Dua Koridor Wisata Rohul

Pasir Pengaraian (katakabar)- Pemkab Rokan Hulu (Rohul) sudah membikin Rencana Induk Pariwisata 20 tahun ke depan. Rencana induk itu dibagi dalam dua koridor; wisata alam dan wisata budaya. Dua koridor ini musti ditunjang oleh koridor ekonomi lokal.

Dua hari lalu, dalam Forum Rencana Induk Pembangunan Pariwisata Kabupaten (Riparkab) kabupaten Rohul tahun 2017 yang digelar di kantor Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Rohul, Kepala Bappeda, Nifzar merinci dua koridor tadi di hadapan Deputi Hukum dan Pariwisata Kemenpar RI, Lusi Kusuma Dewi dan Kabid Destinasi Pariwisata Provinsi Riau. Fuad.

‎Nifzar menyebut, untuk pengembangan wisata alam bakal dipusatkan di Kecamatan Rambah, Bangun Purba, Rokan IV kota, Pendalian IV Koto dan kecamatan Tandun. Sebab semua kecamatan ini punya potensi alam yang masih asri.

"Untuk koridor wisata budaya, akan diarahakan ke kecamatan kunto Darussalam, Kepenuhan, Tambusai, Tambusai utara. Kita berharap dengan memaksimalkan dua koridor Wisata ini budaya tetap lestari dan alam Rohul bisa kita manfaatkan untuk kepentingan peningkatan pariwisata," Nifzar berharap.

Ada pun keberadaan Masjid Agung kata Nifzar, bakal menjadi pusat destinasi wisata ‎Rohul tapi hanya pada konteks religi. "Wisata ini akan kita koneksikan dengan wisata alam dan budaya," ujarnya.

Memang kata Nifzar, kendala yang selama ini dihadapi adalah minimnya akses dan ketersediaan infrastruktur. Itulah makanya pihaknya akan berkoordinasi dengan sejumlah OPD terkait seperti Dinas PUPR, Pariwisata, Sosial, koperasi dan masyarakat.

Lalu biar dana-dana pusat bisa "disedot" ke Rohul, Pemkab kata Nifzar bakal segera melengkapi data-data yang diperlukan. "Kita enggak bisa hanya mengandalkan APBD Rohul untuk rencana ini," katanya. 

Makanya kata Nifzar, pihaknya juga akan menselaraskan dokumen dengan ‎dokumen wisata pariwisata Provinsi dan Nasional. "Kalau sudah selaras dengan program provinsi dan nasional, kami yakin pariwisata daerah akan muncul sebagai sumber pemasukan yang mampu menggeser sumber pendapatan lain," tuturnya.

‎Bagi Lusi Kusuma Dewi, jika Rohul menitik beratkan ke destinasi religi sebenarnya sudah cukup bagus. Sebab sampai sekarang icon Rohul ada saat ini masih Islamic center, untuk ke depanya tergantung Pemda kabupaten sendiri. 

Tapi ke depan tergantung Rohul lagi, icon baru apa yang bakal dimunculkan. "Apakah alam dengan mengembangkan miniatur hutan tropis atau yang lain. Tapi itu tadi. Rohul belum punya rekap data, pemetaan dan target wisatawan belum terorganisir. Misalnya soal kondisi industri wisatanya, yang bakal menikmati wisata Rohul itu dari mana saja, usia berapa, mestinya sudah ada," katanya. 

Lusi berharap Rohul segera membikin yang semacam itu. Sebab pemerintah pusat sifatnya memberikan suport. "Biasanya yang ditanyakan pertama kali itu adalah dokumen dan masterplan ‎pengembangan. Kalau itu sudah ada dan kemudian diterbitkan perdanya, berarti sudah menunjukkan sebuah komitmen," katanya. 

Di sisi lain, Fuad menyebut bahwa pariwisata itu milik semua; ada pemerintahnya, swasta, masyarakat dan media. "Kalau semua unsur ini bersinergi, saya yakin pariwisata akan cepat berkembang," katanya.

Wisata akan lekas maju kata Fuad jika semua stakeholder dan OPD bersinergi. "Yang tak kalah penting juga, kita harus menyiapkan masyarakat sadar wisata yang peduli pengembangan pariwisata, yang mengedepankan dan mendahulukan muatan lokal dan budaya lokal," ujarnya.

Riau kaya akan budaya lokal dan kearifan lokal. Ini menjadi satu daya tarik yang luar biasa. Kearifan lokal menjadi keramahtamahan pariwisata yang luar biasa.

"Keramahtamahan ini akan sangat berpengaruh kepada animo investor. Semakin kita welcome dan ramah, akan semakin besar minat investor untuk mau mengembangkan wisata alam dan budaya yang sedang disusun oleh Rohul," pungkasnya. (Adv/hum)

Editor : Aziz

Berita Terkait