Gibran Maju Pilkada, Wajar Publik Menilai Politik Dinasti

Pekanbaru, katakabar.com - Direktur Eksekutif Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Titi Anggaraini menganggap wajar jika publik menyebutkan istilah Dinasti Politik dari majunya Gibran Rakabuming di Pilkada Solo. Sebab, Gibran merupakan putra Presiden Joko Widodo yang saat ini sedang berkuasa.

"Kalau dia (Gibran) kemudian mendapat privilege, maka hal yang wajar bila publik menganggap politik dinasti," ujar Titi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (22/12).

Titi yakin, PDIP sudah mempunyai mekanisme di dalam menjaring kadernya yang bakal maju di Pilkada. Dalam hal ini, dia berharap PDIP tetap mengedepankan hal tersebut agar nantinya Jokowi dicap tengah membangun dinasti politik.

"Apakah PDIP akan memberikan ruang pada Gibran? Tantangan partai sebagai institusi," katanya.

Dia tak menampik, politik dinasti di Tanah Air masih dibungkus hal yang prosedural. Dari kacamatanya, proses internal partai biasanya sekadar formalitas.

"Prosedural kamuflase saja. Politik dinasti biasanya berkelindan dengan pendanaan partai dan dominasi. Kalau dia mengesampingkan, dan menggeser mekanisme yang bekerja di partai tidak salah kalau publik beranggapan politik dinasti," ucap Titi.

Rakyat Nilai Ada Politik Dinasti

Lembaga Survei Median menyatakan majunya putra sulung Presiden Joko Widodo atau Jokowi yakni Gibran Rakabuming Raka dinilai masyarakat sebagai bentuk politik dinasti.

"Jadi sebanyak 41,6 persen itu menyebutkan ada politik dinasti," kata Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Senin (16/12).

Sedangkan sisanya yakni 55,5 persen menyatakan majunya Gibran di Pilkada Solo bukanlah politik dinasti. Rico menyatakan, hal itu akan menjadi bumerang untuk Gibran bila persentase politik dinasti lebih tinggi.

"Kalau sekiranya dinasti politik membesar itu bahkan menemukan momentumnya itu akan mengancam elektabilitas Gibran," ucapnya.

Namun, kata dia, hal tersebut akan berubah bila Gibran dapat meyakinkan masyarakat Solo terkait rencana kepemimpinannya.

"Itu bisa dikembangkan timses Gibran mungkin saja Achmad Purnomo bisa dikalahkan dalam waktu sembilan bulan," jelas Rico.

Jokowi Membantah Politik Dinasti

Presiden Jokowi membantah tengah membangun dinasti politik pasca Gibran dan Bobby maju dalam Pilkada 2020. Jokowi menegaskan tak ikut campur terkait langkah politik keduanya.

"Siapapun punya hak pilih dan dipilih. Ya kalau rakyat enggak memilih gimana. Ini kompetisi bukan penujukan. Beda. Tolong dibedakan," kata Jokowi di Tol Layang Jakarta-Cikampek, Kamis (12/11).

Jokowi mempersilakan Gibran maupun Bobby akan mengikuti sebuah kompetisi yang dipilih secara langsung oleh rakyat. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menyebut semua keputusan ada di tangan rakyat dalam menggunakan suaranya.

"Itu kan sebuah kompetisi. Kompetisi itu bisa menang bisa kalah. Terserah rakyat yang memiliki hak pilih," jelasnya.

Jokowi tak mau berkomentar banyak terkait Gibran yang sudah resmi mendaftarkan diri sebagai bakal calon wali kota Solo ke DPD PDIP Jateng. Menurut dia, hal itu sudah menjadi keputusan sang anak.

"Kan sudah saya sampaikan bolak-balik. Bahwa itu sudah menjadi keputusan. Tanyakan langsung ke anaknya," ucap dia.

 

Editor : Sany Panjaitan

Berita Terkait