Australia Izinkan Ibu dari China Kunjungi Putranya yang Sekarat

Pekanbaru, katakabar.com - Seorang ibu Tionghoa dibebaskan dari larangan perjalanan ke Australia karena wabah virus corona. Ibu ini diizinkan masuk Australia bukan untuk liburan, melainkan demi mengucapkan kata perpisahan terakhir kepada putranya yang sedang sekarat di sebuah rumah sakit di Melbourne.

Rumah Sakit Royal Melbourne menyatakan, Xiao Li mengalami disfungsi otak awal pekan ini setelah mobilnya bertabrakan dengan sebuah truk di Gippsland, negara bagian Victoria pada 27 Januari.

Pria 22 tahun itu bekerja di pertanian di Queensland dan Victoria sejak tiba di Australia dengan visa liburan kerja setahun yang lalu.

Penjabat Menteri Imigrasi Alan Tudge mengumumkan pada Jumat, ibu Li, Xing Lang Ren, akan diizinkan mengunjungi Australia untuk mengucapkan selamat tinggal sebelum dokter melepas semua perangkat pendukung kehidupannya.

Ren telah mengajukan visa turis jalur cepat untuk melihat putranya, kurang dari 72 jam sebelum diberlakukannya larangan bepergian dari China pada 1 Februari.

"Saya senang mengkonfirmasi bahwa ibu dari Xiao Li telah diberikan visa ke Australia," kata Tudge, dikutip dari laman Asia One, Minggu (9/2).

"Pemerintah akan bekerja dengannya selama masa yang sangat sulit ini dan memastikan dia dapat melihat putranya secepat mungkin tanpa membahayakan publik Australia."

Tudge mengatakan para pejabat bekerja dengan Ren, ibu yang tinggal di Qingdao, provinsi Shandong, untuk mengatur perjalanannya ke Australia sesegera mungkin.

Seorang teman Li, Angus Yuan, sebelumnya muncul di radio ABC memohon kepada pemerintah agar "memberi ibunya harapan supaya bisa melihat putranya untuk yang terakhir kalinya".

Sebuah petisi online yang menyerukan pemberian hak istimewa untuk ibu Li juga menarik lebih dari 3.000 tanda tangan.

Perdana Menteri Australia Scott Morrison pada 1 Februari mengumumkan larangan masuknya non-warga negara, tidak termasuk penduduk tetap dan anggota keluarga dekat mereka yang telah melakukan perjalanan di China daratan selama 14 hari terakhir.

Pihak berwenang juga telah mengindikasikan bahwa larangan itu, yang akan ditinjau pada 15 Februari, kemungkinan akan diperpanjang.

Virus corona baru yang mematikan, yang muncul di kota Wuhan di China akhir tahun lalu, telah merenggut 813 nyawa secara global dan menginfeksi sekitar 37,198 orang di China daratan saja sejauh ini. Merdeka

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait