Pandemi Corona

Apkasindo Prediksi Harga CPO Dunia Tetap Stabil

  • Reporter: Anggi
  • 01 April 2020, 18:36:24 WIB
  • Riau, Nusantara, Internasional, Ekonomi

Pekanbaru, katakabar.com - Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP Apkasindo) memprediksi harga Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah dunia masih akan terus menunjukkan tren positif di tengah gempuran Pandemi Covid-19 yang kini melanda 200 negara. 

Ketua Umum DPP Apkasindo Gulat ME Manurung dalam keterangannya di Pekanbaru, Rabu memaparkan keyakinannya itu menyusul  pemberlakuan karantina wilayah total atau Lockdown yang diterapkan pemerintah Malaysia, salah satu negara penghasil utama CPO dunia yang juga menjadi kompetitor Indonesia. 

Akan tetapi, Gulat mengatakan Indonesia tetap tidak bisa berbuat banyak karena importir CPO terbesar dunia saat ini, China dan India memberlakukan juga melakukan karantina wilayah yang berimbas pada turunnya volume ekspor CPO dalam negeri. 

"Harga CPO sempat melantai. Ini merupakan efek kejut yang sudah diperkirakan oleh para pelaku ekspor lantaran China dan India memberlakukan Lockdown," katanya. 

Ia menjelaskan bahwa turunnya harga CPO itu sangat berpengaruh terhadap harga Tandan Buah Segar (TBS) petani yang mengelola 41 persen perkebunan kelapa sawit di Indonesia. 

Namun, setelah Malaysia melakukan Lockdown, ia mengatakan harga CPO kembali terkerek naik lantaran negara penghasil CPO terbesar kedua di dunia setelah Indonesia itu menghentikan kegiatan ekspor CPO nya.

Artinya kata Auditor Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) ini, dunia kemudian hanya bergantung pada CPO Indonesia dan sedikit dari Thailand. "Harga TBS saat ini naik dengan rerata Rp150-250/Kg dan trend ini akan terus terkatrol," ujarnya.

Meski begitu kata Gulat, sebaiknya pemerintah dan para eksportir ada CPO semakin jeli memanfaatkan kondisi ini. 

"Lockdownnya beberapa Negara tadi menjadi peluang sekaligus tantangan bagi kita negara penghasil CPO. Ini menjadi pelajaran sangat penting bagi kita supaya tidak melulu bergantung kepada Negara importir. Kita perlu membikin strategi gimana caranya supaya serapan CPO dalam negeri meningkat. Mungkin bisa dengan mengolah CPO menjadi bahan baku biodiesel. Memperbanyak produk turunan CPO menjadi cadangan material juga menjadi sesuatu yang sangat penting mensiasati lockdown nya negara importir CPO tadi," sarannya. 

Produksi CPO Indonesia pada 2019, kata Gulat mencapai 51,828 juta ton. Dari jumlah itu, untuk peruntukan ekspor sebesar 37,390 juta ton atau setara 70 persen sementara konsumsi dalam negeri di kisaran 16,730 juta ton atau setara 30 persen. 

Dengan telah dimulainya B30 di awal 2020, Gulat  memperkirakan serapan dalam negeri bisa mencapai 40 persen hingga 45 persen. 

"Serapan dalam negeri memang naik, namun menurut saya yang aman itu jika serapan dalam negeri di atas 60 persen," tuturnya.

Terkait fluktuasi harga CPO akibat dampak sejumlah negara melakukan lockdown, Apkasindo sebagai organisasi besar yang membawahi 22 DPW Provinsi dan 117 DPD Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia meminta para petani sawit untuk sementara waktu menekan biaya produksi, mengurangi biaya rotasi pengendalian gulma dan mengurangi dosis pupuk, dan biaya-biaya yang tidak perlu.

"Dari sisi non agronomis, saya berharap petani sawit bisa lebih meningkatkan kepedulian sosial dan mematuhi himbauan pemerintah terkait Covid-19. Kalau petani 'membandel', yang rugi bukan hanya diri sendiri, tapi akan berdampak global. Kita masih bersyukur bahwa sampai saat ini Negara masih berupaya sekuat tenaga untuk tidak melakukan lockdown. Sebagai warga Negara yang baik, petani sawit wajib mendukung dan membantu negara untuk bisa bertahan dalam situasi saat ini," jelasnya. 

Ia meminta jangan sampai Negara mengambil kebijakan lockdown hanya gara-gara masyarakat tidak displin yang kemudian berdampak pada meningkatkan penyebaran Covid-19 itu. Dia juga mengatakan tidak bisa membayangkan dampak besar jika Indonesia harus melakukan karantina wilayah total atau lockdown. 

"Khusus kepada petani sawit, ini saatnya kita melakukan aksi bela Negara dengan cara disiplin terhadap himbauan pemerintah tadi,” urainya.

Kepada Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Gulat juga berharap menunjukkan nasionalisme dan kepahlawanannya dengan tetap melayani pembelian TBS petani. Ia menjelaskan jika sektor perkebunan sawit telah menghidupi 18 juta petani sawit Indonesia, belum lagi pekerja dan buruh terkait sawit ini. 

"Sangat banyak, lho. Sepanjang Indonesia tidak mengambil kebijakan lockdown, maka tidak ada alasan PKS tutup. Mari tunjukkan bahwa PKS adalah Pahlawan Indonesia,” pinta Gulat.

Sehingga, dia berpesan agar masyarakat untuk terus bergandengan tangan sementara pemerintah melakukan tugas dan mencegah Lockdown. 

"Bangga menjadi bangsa Indonesia adalah ketika kita ikut membela kepentingan Nasional tanpa lockdown. Biarlah sejarah dunia mencatat bahwa warga negara Indonesia adalah bangsa petarung yang terkenal dengan semangat gotong royongnya. Jasa para pahlawan kemerdekaan Indonesia kita heroikkan kembali melalui Indonesia tanpa lockdown. Sekali lagi saya sampaikan, kita bangsa petarung, saya yakin kita bisa,” ujarnya semangat.

Editor : Anggi

Berita Terkait