petugas) ibu-ibu. Manajemen stres lebih bagus,” ujarnya.

Menurut Gaffar, penyelenggara pemilu dengan banyak petugas perempuan menyeelesaikan pekerjaan lebih. “TPS yang dikelola perempuan lebih efektif. Tak banyak istirahat dan merokok. Petugas perempuan lebih ceria dan tertata,” kata dia.

Gaffar menjelaskan, meski riset baru di DIY, secara hipotetis, temuan riset itu juga berlaku di daerah lain. UGM pun telah mengusulkan sejumlah hal, yakni memperketat seleksi dan memperbaiki sistem kerja saat pemilu.

“Idealnya sistem rekrutmen diperbaiki. Petugas harus sehat dan kondisinya prima. TPS selama ini memperhitungkan kemudahan pemilih, tapi ergonomika petugas tak diperhitungkan lebih baik. Intinya petugas harus nyaman,” tuturnya.

Gaffar pun tak menampik jika ada upaya memperbanyak petugas pemilu perempuan di pemilu mendatang. “Bisa saja,” kata dia.

Namun, dengan seleksi ideal itu, boleh jadi akibatnya tak mudah menemukan orang yang mau jadi petugas pemilu.

Hasil riset UGM di pemilu 2019 akan menjadi pijakan langkah sinergis dan multidisiplin untuk meningkatkan penyelenggaraan pemilu. “Langkah itu dimulai dengan piloting di pilkada serentak 2020 di DIY,” kata Gaffar.

Lokakarya pemilu ini diikuti sejumlah pihak, antara lain Ketua KPU dan Bawaslu DIY, serta perwakilan partai politik dan ormas di DIY. Ketua KPU RI Arief Budiman dan Ketua Bawaslu RI Abhan turut mengisi acara ini melalui tayangan langsung dari Jakarta. Gatra.com

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait