Gelar Bundo Kanduang Balon Bupati

IKMR Mandau Sebut di Luar Konteks dan Tak Sesuai AD RT Organisasi

Duri, katakabar.com - Gelar Bundo Kanduang yang disematkan kepada salah satu Bakal Calon Bupati Bengkalis menuai polemik di internal organisasi-organisasi suku Minangkabau di Provinsi Riau, khususnya organisasi Minangkabau yang berdomisili di Duri, Kabupaten Bengkalis.

Polemik gelar Bunda Kanduang yang  diklaim sudah disematkan secara adat kepada salah satu Balon Bupati Bengkalis sepertinya bakal berbuntut panjang panjang.

Soalnya, sejumlah pengurus Ikatan Wanita Minang Riau (IWMR) dan Ikatan Keluarga Minang Riau (IKMR) dari tingkat Provinsi Riau hingga setingkat di bawahnya keberatan akan pemberian gelar itu.

"Gelar yang diberikan dan disematkan kepada salah satu Balon Bupati Bengkalis itu, tidak lewat IKMR. Bahkan proses IKMR tidak tahu menahu, sehingga proses penyematan gelar tidak ada persetujuan dari IKMR," kata Ketua IKMR Kecamatan Mandau, Indra Datuk Maniang kepada katakabar.com saat salah seorang pengurus IWMR, Elidanetti mengkonfrmasi mengenai gelar Bundo Kanduang yang disematkan kepada salah satu Balon Bupati Bengkalis, Belakangan diketahui Kasmarni, pada Senin (21/9) siang.

Ditegaskan Indra Datuk Maniang, sebelum pemberian gelar Bundo Kanduang kepada Kasmarni, tidak ada konfirmasi dan pemberitahuan, diskusi, dan tidak sesuai mekanisme, serta tidak sesuai AD RT organisasi.

"Pemberian gelar Bundo Kanduang kepada Kasmarni selaku Balon Bupati Bengkalis. Itu di luar konteks dan tidak sesuai dengan AD RT organisasi," jelasnya.

Saya mendukung kalau ada protes dari IWMR yang keberatan dengan gelar Bundo Kanduang yang disematkan kepasa Balon Bupati Bengkalis tersebut, tambahnya.

Salah seorang pengurus IWMR, Elidanetti mengatakan, gelar Bundo Kanduang yang disematkan kepada seseorang tanpa lewat proses musyawarah bersama organisasi-organisasi suku Minangkabau yanga ada di Riau, khususnya di Kabupaten Bengkalis, itu kurang elok dan kurang pantas diserahkan kepada yg tidak berkompethen.

"Pemberian gelar Bundo Kanduang khusus Minangkabau, tidak boleh sembarangan disematkan. Apalagi tanpa ikrar itu tidak elok. Layak dan tidak seseorang diberi gelar Bundo Kanduang cukup lama prosesnya dan butuh persyaratan," kata praktisi hukum nasional ini.

Diceritakan Elidanetti, dirinya dan Ketua IKMR Kecamatan Mandau sudah mengkonfirmasi soal gelar Bundo Kanduang yang disematkan kepada salah satu Balon Bupati Bengkalis di Pilkada seranta tahun 2020 di Kabupaten Bengkalis.

"Sekretarias Jenderal IKMR Provinsi Riau, Marjhoni mengaminkan dan sependapat dengan IWMR dan IKMR Kecamatan Mandau. Pemberian gelar Bundo Kanduang kepada salah satu Balon Bupati tak elok dan kurang pantas," bebernya.

Masih Elidanetti, IKMR Riau dan Mandau mesti mendudukkan polemik pemberian gelar Bundo Kanduang bersama ika-ika, khususnya yang ada di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, agar masalah ini tidak berlarut-larut.

"Langkah yang dibuat oleh oknum dan kelompok tertentu sudah mencoreng Bundo Kanduang. Untuk itu letakan sesuatu pada tempatnya biar elok di pandang dan didengar. Bundo Kanduang adalah personifikasi suku bangsa Minangkabau sekaligus julukan yang diberikan kepada perempuan yang memimpin suatu keluarga dalam Minangkabau baik sebagai ratu maupun selaku ibu dari raja (ibu suri)," ulasnya.

Sekedar diketahui, bakal calon Bupati Bengkalis, Kasmarni sudah menyandang gelar Bundo Kanduang jelang Pilkada serentak tahun 2020 ini. Gelar adat itu disematkan oleh Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP), Kecamatan Mandau.

Editor : Sahdan

Berita Terkait