Diskes Bengkalis Taja Sosialisasi Reproduksi Calon Pengantin

Bengkalis, katakabar.com - Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis taja sosialisasi kesehatan Reproduksi Calon Pengantin (Kespro Catin), pada Rabu (14/4).

Sosialisasi yang diikuti 49 orang ini sangat penting, sebab sasarannya petugas kesehatan maupun Kantor Urusan Agama (KUA). Mereka menjadi garda terdepan yang menjelaskan pentingnya kesehatan kepada calon pengantin,” kata Kepala Dinas Kesehatan Bengkalis, dr Ersan Saputra, lewat Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Ediyanto, saat membuka acara sosialisasi.

Total 49 peserta yang mengikuti sosialisasi Kespro Catin ini, meliputi Kemenag Bengkalis sebanyak 2 orang, KUA se Kabupaten Bengkalis 11 orang Kepala Puskesmas 18 orang dan Bidan Koordinator 18 orang.

Tujuan dari sosialiasi Kespro Catin ini untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tenaga kesehatan agar bisa bekerja sama dan sinergi dengan Kementerian Agama. Setelah mengikuti sosialisasi Kespro Catin, harapanya pihak-pihak terkait bisa memberikan layanan terbaik bagi calon pengantin.

Kata Ediyanto, sejauh ini kesehatan reproduksi masih menjadi persoalan yang dihadapai, antara lain ditandai dengan masih tingginya Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). 

Meski berbagai intervensi telah dilakukan untuk meningkatkan kesehatan ibu dan bayi, namun hasilnya belum seperti yang diharapkan. Dengan konsep paradigma sehat, maka upaya percepatan penurunan AKI dan AKB harus dilaksanakan, yaitu pada masa sebelum hamil atau prakonsepsi dengan menitik beratkan pada upaya promotif dan preventif. 

Pemberian Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) tentang kesehatan reproduksi kepada calon pengantin sangat penting. Untuk itu, dalam melaksanakan peran tersebut, penyuluhan kesehatan dan penyuluh pernikahan perlu memiliki pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang kesehatan reproduksi.

Hal ini penting, mengingat jelang pernikahan banyak calon pengantin yang tidak mempunyai cukup pengetahuan dan informasi tentang kesehatan reproduksi dalam keluarga. 

Dampaknya, setelah menikah kehamilan sering tidak direncanakan dengan baik, serta tidak didukung status kesehatan yang tidak optimal. Hal ini dapat menimbulkan dampak negatif, seperti adanya resiko penularan penyakit, komplikasi kehamilan, kecacatan bahkan kematian ibu dan bayi, jelasnya.

Editor : Sahdan

Berita Terkait