Asisten Staf Khusus Wapres, Disbun Riau dan Apkasindo Bahas PSR & Santri Sawit

Pekanbaru, Katakabar.com - Asisten Staf Khusus Wakil Presiden (Wapres) bidang ekonomi dan kemiskinan, DR. Tri Chandra dan Sekretaris Pribadi Menteri Pertanian, Syaiful Bahri, ke Dinas Perkebunan Riau, di kawasan jalan Cut Nyak Dien Pekanbaru, Riau, Senin (16/11). Mereka disambut hangat oleh Kadis Perkebunan Riau Zulfadli.

"Senang sekali kami bapak berdua datang, inilah Riau, provinsi yang sawitnya paling luas di Indonesia. Crude Palm Oil (CPO) kami di atas 8 juta ton per tahun," ujar Zulfadli dalam jamuannya kepada kedua pejabat dari pusat itu.

Tak sendirian, Zulfadli didampingi Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung, Sekjen DPP Apkasindo, Rino Afrino dan Ketua DPW Apkasindo Riau, Suher.

Zul menyampaikan, saat ini 65 persen ekonomi masyarakat Riau ditopang oleh kelapa sawit. Karena itu, sawit menjadi perhatian serius Pemerintah Riau, termasuk persoalan dan kendala yang dialami oleh petani kelapa sawit.

Perhatian pemerintah tertuju ke beberapa hal. Mulai dari masih rendahnya capaian Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), hingga kebun sawit yang masih dalam klaim kawasan hutan.

"Sampai hari ini capaian PSR kami masih di angka 8.250 hektar dari 24 ribu hektar target yang ada. Lalu, sekitar 1500 hektar kebun petani kami masih berada dalam klaim kawasan hutan," jelas Zul.

Itu disampaikan Zul sebagai pembahasan penting kepada Staf Khusus dan Sekretaris Kemenhan dalam urusan percepatan PSR, menjajaki Santri Sawit, hingga menengok tanaman sawit PSR. Tanaman itu dilaunching oleh Presiden Jokowi dan Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko di kawasan Bagan Sinembah, Rokan Hilir (Rohil), Riau, dua tahun lalu.

Bahkan, tanaman itu ditengok lantaran ada rencana Wapres, Ma'ruf Amin atau Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo akan menggelar panen perdana di lahan PSR tadi.

"Pak Wapres sangat paham soal PSR ini, sebab tujuannya untuk menghasilkan petani kampung dan tanaman sawit yang berkualitas," kata Tri.

Wapres sangat berharap dukungan penuh Pemerintah Riau khususnya Disbun Riau terkait PSR sawit petani kampung itu. "Begitu juga dengan Santri Sawit tadi," tegas Tri.

Tri menyebutkan, persoalan santri sawit itu masih digodok di pusat. Sebab, hal ini ada kaitannya dengan Kementerian Agama khususnya yang membidangi koperasi pondok pesantren.

Soal percepatan PSR tadi, Syaiful Bahri juga berharap sama seperti Tri. Menurut Syaiful, soal kendala di Riau terkait petani akan segera disampaikan kepada menteri.

Gulat dan Suher sendiri, sepemikiran bahwa kunci suksesnya PSR adalah lahan petani clear dari persoalan klaim kawasan hutan, info PSR sampai dan petani didampingi.

"Kami ingin membuat pusat informasi soal PSR, termasuk yang sudah berhasil. Biar petani yang selama ini ragu akan PSR itu, terpecut untuk ikut PSR," kata Gulat.

Rencana ini ditopang pula oleh Disbun Riau yang sudah akan membikin semacam gugus tugas percepatan PSR hingga ke desa-desa.

 

Editor : Aziz

Berita Terkait