Masih Soal Fee Tanaman Kehidupan

Abdul Rahman: PT AA Pakai Nurani dan Kembalikan Tanah Leluhur Sakai

Duri, katakabar.com - Kepala Adat Masyarakat Suku Sakai Bathin Bumbung, Kabupaten Bengkalis Propinsi Riau, Abdul Rahman geram dan kesal terhadapa sikap pihak manajemen PT Arara Abadi, khususnya wilayah Distrik Duri II, sebab picu persoalan atau masalah di tengah Masyarakat Adat Suku Sakai yang berada di wilayah operasional Arara Abadi Distrik Duri II, Kabupaten Bengkalis.

"Saya sangat kesal kepada pihak manajemen PT Arara Abadi Distrik Duri II, Kabupaten Bengkalis, Riau, lantaran memici masalah di tengah masyarakat sakai," kata Kepala Adat Suku Sakai Bathin Bumbung saat ditemui wartawan di rumah anaknya di Desa Pinggir, pada Ahad (10/9) kemarin.

"Ada beberapa persoalan yang membuat kami kesal kepada PT Arara Abadi, seperti pembagian fee bagi hasil tanaman kehidupan. Pihak manajemen PT Arara Abadi terkesan pilih kasih, ada yang dapat dan ada yang tidak dapat. Hal ini bisa picu masalah di tengah masyarakat sakai nantinya," ulasnya.

Sebagai Kepala Masayarakat Adat Suku Sakai Bathin Bumbung, saya tegaskan, kami sama sekali tidak pernah menerima fee bagi hasil tanaman kehidupan dari pihak PT Arara Abadi.

Sedari awal masalah ulayat yang kami tuntut. Saya tidak pernah setuju dengan pemberian fee bagi hasil tersebut. Kami ingin kembalikan tanah ulayat leluhur sakai. Itu sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan terhadap persoalan tanah ulayat.

Saat itu kami sampaikan agar pihak perusahaan membuatkan perkebunan di lahan tanah ulayat sakai. Tapi, hingga kini pihak perusahaan tersebut tidak menghiraukannya, bebernya.

Masih Abdul Rahman, pihaknya terlibat di dalam persoalan tanah ulayat itu. Itu sebabnya, kami berharap pihak PT Arara Abadi jangan kesampingkan hak-hak masyarakat adat Suku Sakai Bathin Bumbung. Itu dapat dilihat dari dokumen berita acara pertemuan antara PT Arara Abadi dengan pihak masyarakat adat Suku Sakai pada 18 Oktober 2001 silam. Dan berita acara hasil pengecekan lapangan dari tanah Ulayat tersebut pada 27 Oktober 2001 silam, sebutnya.

Humas PT Arara Abadi, Alfian saat dikonfirmasi wartawan pada Senin (11/10) mengenai tanah ulayat sakai menjelaskan,  penyelesainnya sudah dilakukan dalam bentuk kerja sama tanaman kehidupan atau kemitran dengan masyarakat. Saat Ini sudah daur ke 3 pemberian fee bagi hasil tanaman kehidupan. Semuanya sudah diserahkan sama Bathin, ujar Alfian.

Bathin Bumbung tidak pernah menerima fee bagi hasil tanaman kehidupan tersebut!

"Dari informasi yang saya terima, Bathin Bumbung tersebut berada di luar konsesi PT Arara Abadi," tegas Alfian.

Keterangan Humas PT Arara Abadi kontrakdiktif dengan dokumen berita acara pengukuran lapangan pada 27 Oktober 2001 silam, antara pihak Masyarakat Adat Suku Sakai dan PT Arara Abadi Disrrik Duri II. Dimana, wilayah Bathin Bumbung tercantum dan tercatat di berita acara, yakni lahan yang dipersoalkan seluas 3.354,04 hektar.

"Saya enggak tahu Pak soala berita acara itu," sebut Alfian.

Editor : Sahdan

Berita Terkait