Diduga Kena Kudeta, Presiden Mali Mundur

Katakabar.com - Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita mengumumkan akan mengundurkan diri secepatnya, menurut sebuah pernyataan yang disiarkan televisi nasional ORTM.

Boubacar mengatakan, dia tak punya banyak pilihan untuk mencegah pertumpahan darah dan majelis nasional serta pemerintah sekarang akan dibubarkan.

Tentara menangkap Presiden Boubacar dan Perdana Menteri Boubou Cisse yang diduga sebagai upaya kudeta pada Selasa pagi, menurut Ketua Uni Afrika.

Moussa Faki Mahamat mengecam berita penangkapan tersebut melalui sebuah unggahan di Twitter pada Selasa.

"Saya mengutuk keras penangkapan Presiden Ibrahim Boubacar Keita, Perdana Menteri, dan anggota pemerintah Mali lainnya dan menyerukan pembebasan secepatnya," tulis Mahamat, dikutip dari CNN, Rabu (19/8).

Dia juga menyerukan pemberontak menghentikan penggunaan kekerasan dan meminta komunitas internasional untuk menentang penggunaan kekerasan.

Dewan Keamanan PBB akan menyelenggarakan pertemuan darurat untuk mendiskusikan situasi tersebut pada Rabu, menurut dua diplomat PBB kepada CNN pada Selasa. Perundingan PBB ini diminta Prancis dan Niger, menurut sumber diplomatik. Para sumber tersebut berbicara secara anonim, karena mereka tak memiliki kewenangan berbicara soal masalah tersebut.

Pada Selasa pagi, PM Cisse mengunggah sebuah permintaan kepada tentara di Facebook, meminya militer meletakkan senjata dan terlibat perundingan.

"Pemerintah menyerukan atas alasan dan rasa patriotik dan meminta penggunaan senjata dihentikan. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan dalam perundingan," tulisnya.

Unggahan itu diduga ditulis sebelum muncul laporan penangkapannya.

Kerusuhan di Bamako

Pada Selasa, massa turun ke jalan-jalan di Bamako, mengelilingi monumen kemerdekaan ibu kota negara tersebut. Massa yang mengendarai sepeda motor bersorak atas berita dugaan kudeta, sementara pendukung oposisi merayakannya dengan membawa bendera Mali dan membunyikan terompet.

Di tempat lain, ribuan orang berkumpul di luar kediaman presiden yang dijaga tentara untuk mencegah massa menyerbu masuk. Namun para pengunjuk rasa berhasil memasuki dan menjarah rumah kosong putra presiden, Karim Keita, yang lokasinya berdekatan.

Karim Keita mengundurkan diri pada Juli dari jabatannya sebagai ketua komite pertahanan parlemen di tengah meningkatnya kekerasan dan seruan pengunduran diri ayahnya.

Bangunan milik Menteri Kehakiman Mali juga dijarah dan dibakar.

Kerusuhan di Bamako disusul laporan upaya pemberontakan pada Selasa pagi di kamp militer, 15 kilometer di luar kota, seperti dikonfirmasi ke CNN oleh sumber diplomatik yang telah diinformasikan oleh pejabat lokal. Sumber ini berbicara secara anonim karena tak memiliki kewenangan membicarakan masalah tersebut.

Sumber ini mengatakan, upaya pemberontakan terjadi di Kati, di kamp yang sama di mana kudeta militer yang sukses dilakukan pada 2012.

 

Merdeka.com

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait