Anggotanya Dituding Terlibat Penganiayaan, Ini Tanggapan Kapolres Rohul

Pasir Pangaraian, katakabar.com - Seorang oknum penyidik di Mapolsek Kunto Darussalam, Rokan Hulu, Riau diduga melakukan tindak penganiayaan bersama sejumlah orang saat mendatangi terduga pelaku penggelapan truk. Kasus itu kini berujung pada pelaporan di Bidang Profesi dan Pengamanan Mapolda Riau.

Kapolres Rokan Hulu AKBP Dasmin Ginting saat dikonfirmasi perkara itu pun angkat suara. Kepada katakabar.com, Sabtu malam, dia mengatakan telah mengkroscek perkara tersebut. Dalam penjelasannya, ia mengatakan jika anggotanya tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap terduga pelaku bernama Sukardi.

Dia menyebutkan jika Sukardi saat diamankan di rumahnya tidak melibatkan satu anggota Polisi. Menurut dia, yang mengamankan Sukardi itu adalah pelapor bersama rekan-rekannya.

"Perlu saya sampaikan bahwa anggota atas nama Dede mengaku tidak pernah melakukan penganiayaan dimaksud. Bahkan pada saat Sukardi diamankanpun dirumahnya, itu yang mengamankan adalah pelapor sendiri bersama temannya. Tidak ada satupun anggota polisi," kata dia.

Dasmin tidak banyak berkomentar terkait hal tersebut dan meminta untuk menghubungi Kapolsek Kunto Darussalam AKP Sihol Sitinjak.

Senada dengan Dasmin, Sihol yang awalnya tidak berkomentar terkait dugaan ulah anggotanya tersebut juga akhirnya angkat bicara.

Sihol pun membeberkan jika kasus yang menimpa Sukardi tak hanya satu. Dia menyebut ada sosok lain yang terlibat dalam dugaan penggelapan mobil itu, Suparman. Sihol juga menyebutkan jika Sukardi dan Suparman diduga melakukan tindak pidana penggelapan mobil.

Dia juga mengatakan pihaknya telah beberapa kali melakukan pemanggilan terhadap Suparman namun tidak pernah memenuhi panggilan penyidik.

"Kalau soal jual beli itu, faktanya saja itu Sukardi. Tapi yang menyuruh dia semua Suparman orang Tambusai Utara belinya dari Suparman. Suparman sudah dua kali kita panggil tak pernah datang, kita cek kerumahnya tak pernah ada dirumahnya," ujarnya.

"Jadi si Sukardi ini dapat Rp5.000.000 dari Suparman. Sukardi ini eksekutor lah tibanya seakan-akan dia jual beli. Setelah serah terima itu mobil diserahkan ke Suparman dapatlah Sukardi Rp5.000.000, mobil sekarang enggak tau dimana.
Mobil sudah ada 4 itu, dua di Kota Lama ada Pajero, dua lagi di Tambusai Utara itu Sukardi juga dan muaranya ke Suparman. Uangnya uang Suparman, seolah-olah take overlah pura-pura beli. Padahal niat jahatnya sudah ada, habis itu mobil digelapkan," jelasnya.

Sementara itu, terkait dugaan penganiayaan, dia mengklaim bahwa anggotanya berinisial DD itu sama sekali tidak terlibat.

"Soal dugaan penganiayaan, sesuai keterangan pelapor, pelapor datang bersama tiga orang temannya. DD tidak ikut pada malam itu dan itu sudah kita konfirmasi ke si DD, yang datang hanya si Ardi bersama 3 orang temannya.  Dua saksi sudah kita panggil pertama Nardi dan pelapor, kemudian kata si Ardi dua orang lagi kawannya dibawa dari Pasir," urainya.

Kuasa Hukum Sebut Kliennya Dianiaya

Sementara itu, Kuasa hukum Sukardi, Veky Syamsir  membantah keterangan Dasmin dan Sihol. Bahkan, Sihol mengatakan tidak hanya satu polisi yang mendatangi rumah Sukardi, melainkan ada dua polisi.

"Tidak hanya kedua oknum Polisi tadi, satu orang lainnya oknum anggota Satpol PP Rohul juga terlibat dalam aksi penganiayaan tersebut. Sedangkan Ardi selaku pelapor juga ikut serta melakukan penganiayaan terhadap Sukardi. Ke empat orang itu melakukan penculikan dan disertai kekerasan terhadap tersangka atas tuduhan penggelapan dan penipuan yang dilakukan Sukardi," kata Veky.

Dia bahkan menyebutkan jika Sukardi diculik oleh oknum polisi dimaksud.

"Sukardi di culik oleh dua orang oknum Polisi, satu orang oknum anggota Satpol PP Rohul dan satu orang lagi pelapor yakni Ardi. Mereka melakukan penculikan dan penglangkapan tanpa mengindahkan Perkap Kapolri No 14 tahun 2012 tentang menejemen peyidikan penetapan orang sebagai tersangka. Jika pun harus ditangkap atau di jemput paksa, tentunya harus sesuai dengan prosedur yang berlaku," paparnya.

Kemudian lanjut Veky, ada lima kesalahan fatal yang dilakukan oknum Reskrim Polsek Kunto Darussalam. Pertama, menangkap Sukardi pada tanggal 14 April 020 tanpa adanya laporan polisi. Kedua, calon pelapor yang mengaku korban ikut menjemput Sukardi dan ikut menganiaya.

Ketiga, laporan polisi dibuat di tanggal 15 April 2020 dan pada tanggal yang sama Sprinkap diterbitkan oleh Polsek Kunto Darussalam, dan hal ini sangat melanggar Perkap Kapolri karena status Sukardi belum tersangka dan terlapor.

Keempat, Sprinkap tak diberikan ke keluarga Sukardi dan Kelima pihak perusahaan Finance sebagai pemilik objek Fidusia tak dilibatkan padahal Finance yang berhak membuat laporan.

"Penangkapan itu gaya Pereman, belum ada laporan polisi sudah ditangkap. Apalagi dijemput oleh 4 orang terdiri dua orang oknum polisis, satu orang oknum Satpol PP dan Ardi pelapor. Waktunya tengah malam jam 23 WIB tepat 14 April 2020. Sukardi dianiaya didepan anak anaknya, sementara Sukardi statusnya masih terlapor maka ironis dia dijadikan sebagai tersangka penggelapan dan penipuan mobil," tegasnya.

Dijelaskannya, kedatangan orang-orang tersebut awalnya bertanya kepada Karwati istri Sukardi, tanpa curiga Karwati menjawab suaminya ada dibelakang. Sampai dibelakang rumah, Karwati mendapati orang-orang tersebut telah berada dibagian belakang rumah korban dan melakukan penganiayaan terhadap suami Karwati.

"Untuk saksi kita ada istri korban dan dua anaknya. Sebelumnya, Karwati bertanya kepada orang yang tak dikenali tersebut tentang tindakan mereka terhadap suaminya. Salah seorang dari empat pelaku menjawab bahwa mereka adalah polisi," kata Veky menirukan cerita Karwati.

Kemudian lanjut Veky menceritakan, Karwati bertanya tentang surat tugas dan dijawab oleh oknum yang tidak dikenal itu "surat banyak di Polres.

"Kemudian keempat orang tersebut membawa Sukardi ke dalam mobil dengan kondisi berdarah-darah, setelah ditangkap kemudian dibawa ke salah satu rumah tak dikenal. Aneh bukan ke Polsek Kunto Darussalam, lalu kembali dipukuli dan badannya disundut api rokok. Karwati mengenal salah satu oknum polisi yang menjemput dan menculik paksa suaminya Sukardi berinisial DD dan seorang oknum anggota Satpol PP bertugas di Kantor Bupati Rokan Hulu," ucap Veky yang diaminkan rekannya Dody Wirda SH.

Editor : Anggi

Berita Terkait