Devisa dari Sektor Pariwisata Diproyeksi Rontok 50 Persen

Katakabar.com - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memproyeksi penerimaan devisa dari sektor pariwisata tahun ini anjlok 50 persen atau US$10 miliar dari posisi 2019 sebesar US$20 miliar. Hal ini terjadi karena industri pariwisata melempem akibat penyebaran virus corona.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio mengatakan proyeksi itu baru hitung-hitungan awal. Menurutnya, bisa saja penurunan devisa dari sektor pariwisata lebih dalam dari prediksi saat ini.

"Devisa kurang lebih tahun lalu US$20 miliar dari pariwisata, mungkin tahun ini bisa (berkurang) separuhnya bahkan lebih dari separuhnya bisa hilang dari devisa pariwisata," ucap Wishnutama dalam video conference, Kamis (16/4).

Jika proyeksi Wishnutama benar-benar terjadi, maka devisa dari sektor pariwisata tahun ini hanya sebesar US$10 miliar atau Rp157 triliun (kurs Rp15.700 per dolar AS). Namun, angka ini masih bisa berubah mengikuti perkembangan virus corona di global dan Indonesia.

Penurunan devisa, sambung Wishnutama, terjadi karena jumlah wisatawan tahun ini diprediksi turun signifikan menjadi hanya 5 juta orang. Padahal, ia bilang tahun lalu jumlahnya mencapai 16 juta wisatawan.

"Jumlah wisatawan kalau tahun lalu 16 juta orang, tahun ini mungkin 5 jutaan wisatawan," imbuh Wishnutama.

Menurut dia, industri pariwisata baru akan bangkit (rebound) tahun depan. Ini karena sektor pariwisata butuh waktu cukup panjang untuk mengembalikan operasional seperti sebelumnya.

"Ini karena harus dikembalikan lagi konektivitasnya, ini contoh ya misal selama ada kasus virus corona jumlah pesawat Garuda Indonesia berkurang, nah ini perlu dikembalikan lagi," jelas Wishnutama.

Proyeksi itu senada dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyatakan bahwa tren pelemahan di industri pariwisata hanya sampai akhir tahun ini. Kemudian, ia optimistis permintaan di sektor tersebut akan kembali menggeliat.

"Optimisme ini yang harus diangkat. Jangan sampai terjebak pada masalah covid-19 ini sehingga booming yang akan muncul setelah covid-19 selesai tidak bisa dimanfaatkan secara baik," ujar Jokowi.  CNN Indonesia

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait