ACT Dituduh Kirim Sumbangan untuk Biayai Kerusuhan New Delhi

Katakabar.com - Lembaga non pemerintah Aksi Cepat Tanggap (ACT) dituduh mengirim sumbangan uang sebesar 2,5 juta Rupee (sekitar Rp490 juta) yang digunakan untuk membiayai para pelaku kerusuhan antara pemeluk Islam dan Hindu di New Delhi, India, Februari lalu terkait Undang-Undang Kewarganegaraan.

Dilansir dari India TV News, Kamis (12/3), sumbangan uang dari ACT disebut disampaikan melalui sebuah organisasi di New Delhi.

Di dalam laporan itu juga disebutkan ACT disebut terhubung dengan organisasi Jama'at-ud-Da'wah yang dipimpin oleh ulama Pakistan, Hafiz Muhammad Saeed. Salah satu organisasi binaan Saeed, Lashkar-e-Taiba, disebut bertanggung jawab terkait serangan di Mumbai, India, pada 2008 yang menewaskan 164 orang.

Selain itu, mereka menyebut ACT adalah organisasi radikal dan juga terlibat dalam kerusuhan di Bangladesh.

ACT memang selama ini dikenal sebagai salah satu lembaga yang rutin membantu etnis Rohingya yang diburu oleh aparat dan kelompok radikal Myanmar, dan terpaksa tinggal di perbatasan dengan Bangladesh. Namun, kegiatan mereka hanya sebatas relawan kemanusiaan.

CNNIndonesia.com sudah meminta konfirmasi terhadap ACT terkait laporan tersebut. Mereka menyatakan akan memberikan pernyataan resmi pada Jumat (13/3) besok.

Kerusuhan di New Delhi pada 23 Februari lalu menewaskan 38 orang, dengan lebih dari 200 orang mengalami luka-luka.

UU kontroversial yang mengundang pro kontra itu mengizinkan India untuk memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asal seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan.

Beleid itu disahkan oleh pemerintahan Narendra Modi yang beraliran sayap kanan. Partai pengusung, Bharatiya Janata (BJP), dituduh bersikap diskriminatif terhadap umat Muslim.

UU itu hanya berlaku bagi imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Islam.

Para kritikus menilai undang-undang ini dimanfaatkan oleh rezim Nahrendra Modi untuk mendorong India yang sekuler menjadi negara Hindu. CNN Indonesia

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait