Apa Kabar Aktor Intelektual Penyiraman Novel Baswedan?

Katakabar.com - Polisi menggelar rekonstruksi penyerangan penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan di Jalan Deposito, Kelapa Gading, Pegangsaan Dua, Jakarta Utara, Jumat, 7 Februari 2020. Tersangka RM dan RB pun dihadirkan dalam olah TKP.

Walau rekonstruksi sudah dilakukan, banyak pihak yang berharap polisi mampu mengusut aktor intelektual di balik penyiraman Novel Baswedan. Sebab, beberapa waktu lalu, Novel pernah mengungkapkan diduga ada petinggi Polri yang terlibat kasus penyiraman air keras kepada dirinya. Bahkan, salah satu anggota Polri yang terlibat sudah berpangkat jenderal.

"Satu jenderal diduga terlibat," katanya saat wawancara khusus dengan Najwa Shihab dalam acara Mata Najwa di Metro TV seperti dikutip merdeka.com, Rabu (26/7/2017) silam.

Akankah aktor intelektual tersebut terbongkar? Berikut ulasannya:

Tersangka Peragakan 10 Adegan

Para tersangka RM dan RB memperagakan sekitar 10 adegan dan beberapa adegan tambahan saat menyerang Novel. Rekonstruksi memakan waktu 3 jam itu untuk melengkapi berkas perkara kedua tersangka.

"Ada 10 adegan dan ada beberapa adegan tambahan sesuai dengan pembahasan tadi di lapangan sesuai dengan pembahasan tadi di lapangan dengan rekan-rekan JPU. Ini dalam rangka penuhi petunjuk dari JPU dalam P19-nya ini kami lakukan sesuai dengan apa yang sudah kami bahas sebelumnya," kata Wadirkrimum Polda Metro Jaya Dedy Murti, Jumat (7/2).

"Intinya adalah supaya alat bukti dan keterangan para saksi dan tersangka dapat kami uji di lapangan. Selanjutnya berkas perkara yang sudah kami lengkapi akan kami kirim kembali ke rekan-rekan di Kejaksaan Tinggi DKI," ujarnya.

Novel Baswedan Sebut Rekonstruksi Kasusnya Janggal

Sementara itu, Novel Baswedan memilih untuk tidak mengikuti jalannya gelar rekonstruksi penyerangannya. Ia juga sempat mempertanyakan kenapa pelaksanaan rekonstruksi penyerangannya digelar pada dini hari. Sementara dirinya punya kondisi kesehatan yang serius.

"Iya saya sepakat (janggal), saya memang rekonstruksi kan mestinya dibikin lebih terang, tempatnya juga nggak harus di sini, waktunya juga nggak harus sama, dan lain-lain," tutur Novel, Jakarta Utara, Jumat (7/2).

Novel mengaku tidak dapat menerima cahaya yang terlalu terang lantaran kondisi matanya. Sementara saat rekonstruksi, petugas menggunakan alat bantu penyinaran portabel yang terbilang sangat terang.

"Saya hanya melihat ketika menggunakan cahaya dan itu berbahaya bagi mata saya, makanya saya menyampaikan untuk tidak mengikuti (rekonstruksi)," jelas dia.

KPK Minta Polisi Usut Dalang Intelektual Penyerangan Novel

Sementara itu, Pelaksana Tugas Juru Bicara KPK, Ali Fikri meminta polisi mengusut kasus penyerangan terhadap penyidik KPK, Novel Baswedan diusut hingga ke dalangnya.

"KPK sekali lagi tetap mendorong dari teman-teman penyidik di kepolisian agar harapannya bisa mengembangkan lebih lanjut kemudian tidak berhenti pada orang-orang yang sekarang ditetapkan tersangka," ucap Ali di Gedung KPK, Jakarta, Jumat (7/2).

ICW Minta Polri Ungkap Jenderal yang Jadi Aktor Intelektual

Sebelumnya Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Wana Alamsyah menilai Polri tidak transparan dalam mengungkap pelaku penyerangan air keras terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan.

Sebab, diduga masih ada aktor intelektual selain tersangka RM dan RB yang diyakini hanya sebagai eksekutor. "Tidak transparan karena apa? Ada informasi oknum jenderal diduga terlibat bisa menjadikan kepolisian tidak transparan saat ini," kata Wana saat jumpa pers catatan akhir tahun ICW di kantornya, Kalibata, Jakarta, Minggu (29/12).

Namun Wana belum dapat menjelaskan lebih detail terkait siapa jenderal diduga menjadi aktor intelektual kasus ini. Wana menyatakan dugaan jenderal didapatkan dari pernyataan Novel sendiri saat wawancaranya oleh Majalah TIME pada Juni 2017.

"Kalau kita lihat atau mendengarkan beberapa kali argumentasi yang disampaikan oleh Mas Novel bahwa diduga ada jenderal terlibat. Seharusnya kepolisian mencoba untuk menggali informasi itu. Sehingga aktor intelektualnya itu kemungkinan ada yang lain," jelas Wana. Merdeka

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait