2025, Pemerintah Menargetkan Dua Puluh Persen

  • Reporter:
  • 26 Desember 2019, 10:25:51 WIB
  • Ekonomi

Jakarta, katakabar.com - Pemerintah menargetkan produksi nasional sepeda motor listrik total Dua Juta unit atau sekitar 20 persen di Tahun 2025 mendatang.

Untuk produksi mobil listrik bisa mencapai 400 Ribu unit setara dengan 20 persen dari total produksi pada Tahun yang sama. Dari total itu, harapannya terjadi peningkatan hingga Tahun 2029 mendatang, ujar Menteri Perindustrian Republik Indonesia, Agus Gumiwang Kartasasmita seperti dikutip dari Situs Resmi Kemenperin RI.

Kata AGK, target peningkatan produksi kendaraan listrik di Tanah Air, didukung lewat penerbitan Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai. 

“Perpres Nomor 55 Tahun 2019 mengamanatkan pengaturan penggunaan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) Berbasis Baterai termasuk sepeda motor listrik guna meningkatkan nilai tambah industri dalam negeri,” tegasnya.

Untuk itu, pemerintah mengajak industri komponen dan pendukung otomotif bersama sama menyiapkan diri untuk memasuki era kendaraan listrik mau pun teknologi kendaraan ramah lingkungan lainnya melalui peningkatan sumber daya manusia dan manajemen industri serta peningkatan penguasaan teknologi melalui aktivitas Research and Development (R dan D) dan desain, imbaunya.

Menurutnya, dengan adanya regulasi, percepatan program diatur secara rinci, mulai dari litbang, TKDN hingga insentif yang akan diberikan. Hal ini menjadi peluang baru bagi industri manufaktur dan komponen dalam negeri untuk memulai aktivitas litbang dan desain kendaraan listrik serta komponen utama pendukungnya. Pada tahun 2025, pemerintah menargetkan 100 persen lokal konten pada produk otomotif Indonesia.

Sejalan dengan itu kata Agus, pemerintah sudah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2019 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 94 Tahun 2010 tentang Penghitungan Penghasilan Kena Pajak dan Pelunasan Pajak Penghasilan dalam Tahun Berjalan. Dalam regulasi itu, salah satunya mengatur tentang pemberian insentif fiskal berupa super deduction tax bagi perusahaan yang melakukan kegiatan riset dan vokasi dengan mendapat pengurangan penghasilan bruto sampai 200 persen hingga 300 persen.

“Ini luar biasa, para produsen hendaknya bisa memanfaatkan dengan baik kebijakan dari pemerintah. Bagi principal yang belum ada kegiatan produksi di Indonesia, ini momentum yang tepat untuk melakukan invetasi di Indonesia,” sebutnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait